Konten dari Pengguna

Apakah SpongeBob Merupakan Subjek Ideal Neoliberalisme?

Arif Wicaksa

Arif Wicaksa

Dosen Jurusan Hubungan Internasional Universitas Riau

·waktu baca 11 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arif Wicaksa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

SpongeBob SquarePants merupakan karakter kartun yang identik dengan antusiasme kerja, optimisme, dan dedikasi tanpa batas terhadap profesinya sebagai koki di retoran Krusty Krab. Ia sangat mencintai pekerjaannya, menjalankan tugas dengan penuh semangat, dan jarang mempertanyakan struktur hierarkis yang mengatur kehidupan profesionalnya. Karakterisasi SpongeBob ini menghadirkan pertanyaan menarik, yaitu apakah SpongeBob dapat dibaca sebagai representasi subjek ideal neoliberalisme? Dengan menggunakan konsep governmentality Michel Foucault, kritik terhadap neoliberalisme Wendy Brown, serta pemikiran Byung-Chul Han mengenai masyarakat performa, tulisan ini berargumen bahwa SpongeBob memperlihatkan sejumlah karakteristik yang relevan dengan pembentukan subjek neoliberal, terutama kecenderungan mendisiplinkan diri, mengidentifikasi kebahagiaan dengan produktivitas, dan menginternalisasi tuntutan institusional sebagai keinginan pribadi. Namun, pembacaan tersebut tidak berarti bahwa setiap bentuk antusiasme dalam pekerjaan merupakan hasil dominasi ideologis. Kecintaan SpongeBob terhadap pekerjaannya juga dapat dipahami sebagai ekspresi autentik dari pemaknaan personal dan kepuasan kreatif diri sendiri. Oleh karena itu, SpongeBob lebih tepat diposisikan sebagai figur ambivalen yang membantu menjelaskan batas antara kebebasan individual dan pembentukan subjek oleh rasionalitas neoliberal.

Ilustrasi tentang SpongeBob (Sumber foto: https://www.unsplash.com/ Free stock photos)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tentang SpongeBob (Sumber foto: https://www.unsplash.com/ Free stock photos)

Ketika Bekerja Menjadi Sumber Kebahagiaan

Di antara seluruh penghuni Kota Bikini Bottom, SpongeBob SquarePants mungkin merupakan pekerja yang paling antusias. Ia datang ke Krusty Krab setiap hari kerja dengan penuh semangat, memasak Krabby Patty seolah sedang menjalankan panggilan hidup, dan memperlihatkan loyalitas luar biasa terhadap pekerjaannya. Bagi SpongeBob, bekerja bukan sekadar kewajiban untuk memperoleh penghasilan. Pekerjaan merupakan sumber kebahagiaan, identitas, dan makna hidup. Sekilas, tidak ada yang bermasalah dengan karakterisasi tersebut. Bukankah memang masyarakat justru membutuhkan orang-orang yang mencintai pekerjaannya? Bukankah antusiasme, dedikasi, dan kreativitas merupakan kualitas positif?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi lebih rumit ketika kita memasuki wilayah teori sosial. Bagaimana jika kecintaan terhadap pekerjaan tidak hanya mencerminkan kebebasan individu, tetapi juga menunjukkan keberhasilan suatu sistem dalam membentuk manusia yang secara sukarela memenuhi tuntutan sistem itu?Di sinilah perspektif neoliberalisme menjadi relevan.

Neoliberalisme sering dipahami sebagai doktrin ekonomi yang menekankan mekanisme pasar, kompetisi, dan pembatasan intervensi negara. Namun, dalam kajian kritis kontemporer, neoliberalisme juga dianalisis sebagai rasionalitas yang melampaui sekedar kebijakan ekonomi. Ia dapat membentuk cara individu dalam memahami dirinya, menilai keberhasilan, dan mengelola kehidupannya. Melalui perspektif tersebut, SpongeBob menghadirkan sebuah paradoks. Ia tampak sebagai pekerja yang bebas karena mencintai pekerjaannya, tetapi kecintaannya juga membuatnya hampir tidak pernah mempertanyakan dunia kerja yang menaunginya.

