Belajar Ilmu Hubungan Internasional dari Zombie

Dosen Jurusan Hubungan Internasional Universitas Riau
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Arif Wicaksa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Zombie biasanya dikenal sebagai makhluk fiksi dalam film horor yang memangsa manusia dan mengancam keberlangsungan hidup masyarakat. Dalam budaya populer, kemunculan zombie biasanya sering digambarkan sebagai awal dari kehancuran peradaban manusia ketika manusia harus berjuang mempertahankan diri di tengah runtuhnya tatanan sosial politik dan ekonomi. Namun, bagaimana jika zombie tidak hanya dipahami sebagai objek hiburan, melainkan juga sebagai sarana ilustrasi untuk mempelajari politik internasional? Pertanyaan inilah yang menjadi pintu masuk bagi Daniel W. Drezner dalam bukunya Theories of International Politics and Zombies: Revived Edition (2015).

Melalui pendekatan yang unik dan tidak lazim, Drezner mengajak pembaca membayangkan bagaimana negara, organisasi internasional, dan aktor politik lainnya merespons ancaman serangan zombie. Skenario tersebut pada dasarnya digunakan untuk menguji bagaimana teori-teori Hubungan Internasional (HI) menjelaskan perilaku aktor politik seperti negara dll dalam menghadapi krisis. Dengan demikian, buku ini bukan sedang membicarakan kemungkinan terjadinya kiamat zombie, melainkan memperlihatkan bagaimana teori Hubungan Internasional dapat digunakan untuk memahami persoalan keamanan, kerja sama, kekuasaan, dan pengambilan keputusan.
Dalam tulisan ini, Drezner berargumen bahwa zombie dapat menjadi instrumen analogi untuk pembelajaran yang efektif dalam memahami ilmu Hubungan Internasional karena skenario tersebut memperjelas asumsi dasar berbagai teori, menunjukkan kompleksitas perilaku negara, serta mengingatkan bahwa setiap teori memiliki keterbatasan dalam menjelaskan realitas politik global.
Zombie sebagai Eksperimen Pemikiran dalam Hubungan Internasional
Salah satu hal menarik dari pendekatan Drezner adalah penggunaan skenario fiktif untuk membahas persoalan akademik. Invasi zombie menjadi semacam eksperimen pemikiran: pembaca diajak membayangkan sebuah ancaman yang melampaui batas negara dan kemudian mempertanyakan bagaimana sistem internasional akan meresponsnya. Jika wabah zombie menyebar secara global, maka negara-negara harus menentukan apakah akan bekerja sama, melindungi wilayahnya sendiri, atau memprioritaskan kepentingan nasional masing-masing.
Skenario tersebut relevan bagi kajian HI karena sistem internasional tidak memiliki satu pemerintahan dunia yang dapat memaksakan semua keputusan kepada negara berdaulat. Dalam kondisi demikian, respons terhadap ancaman bersama tidak selalu menghasilkan kerja sama yang bersifat otomatis. Negara memiliki kepentingan, kapasitas, dan pertimbangan politik yang berbeda-beda. Bahkan ketika menghadapi bahaya yang sama, mereka dapat memiliki pandangan yang berbeda mengenai siapa yang harus bertindak, bagaimana sumber daya digunakan dan dibagikan, dan siapa yang menanggung biaya penanganan krisis.
Melalui analogi zombie, Drezner menunjukkan bahwa teori HI bukan sekadar kumpulan definisi yang perlu dihafalkan semata. Teori merupakan kerangka analitis untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi perilaku aktor internasional. Dengan membayangkan situasi ekstrem, maka pembaca diharapkan dapat melihat lebih jelas bagaimana asumsi sebuah teori menghasilkan penjelasan tertentu mengenai politik dunia.
Teori Realisme: Ketika Kelangsungan Hidup Menjadi Prioritas
Dalam teori realisme, negara merupakan aktor paling penting yang berupaya mempertahankan kelangsungan hidup dan keamanan dalam sistem internasional yang anarkis. Anarki dalam konteks ini bukan berarti kekacauan tanpa aturan, melainkan ketiadaan otoritas tertinggi yang dapat menjamin keamanan seluruh negara. Karena itu, negara harus memperhitungkan kemampuan sendiri dan kemungkinan ancaman dari lingkungan internasional.
Jika wabah zombie menyebar, pendekatan realisme akan mengarahkan perhatian pada tindakan negara untuk melindungi wilayah, penduduk, dan kepentingan nasionalnya sendiri. Pemerintah mungkin menutup perbatasan, mengerahkan militer, mengamankan persediaan pangan, atau membatasi perpindahan manusia. Negara juga dapat berhati-hati dalam memberikan bantuan apabila bantuan tersebut dianggap mengurangi kemampuan mereka menghadapi ancaman domestik.
