Konten dari Pengguna

Dari Alienasi Kerja Hingga Kesadaran Kelas: Apakah Squidward Penganut Marxisme?

Arif Wicaksa

Arif Wicaksa

Dosen Jurusan Hubungan Internasional Universitas Riau

·waktu baca 9 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
9
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arif Wicaksa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Squidward Tentacles merupakan salah satu karakter yang sangat menarik dalam serial animasi SpongeBob SquarePants. Di tengah lingkungan kerja yang monoton, atasan yang eksploitatif, dan tetangga yang mengganggu, Squidward memimpikan kehidupan sebagai seniman yang dihargai secara sosial. Squidward membenci pekerjaannya sebagai kasir di Krusty Krab, mengeluhkan kondisi hidupnya, dan berulang kali berusaha membebaskan diri dari rutinitas yang mengekang. Situasi tersebut menimbulkan pertanyaan, apakah Squidward dapat dipahami sebagai representasi subjek Marxis? Dengan menggunakan pemikiran Karl Marx, terutama konsep alienasi, eksploitasi, kesadaran kelas, dan ideologi, tulisan ini berargumen bahwa Squidward merupakan figur yang mengalami kontradiksi kapitalisme tanpa sepenuhnya mengembangkan kesadaran revolusioner. Ia menyadari ketidakpuasan dalam kehidupan kerjanya, tetapi cenderung menafsirkan penderitaannya sebagai kegagalan individual, bukan sebagai konsekuensi dari struktur ekonomi-politik. Ambisinya umtuk menjadi seniman juga memperlihatkan ketegangan antara aspirasi pembebasan manusia dan hasrat untuk memperoleh pengakuan dalam hierarki sosial. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Squidward bukanlah seorang Marxis dalam pengertian ideologis, melainkan figur tragis yang memperlihatkan bagaimana kapitalisme dapat menghasilkan individu yang membenci sistemnya, tetapi tetap terperangkap dalam logika yang menopangnya.

Ilustrasi tentang Squidward (Sumber foto: https://www.unsplash.com/ Free stock photos)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tentang Squidward (Sumber foto: https://www.unsplash.com/ Free stock photos)

Seniman yang Terjebak di Tempat Kerja

Di antara penghuni Bikini Bottom, Squidward Tentacles mungkin merupakan karakter yang paling sering memperlihatkan ketidakpuasan terhadap kehidupan sehari-hari. Ia bekerja sebagai kasir di Krusty Krab, memiliki hubungan buruk dengan atasannya, Eugene H. Krabs atau Tuan Krabs dan terus-menerus merasa terganggu oleh tetangganya SpongeBob serta Patrick. Di luar pekerjaannya, Squidward memimpikan kehidupan sebagai seniman, terutama musisi dan pelukis, yang memperoleh pengakuan dan penghargaan atas bakatnya. Akan tetapi, impian tersebut berulang kali berbenturan dengan kenyataan. Squidward tetap berada dalam pekerjaan yang dibencinya, sementara karya seninya jarang mendapatkan pengakuan sebagaimana yang ia harapkan. Ia menginginkan kebebasan, tetapi tidak mampu membangun kehidupan yang sepenuhnya terlepas dari struktur sosial-ekonomi yang membatasinya. Situasi ini menghadirkan pertanyaan yang menarik bagi kajian Hubungan Internasional, maupun Ilmu Politik, apakah Squidward merupakan representasi manusia yang mengalami kontradiksi kapitalisme sebagaimana dijelaskan Karl Marx?

Dalam karyanya yang berjudul Economic and Philosophic Manuscripts of 1844, Marx menjelaskan bahwa pekerja dalam masyarakat kapitalis dapat mengalami alienasi, yakni keterasingan dari produk yang dihasilkan, proses kerja, hakikat kemanusiaannya, dan sesama manusia. Sementara itu, dalam karyanya yang lain berjudul Capital, Marx menganalisis bagaimana produksi kapitalis dibangun melalui hubungan antara pemilik alat produksi dan pekerja yang menjual tenaga kerjanya. Dengan menggunakan kerangka tersebut, Squidward dapat dibaca bukan sekadar sebagai karakter pemarah yang tidak menyukai pekerjaannya, melainkan sebagai figur yang memperlihatkan kontradiksi antara kebutuhan untuk bertahan hidup dan keinginan untuk menjalani kehidupan yang bermakna. Namun, mengalami penindasan tidak otomatis menjadikan seseorang menjadi Marxis. Untuk memahami posisi Squidward, kita perlu membedakan antara ketidakpuasan individual, kesadaran kelas, dan tindakan politik yang berorientasi pada perubahan struktural.