Foucault dan Governmentality: Seni Mengatur Diri Sendiri

Konsep pertama yang dapat digunakan untuk membaca perilaku karakter SpongeBob adalah governmentality, yang dikembangkan oleh Michel Foucault dalam karya-karyanya mengenai pemerintahan dan politik rasionalitas politik, terutama karyanya Security, Territory, Population dan The Birth of Biopolitics.

Menurut pemikiran Foucault, kekuasaan modern tidak selalu bekerja melalui perintah langsung, hukuman, atau larangan. Kekuasaan juga dapat berjalan dengan membentuk cara individu dalam memahami dirinya, mengarahkan perilakunya, dan mengatur kehidupannya sendiri. Dengan kata lain, kekuasaan tidak hanya membuat atau memaksa seseorang melakukan sesuatu. Kekuasaan juga dapat membentuk perilaku individu yang menganggap tindakan atau perbuatan yang dilakukannya sebagai pilihan yang wajar, bahkan sebagai bagian dari identitasnya. SpongeBob memperlihatkan karakteristik yang menarik dalam kerangka ini. SpongeBob tidak membutuhkan ancaman dari Tuan Krabs untuk menjalankan pekerjaannya dengan antusias. Sebaliknya, ia mendisiplinkan dirinya sendiri. Ia ingin menjadi koki yang baik, merasa bangga ketika berhasil memasak Krabby Patty, dan memperoleh kepuasan dari pelaksanaan tugas-tugasnya.

Krusty Krab tidak harus terus-menerus memaksakan etos kerja kepada SpongeBob karena etos tersebut telah menjadi bagian dari dirinya. Di sini, kita dapat membayangkan sebuah bentuk pengaturan diri yang membuat pengawasan eksternal tidak selalu diperlukan. SpongeBob menjadi pekerja yang mengarahkan dirinya sendiri sesuai dengan standar yang ia anggap bermakna.

Namun, sangat penting untuk membedakan fenomena governmentality dari manipulasi sederhana. Tidak semua individu yang rajin merupakan korban kekuasaan, dan tidak semua kebiasaan disiplin menunjukkan dominasi neoliberal. Konsep Foucault membantu kita mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar yaitu bagaimana suatu tatanan sosial membentuk jenis individu tertentu, termasuk individu yang secara sukarela menjalankan norma-normanya? Dalam kasus SpongeBob, pertanyaannya bukan apakah ia dipaksa mencintai pekerjaannya. Pertanyaannya adalah bagaimana pekerjaan dapat menjadi bagian yang begitu penting dari identitasnya sehingga kepatuhan terhadap rutinitas kerja sekaligus terasa sebagai realisasi diri.

SpongeBob sebagai Subjek Neoliberal

Dalam karyanya yang berjudul Undoing the Demos, Wendy Brown menganalisis neoliberalisme sebagai rasionalitas yang memperluas logika ekonomi ke berbagai bidang kehidupan. Individu semakin dipahami dan dimaknai melalui bahasa modal manusia, investasi diri, daya saing, dan peningkatan nilai personal. Dalam kerangka tersebut, seseorang tidak sekadar bekerja untuk memperoleh penghasilan. Ia juga didorong untuk terus mengembangkan dirinya, meningkatkan kompetensi, dan memandang kehidupannya sebagai proyek yang harus dikelola secara optimal.

SpongeBob memang tidak secara eksplisit mengejar kenaikan gaji, promosi, atau keuntungan finansial. Karena itu, ia tidak dapat begitu saja disamakan dengan individu yang mengejar maksimalisasi modal manusia. Namun, karakternya menyediakan analogi yang menarik mengenai bagaimana produktivitas dapat menjadi bagian dari identitas personal. SpongeBob ingin menjadi koki terbaik. Ia memandang keterampilan memasak sebagai sesuatu yang harus terus dipelihara, dipraktikkan, dan diwujudkan melalui pekerjaan. Ia tidak hanya menjalankan fungsi sebagai pekerja, tetapi juga menemukan harga diri melalui kemampuannya menjalankan fungsi tersebut. Pekerjaan menjadi arena pembuktian diri.