Dalam skenario ini, kerja sama internasional tetap mungkin terjadi, tetapi tidak selalu terlepas dari perhitungan kepentingan nasional. Negara dapat berbagi informasi atau teknologi apabila tindakan tersebut meningkatkan peluang bertahan hidupnya sendiri. Sebaliknya, persaingan dapat muncul ketika sumber daya terbatas atau ketika pemerintah mencurigai negara lain akan memanfaatkan krisis untuk memperbesar pengaruhnya.
Pelajaran penting dari teori realisme adalah bahwa ancaman bersama tidak serta-merta menghapus persaingan antarnegara. Namun, perspektif ini juga tidak berarti bahwa semua negara pasti egois atau menolak kerja sama. Realisme membantu menjelaskan mengapa pertimbangan keamanan dan kekuasaan dapat membatasi solidaritas internasional, sekaligus mengingatkan bahwa keputusan negara sering dipengaruhi oleh kekhawatiran mengenai kelangsungan hidup negara itu sendiri.
Teori Liberalisme: Pentingnya Kerja Sama dan Institusi Internasional
Berbeda dari penekanan realisme pada persaingan dan keamanan, teori liberalisme memberikan perhatian lebih besar pada kemungkinan kerja sama internasional. Meskipun negara memiliki kepentingan masing-masing, mereka dapat membangun institusi, menyepakati aturan, dan mengembangkan mekanisme koordinasi untuk mencapai tujuan bersama.
Dalam menghadapi invasi zombie, negara-negara tidak harus bertindak sendiri-sendiri. Mereka dapat membangun sistem pertukaran informasi mengenai penyebaran wabah, menyelaraskan protokol kesehatan, melakukan penelitian bersama, serta mengoordinasikan bantuan kemanusiaan. Organisasi internasional dapat membantu menyediakan informasi, memfasilitasi negosiasi, dan mengurangi kesulitan koordinasi di antara negara-negara.
Teori liberalisme juga mengingatkan bahwa ancaman yang melintasi batas negara sering kali tidak dapat ditangani secara efektif melalui kebijakan nasional semata. Negara yang berhasil mengendalikan wabah di wilayahnya tetap dapat menghadapi risiko apabila wabah terus menyebar di negara lain. Karena itu, kepentingan nasional dalam situasi tertentu justru dapat mendorong kerja sama internasional.
Meskipun demikian, keberadaan institusi tidak menjamin keberhasilan secara otomatis. Kerja sama masih dapat terhambat oleh ketimpangan sumber daya, perbedaan prioritas negara, dan ketidakpercayaan. Dengan demikian, analogi zombie memperlihatkan bahwa institusi internasional memiliki potensi untuk membantu negara mengatasi masalah bersama, tetapi efektivitasnya bergantung pada kemauan politik dan kondisi yang melingkupinya.
Teori Konstruktivisme: Bagaimana Ancaman Dibentuk oleh Gagasan dan Norma
Teori Konstruktivisme memperluas analisis dengan menekankan bahwa politik internasional tidak hanya dibentuk oleh kekuatan material, tetapi juga oleh identitas, norma, dan gagasan. Cara aktor memahami suatu situasi dapat memengaruhi kepentingan yang mereka anggap penting dan tindakan yang mereka pilih.
Dalam dunia zombie, pemerintah dapat memandang zombie semata-mata sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Namun, masyarakat lain mungkin memperdebatkan apakah zombie memang merupakan ancaman biologis, persoalan kemanusiaan, atau fenomena yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Perbedaan pemaknaan tersebut dapat menghasilkan kebijakan yang berbeda, bahkan ketika aktor menghadapi situasi yang secara material serupa.
Perspektif ini juga membantu menjelaskan bagaimana suatu kelompok dapat diberi label sebagai ancaman. Label tersebut bukan sekadar deskripsi, sebab label itu dapat memengaruhi legitimasi penggunaan kekuatan, pembatasan hak, dan perlakuan terhadap kelompok tertentu. Oleh karena itu, analisis tidak cukup hanya menanyakan seberapa besar ancaman yang dihadapi, tetapi juga bagaimana ancaman itu didefinisikan, oleh siapa, dan dengan konsekuensi apa.
Melalui teori konstruktivisme, zombie menjadi sarana untuk memahami bahwa respons politik tidak sepenuhnya ditentukan oleh keberadaan bahaya fisik. Norma dan pemaknaan sosial turut membentuk cara negara dan masyarakat menanggapi ancaman.