Alienasi Kerja: Ketika Pekerjaan Menjadi Penjara

Konsep pertama yang relevan untuk membaca Squidward adalah alienasi. Bagi Marx, persoalan mendasar dalam kapitalisme bukan sekadar bahwa seseorang harus bekerja keras. Persoalannya adalah bahwa hubungan sosial dalam produksi dapat membuat pekerja kehilangan kendali atas aktivitas kerja yang dilakukannya. Kerja, yang seharusnya menjadi sarana manusia mengekspresikan kreativitas dan kemampuannya, justru berubah menjadi aktivitas eksternal yang dilakukan sekedar demi memenuhi kebutuhan hidup. Pengalaman Squidward di Krusty Krab memperlihatkan kontradiksi tersebut. Ia menjalankan tugas sebagai kasir, melayani pelanggan, dan mengikuti rutinitas pekerjaan yang tampaknya tidak memberikan kepuasan personal. Pekerjaan tersebut tidak berhubungan langsung dengan cita-citanya menjadi seniman. Sebaliknya, waktu dan energinya terserap dalam aktivitas yang dianggapnya membosankan. Dalam perspektif Marxis, keadaan ini dapat dibaca sebagai bentuk alienasi dari proses kerja. Squidward tidak sepenuhnya mengendalikan aktivitas produktifnya berdasarkan kebutuhan kreatif atau tujuan hidup yang ia pilih sendiri. Ia harus menyesuaikan diri dengan organisasi kerja yang berorientasi pada keberlangsungan bisnis dan keuntungan Krusty Krab.

Di sinilah letak tragedinya, Squidward ingin menggunakan hidupnya untuk menciptakan karya seni, tetapi justru menghabiskan sebagian besar waktunya dalam pekerjaan yang tidak memberinya kepuasan. Meski demikian, kita tidak boleh secara otomatis menyamakan ketidakpuasan kerja dengan alienasi dalam pengertian Marx. Konsep alienasi memiliki dimensi filosofis dan sosial yang lebih luas daripada sekadar kebosanan dan perasaan bosan. Dalam kasus Squidward, alienasi menjadi alat analisis untuk memahami pertentangan antara potensi kreatif manusia dan kondisi material yang membatasi realisasinya. Dengan demikian, masalah Squidward bukan semata-mata bahwa ia memiliki pekerjaan yang buruk atau tidak memuaskan, melainkan bahwa ia kesulitan mengubah pekerjaannya menjadi aktivitas yang bermakna bagi dirinya.

Tuan Krabs dan Eksploitasi Tenaga Kerja

Jika Squidward mewakili pekerja yang tidak puas, Eugene H. Krabs dapat dibaca sebagai representasi pemilik modal. Tuan Krabs memiliki Krusty Krab, mengendalikan organisasi kerja, dan memperoleh keuntungan dari penjualan produk yang dihasilkan melalui aktivitas para pekerjanya. Sementara itu, Squidward menerima upah untuk menjalankan tugasnya sebagai kasir. Hubungan ini mengingatkan kita pada analisis Marx mengenai relasi antara kapital dan tenaga kerja.

Dalam karyanya Capital, Marx menjelaskan bahwa eksploitasi kapitalis berkaitan dengan apropriasi nilai lebih yang dihasilkan pekerja. Secara sederhana, pekerja menciptakan nilai melalui proses produksi, sementara pemilik modal menguasai hasil produksi dan memperoleh keuntungan dalam hubungan ekonomi yang memungkinkan terjadinya akumulasi kapital. Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan, kita tidak memiliki cukup informasi mengenai struktur biaya, nilai yang dihasilkan Squidward, dan besaran upahnya untuk menyimpulkan secara empiris bahwa Tuan Krabs telah mengeksploitasinya dalam pengertian teknis Marxian. Yang dapat kita lakukan adalah membaca hubungan mereka sebagai ilustrasi ketimpangan kekuasaan di tempat kerja. Tuan Krabs memiliki kendali lebih besar atas organisasi bisnis, sedangkan Squidward bergantung pada pekerjaannya untuk memperoleh pendapatan.