Di sinilah pembacaan neoliberal memperoleh relevansinya dengan karakter SpongeBob. Subjek yang produktif tidak selalu membutuhkan imbalan material sebagai satu-satunya motivasi. Pengakuan, kepuasan, dan identitas juga dapat menjadi mekanisme yang mendorong seseorang untuk terus bekerja. Akan tetapi, ada perbedaan penting dan mendasar antara SpongeBob dan subjek neoliberal dalam pengertian ekonomi-politik yang lebih ketat. SpongeBob tidak selalu memperlihatkan obsesi terhadap kompetisi, penghitungan nilai diri, atau investasi strategis pada masa depan. Ia bahkan tampak puas dengan pekerjaan yang sama. Karena itu, SpongeBob lebih tepat dibaca sebagai analogi terbatas mengenai internalisasi etos produktivitas daripada sebagai representasi lengkap manusia neoliberal. Yang menarik bukanlah bahwa SpongeBob sekedar bekerja keras, melainkan bahwa pekerjaan tampak menyatukan antara kewajiban ekonomi, kesenangan personal, dan identitas dirinya dalam satu pengalaman yang sulit dipisahkan.

Byung-Chul Han: Ketika Eksploitasi Menjadi Sukarela

Jika Foucault membantu menjelaskan bagaimana individu mengatur dirinya sendiri, Byung-Chul Han memberikan sudut pandang lain mengenai tekanan produktivitas dalam masyarakat kontemporer. Dalam karyanya yang berjudul The Burnout Society, Han membahas pergeseran dari masyarakat disipliner menuju masyarakat performa. Jika masyarakat disipliner terutama beroperasi melalui larangan dan kewajiban, masyarakat performa menekankan kemampuan, pencapaian, dan dorongan untuk terus melampaui batas diri. Individu tidak lagi hanya mendengar bahwa ia harus bekerja. Ia juga belajar mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa ia mampu bekerja lebih keras, menjadi lebih baik, dan mencapai lebih banyak hal.

Menurut Han, mekanisme ini dapat menghasilkan bentuk eksploitasi diri yaitu individu menjadi pelaku sekaligus pihak yang menanggung akibat dari tuntutan performanya sendiri. Lantas apakah SpongeBob memperlihatkan gejala serupa? Dalam banyak situasi, SpongeBob tidak memandang pekerjaan sebagai beban yang harus ditanggung. Ia justru menginginkan lebih banyak kesempatan untuk memasak, meningkatkan kemampuannya, dan menunjukkan dedikasi kepada Krusty Krab dan Tuan Krabs. Dorongan untuk bekerja datang bukan semata-mata dari atasannya, melainkan juga dari dirinya sendiri. Dalam pembacaan kritis, keadaan ini dapat digunakan untuk menggambarkan bagaimana produktivitas menjadi efektif ketika individu tidak lagi merasakan tuntutan eksternal sebagai sesuatu yang sepenuhnya asing.

Akan tetapi, ada persoalan penting yang tidak boleh diabaikan yaitu SpongeBob tidak secara konsisten memperlihatkan penderitaan, kelelahan, atau krisis identitas yang menjadi perhatian utama Han dalam karyanya. Ia justru sering menikmati aktivitasnya. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa SpongeBob mengalami eksploitasi diri hanya karena ia bekerja dengan antusias.

Perbedaan antara kebebasan dan eksploitasi tidak dapat ditentukan berdasarkan jumlah jam kerja atau tingkat semangat semata. Kita juga perlu mempertimbangkan apakah individu memiliki kemampuan untuk menetapkan batas, menolak tuntutan, dan menjalani kehidupan di luar produktivitas. Pertanyaan kritis dalam bahasan ini menjadi lebih tajam yaitu jika seseorang benar-benar mencintai aktivitas yang juga menguntungkan institusi tempatnya bekerja, dalam kondisi apa kecintaan tersebut menjadi bentuk kebebasan, dan dalam kondisi apa ia dapat dimanfaatkan sebagai mekanisme dominasi? Karakter SpongeBob tidak memberikan jawaban tunggal. Justru ambiguitas itulah yang membuatnya relevan bagi teori sosial.