Melampaui Negara: Politik Domestik dan Birokrasi
Pembahasan Drezner tidak berhenti pada perdebatan antara teori realisme, liberalisme, dan konstruktivisme. Ia juga menyoroti politik domestik, birokrasi, dan psikologi manusia. Dimensi-dimensi ini penting karena kebijakan luar negeri tidak selalu lahir dari keputusan negara yang sepenuhnya terpadu dan rasional.
Dalam situasi krisis zombie, misalnya, kementerian kesehatan mungkin mengutamakan pengendalian wabah, sementara militer memprioritaskan keamanan wilayah. Pemerintah daerah dapat memiliki kebutuhan yang berbeda dari pemerintah pusat. Pada saat yang sama, para pemimpin politik harus mempertimbangkan opini publik, kepentingan kelompok, serta kemungkinan dampak kebijakan terhadap legitimasi pemerintah. Birokrasi juga dapat menghadapi keterbatasan informasi, persaingan kewenangan, dan koordinasi yang buruk. Akibatnya, kebijakan yang dihasilkan belum tentu merupakan respons paling efektif terhadap ancaman. Kepanikan, prasangka, dan kesalahan penilaian manusia dapat memperumit situasi tersebut.
Pembahasan ini menunjukkan bahwa memahami politik internasional memerlukan perhatian terhadap proses di dalam negara, bukan hanya hubungan antara negara. Keputusan internasional terbentuk melalui interaksi berbagai aktor dan institusi yang memiliki kepentingan, kemampuan, serta persepsi berbeda.
Relevansi bagi Dunia Nyata dan Keterbatasan Analogi Zombie
Nilai pembelajaran dari buku Drezner dapat diterapkan pada persoalan nyata, termasuk pandemi, krisis kemanusiaan, dan ancaman keamanan lintas batas. Pandemi COVID-19, misalnya, memperlihatkan pentingnya koordinasi internasional sekaligus keberadaan kepentingan domestik dalam penentuan kebijakan. Negara membutuhkan pertukaran informasi dan kerja sama ilmiah, tetapi juga menghadapi tekanan untuk mengamankan pasokan serta melindungi penduduknya sendiri.
Namun, analogi zombie tidak boleh diperlakukan sebagai gambaran yang sepenuhnya setara dengan krisis nyata. Zombie merupakan konstruksi fiksi dengan karakteristik yang bergantung pada cerita yang digunakan. Sementara itu, pandemi dan konflik internasional memiliki penyebab, konteks historis, serta konsekuensi sosial yang kompleks. Analogi dapat membantu mengajukan pertanyaan, tetapi tidak dapat menggantikan bukti empiris. Selain itu, teori-teori HI tidak selalu memberikan penjelasan yang saling meniadakan. Realisme, liberalisme, konstruktivisme, dan pendekatan lainnya dapat menyoroti aspek berbeda dari satu peristiwa. Tantangan dalam memahami Ilmu Hubungan Internasional bukan memilih satu teori untuk semua persoalan, melainkan memahami asumsi setiap teori dan menilai sejauh mana teori tersebut membantu menjelaskan kasus yang sedang dikaji.
Kesimpulan
Theories of International Politics and Zombies: Revived Edition menunjukkan bahwa mempelajari Hubungan Internasional tidak harus selalu dimulai dari persoalan diplomasi atau konflik yang rumit. Melalui skenario zombie, Drezner mengajak pembaca memahami bagaimana teori dapat digunakan untuk menganalisis perilaku negara, kerja sama internasional, pembentukan ancaman, politik domestik, dan proses pengambilan keputusan.
Realisme membantu menjelaskan pentingnya keamanan dan kepentingan nasional. Liberalisme menunjukkan peluang kerja sama melalui institusi. Sedangkan konstruktivisme menyoroti peran identitas, norma, dan gagasan dalam membentuk respons politik. Pembahasan politik domestik dan birokrasi selanjutnya mengingatkan bahwa kebijakan internasional juga dipengaruhi oleh proses internal negara dan keterbatasan manusia. Pada akhirnya, pelajaran utama dari buku ini bukanlah bagaimana bertahan hidup ketika zombie menyerang, melainkan bagaimana berpikir kritis tentang politik dunia. Teori HI berguna bukan karena mampu memberikan jawaban pasti terhadap setiap persoalan, tetapi karena membantu kita menyusun pertanyaan, mengidentifikasi asumsi, dan membandingkan penjelasan secara sistematis. Dengan demikian, belajar dari zombie berarti belajar melihat bahwa di balik setiap ancaman global terdapat persoalan kekuasaan, kepentingan, kerja sama, dan pemaknaan yang menjadi inti kajian Hubungan Internasional.