Ketimpangan tersebut menjadi semakin menarik ketika kita membandingkan Squidward dengan SpongeBob. SpongeBob menjalankan pekerjaannya dengan antusiasme yang luar biasa. Ia menganggap memasak Krabby Patty sebagai panggilan hidup, bahkan ketika lingkungan kerjanya tidak selalu ideal. Squidward, sebaliknya, memandang pekerjaannya sebagai beban. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa dominasi dalam dunia kerja tidak selalu berlangsung melalui paksaan langsung. Ia juga dapat beroperasi melalui pembentukan sikap dan preferensi individu terhadap pekerjaan. SpongeBob telah menginternalisasi nilai-nilai tempat kerjanya sedemikian rupa sehingga kepentingan Krusty Krab tampak sejalan dengan kebahagiaan SpongeBob sendiri. Squidward tidak sepenuhnya menerima integrasi tersebut. Akan tetapi, ketidakpuasan Squidward belum berkembang menjadi perlawanan kolektif. Ia lebih sering mengeluh, menghindari tanggung jawab, atau membayangkan kehidupan alternatif daripada mengorganisasi pekerja untuk mengubah kondisi kerja. Dalam pengertian ini, Squidward memperlihatkan ketegangan antara kesadaran akan penderitaan dan kemampuan mengubah struktur yang memproduksinya.

Kesadaran Kelas: Mengapa Squidward Tidak Melakukan Revolusi?

Dalam pemikiran Marx, perubahan sosial tidak cukup dijelaskan melalui keberadaan ketimpangan ekonomi. Persoalan penting lainnya adalah bagaimana individu memahami posisi mereka dalam hubungan produksi dan mengembangkan kemampuan bertindak secara kolektif. Pembedaan antara class-in-itself dan class-for-itself, yang berkembang dalam tradisi Marxis dan sering dikaitkan dengan pembahasan kelas dalam karya Marx yang berjudul The Poverty of Philosophy, membantu menjelaskan persoalan ini. Secara sederhana, class-in-itself merujuk pada kelompok yang memiliki posisi objektif dalam hubungan produksi. Sementara itu, class-for-itself merujuk pada kelompok yang mulai mengenali kepentingan bersama dan bertindak sebagai kekuatan politik. Squidward dapat ditempatkan secara analogis dalam posisi pekerja yang mengalami ketidakpuasan, tetapi belum mengembangkan kesadaran kelas yang kuat. Squidward sadar bahwa Tuan Krabs sering bertindak demi kepentingannya sendiri. Squidward juga menyadari bahwa pekerjaannya tidak memberinya kehidupan yang diinginkan. Akan tetapi, kesadarannya cenderung berhenti pada pengalaman individual. Squidward jarang mengidentifikasi masalahnya sebagai bagian dari persoalan yang juga dialami pekerja lain. Squidward tidak membangun solidaritas pekerja, tidak mengorganisasi tuntutan bersama, dan tidak secara konsisten mempertanyakan kepemilikan Tuan Krabs atas alat produksi.

Alih-alih mengubah hubungan kerja, Squidward berusaha keluar dari situasi tersebut melalui keberhasilan personal. Di sinilah ambisinya menjadi seniman memperoleh makna politis. Squidward membayangkan bahwa kehidupan akan menjadi lebih baik ketika bakatnya diakui, status sosialnya meningkat, dan dirinya memperoleh penghargaan yang menurutnya pantas. Kebebasan dibayangkan sebagai keberhasilan individual, bukan sebagai perubahan hubungan sosial yang mengekang banyak orang.

Namun, apakah aspirasi individual selalu bertentangan dengan Marxisme Tidak sepenuhnya. Marx tidak mengharuskan manusia untuk meninggalkan seluruh aspirasi personal. Kritiknya diarahkan pada hubungan sosial yang membatasi perkembangan manusia dan menjadikan aktivitas hidup tunduk pada kepentingan akumulasi kapital. Masalah Squidward terletak bukan pada keinginannya menjadi seniman, melainkan pada kecenderungannya memandang pengakuan individual sebagai jalan utama menuju pembebasan. Squidward ingin mengubah posisinya dalam masyarakat, tetapi tidak menunjukkan keinginan yang konsisten untuk mengubah struktur masyarakat itu sendiri.