Tuan Krabs dan Kapitalisasi atas Kebahagiaan

Hubungan SpongeBob dengan Tuan Krabs membawa pembahasan ini ke persoalan ekonomi-politik. Tuan Krabs merupakan pemilik Restoran Krusty Krab, sedangkan SpongeBob bekerja sebagai koki. Keduanya memiliki posisi yang berbeda dalam organisasi bisnis. Krabs mengendalikan usaha, sementara SpongeBob menjalankan pekerjaan yang membuat restoran tersebut beroperasi. Dalam hubungan ini, antusiasme SpongeBob menghasilkan manfaat ekonomi bagi Krusty Krab. Ia memasak dengan tekun, mempertahankan kualitas produk, dan memberikan tenaga serta keterampilannya untuk kelangsungan bisnis. Namun, kita perlu berhati-hati sebelum menyimpulkan bahwa Krabs secara langsung mengeksploitasi kecintaan SpongeBob terhadap pekerjaan. Serial SpongeBob tidak menyediakan informasi yang cukup mengenai keseluruhan kondisi kerja, struktur upah, atau pembagian nilai ekonomi untuk membuktikan klaim itu secara empiris. Meski demikian, hubungan antara SpongeBob dan Tuan Krabs memungkinkan kita mengajukan pertanyaan yang lebih luas tentang bagaimana organisasi bekerja, apakah institusi memperoleh keuntungan tambahan ketika pekerja menemukan kebahagiaan dan identitas dalam pekerjaan mereka? Dalam konteks tertentu, antusiasme pekerja memang dapat meningkatkan kualitas hasil kerja dan mengurangi kebutuhan akan pengawasan. Bisa dikatakan bahwa kepuasan personal dapat berjalan beriringan dengan kepentingan organisasi. Hal ini tidak selalu buruk. Hubungan kerja yang memberi ruang bagi kreativitas, penghargaan, dan kesejahteraan dapat menguntungkan kedua belah pihak.

Masalah muncul ketika kecintaan terhadap pekerjaan digunakan untuk membenarkan tuntutan yang tidak adil, mengaburkan ketimpangan kekuasaan, atau membuat pekerja merasa bersalah ketika menetapkan batas. Di sinilah SpongeBob dapat menjadi perangkat analogi analitis yang berguna. Ia membantu kita untuk membedakan antara pekerjaan yang bermakna dan situasi ketika makna personal dimanfaatkan untuk memperkuat tuntutan institusional.

Kebahagiaan pekerja tidak otomatis membuktikan bahwa hubungan kerjanya adil. Sebaliknya, adanya ketimpangan kekuasaan juga tidak berarti bahwa seluruh kebahagiaan pekerja merupakan ilusi. Kedua hal itu dapat hadir secara bersamaan.

Melawan Romantisasi Produktivitas

Ada satu bahaya dalam membaca SpongeBob melalui teori kritis yaitu menganggap semua bentuk kerja keras sebagai tanda dominasi ideologis. Kesimpulan semacam itu justru akan terlalu menyederhanakan persoalan kompleks yang ingin dijelaskan. SpongeBob memiliki kecintaan yang konsisten terhadap kegiatan memasak. Ia menikmati keterampilannya dan menemukan makna diri melalui aktivitas yang dilakukannya. Tidak ada alasan untuk menganggap pengalaman tersebut sepenuhnya palsu hanya karena pekerjaannya menghasilkan keuntungan bagi Tuan Krabs.

Dalam perspektif yang lebih seimbang, kita harus membedakan tiga hal: produktivitas, kepatuhan, dan eksploitasi. Produktivitas adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu. Kepatuhan berkaitan dengan kesediaan mengikuti aturan atau tuntutan. Sedangkan eksploitasi, dalam analisis ekonomi-politik, menyangkut hubungan sosial yang memungkinkan pihak tertentu mengambil manfaat dari aktivitas pihak lain dalam kondisi yang tidak setara. Ketiganya dapat saling berhubungan, tetapi tidak identik.

Seseorang bisa produktif tanpa mengalami eksploitasi. Seseorang juga bisa mencintai pekerjaannya sekaligus berada dalam hubungan kerja yang tidak adil. Demikian pula, menolak produktivitas bukan jaminan kebebasan. Individu yang tidak bekerja dapat tetap bergantung pada struktur ekonomi yang tidak ia kendalikan. Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan apakah SpongeBob terlalu rajin, melainkan apakah ia memiliki kebebasan substantif untuk menentukan bagaimana ia bekerja, kapan ia berhenti, dan bagaimana ia menjalani kehidupannya di luar pekerjaan? Pembahasan ini juga membuka ruang untuk mengkritik budaya yang mengukur nilai manusia berdasarkan kinerja. Kehidupan seseorang tidak seharusnya dianggap kurang bermakna hanya karena ia tidak produktif secara ekonomi. Manusia memiliki kebutuhan untuk istirahat, hubungan sosial, kreativitas, dan waktu luang yang tidak selalu dapat diukur berdasarkan kontribusinya terhadap pasar. Dalam pengertian ini, kritik terhadap neoliberalisme bukanlah ajakan untuk membenci pekerjaan. Ia merupakan ajakan untuk mempertanyakan mengapa pekerjaan sering kali memperoleh posisi yang begitu dominan dalam menentukan harga diri manusia.

Kesimpulan

Apakah SpongeBob merupakan subjek ideal neoliberalisme? Jawabannya bergantung pada bagaimana kita memahami konsep tersebut. Jika yang dimaksud adalah individu yang mendisiplinkan diri, menemukan identitas dalam pekerjaan, dan menjalankan tuntutan institusional dengan antusias, SpongeBob memang memperlihatkan sejumlah karakteristik yang relevan dengan neoliberalisme. Melalui konsep governmentality Foucault, kita dapat memahami bagaimana pengaturan diri menjadi bagian dari mekanisme kekuasaan. Melalui kritik Wendy Brown, kita dapat mempertanyakan bagaimana produktivitas dan nilai personal saling berhubungan. Sementara itu, Byung-Chul Han membantu kita melihat kemungkinan ketika dorongan untuk terus berkinerja berubah menjadi eksploitasi diri. Namun, SpongeBob tidak sepenuhnya cocok dengan gambaran subjek neoliberal yang senantiasa mengejar daya saing, mengoptimalkan modal manusia, dan mengukur dirinya berdasarkan keberhasilan pasar dan pencapaian ekonomi. Ia juga merupakan individu yang memperoleh kesenangan autentik dari keterampilan dan pekerjaannya. Karena itu, menyebut SpongeBob sebagai korban neoliberalisme secara mutlak akan mengabaikan kompleksitas karakter tersebut.

Pelajaran yang lebih penting justru terletak pada ambiguitasnya. Kecintaan terhadap pekerjaan dapat menjadi sumber kebebasan sekaligus membuka celah kemungkinan bagi pemanfaatan oleh institusi. Perbedaan keduanya tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan seberapa bahagia seseorang ketika bekerja. Pada akhirnya, dalam masyarakat yang semakin menekankan produktivitas, pengembangan diri, dan performa, kita perlu bertanya apakah pekerjaan masih menjadi sarana untuk menjalani kehidupan yang bermakna atau justru perlahan-lahan menjadi ukuran utama untuk menentukan nilai dari kehidupan itu sendiri.

Mainan anak (Sumber foto: https://www.unsplash.com/ Free stock photos)

SpongeBob mungkin bukan seorang neoliberal, tetapi ia membantu kita membayangkan paradoks subjek neoliberal yaitu individu yang merasa paling bebas ketika melakukan sesuatu yang sekaligus membuat dirinya semakin berguna bagi sistem. Dan mungkin pertanyaan yang paling layak kita ajukan bukanlah mengapa SpongeBob begitu mencintai pekerjaannya, melainkan apakah kita masih dapat membayangkan kehidupan yang bermakna ketika pekerjaan tidak lagi menjadi pusat dari segala sesuatu.