Ideologi dan Tragedi Borjuis Kecil

Posisi Squidward juga dapat dibaca melalui konsep ideologi dan kritik terhadap individualisme. Squidward membenci pekerjaannya, tetapi tidak sepenuhnya mempertanyakan norma sosial yang menentukan keberhasilan. Ia menginginkan penghargaan, prestise, dan pengakuan atas keunggulan artistiknya. Dengan kata lain, Squidward menolak sebagian pengalaman hidupnya tanpa sepenuhnya menolak hierarki nilai yang berlaku di lingkungannya. Di sinilah muncul kemungkinan pembacaan Squidward sebagai figur yang memiliki aspirasi menyerupai kelas menengah, yaitu ia mendambakan otonomi, status, dan pengakuan berdasarkan kemampuan individual. Namun, menyebutnya sebagai anggota borjuis kecil dalam pengertian Marxis harus dilakukan dengan hati-hati. Kategori kelas ditentukan oleh hubungan seseorang dengan alat produksi dan posisi dalam struktur ekonomi, bukan semata-mata oleh selera artistik atau ambisi sosial. Karena serial SpongeBob SquarePants tidak menyediakan informasi ekonomi yang memadai, label itu lebih tepat digunakan sebagai analogi daripada klasifikasi kelas yang pasti.

Sebagai analogi, Squidward memperlihatkan kontradiksi subjek yang menolak kedudukan sosialnya sekarang, tetapi masih mengukur keberhasilan melalui standar prestise yang disediakan masyarakat. Ia ingin keluar dari kehidupan yang dianggap rendah, tetapi tetap menginginkan pengakuan dari dunia yang membuatnya merasa rendah. Kondisi ini menghasilkan tragedi yang unik, Squidward tidak puas menjadi pekerja, tetapi juga belum menemukan cara untuk membebaskan dirinya dari ketergantungan pada pengakuan sosial. Kegagalan Squidward tidak dapat dijelaskan semata-mata sebagai akibat kapitalisme, sebab karakterisasi, pilihan personal, dan konteks komedi juga jelas sangat berperan. Namun, pembacaan Marxis membantu menunjukkan bahwa aspirasi individual tidak selalu cukup untuk mengatasi hambatan struktural.

Kesimpulan

Apakah Squidward merupakan penganut ajaran Marxisme Jawabannya, tidak dalam pengertian ideologis, tetapi ia merupakan figur yang dapat dibaca melalui sejumlah persoalan mendasar dalam teori Marx. Pengalamannya di Krusty Krab menggambarkan potensi alienasi dalam hubungan kerja. Hubungannya dengan Tuan Krabs memperlihatkan ketimpangan kekuasaan antara pekerja dan pemilik usaha. Ketidakpuasannya mengungkap jarak antara kesadaran akan penderitaan dan pembentukan kesadaran kelas. Sementara itu, ambisinya sebagai seniman menunjukkan bagaimana aspirasi pembebasan dapat terperangkap dalam pencarian pengakuan individual.

Squidward bukan seorang revolusioner. Ia tidak mengajukan kritik sistematis terhadap kepemilikan alat produksi, tidak mengembangkan solidaritas kelas, dan tidak membangun proyek perubahan sosial. Ia lebih menyerupai pekerja yang menyadari bahwa hidupnya tidak berjalan sebagaimana mestinya, tetapi belum mampu menghubungkan penderitaan personalnya dengan struktur ekonomi-politik yang lebih luas. Meski demikian, justru di situlah relevansi Squidward bagi pembacaan Marxis. Squidward memperlihatkan bahwa kapitalisme tidak harus menghasilkan individu yang mencintai pekerjaannya. Sistem tersebut dapat terus berlangsung bahkan ketika pekerjanya membenci rutinitas, mengkritik atasannya, dan memimpikan kehidupan alternatif yang lebih baik. Ketidakpuasan individual tidak dengan sendirinya mengancam struktur timpang yang ada selama ia tidak berkembang menjadi kesadaran kolektif dan tindakan yang mengubah hubungan sosial.

Poster serial SpongeBob SquarePants (Sumber foto: https://www.unsplash.com/ Free stock photos)

Pada akhirnya, tragedi Squidward bukan sekadar bahwa ia gagal menjadi seniman terkenal. Tragedinya adalah bahwa ia terus mencari kebebasan melalui pengakuan individual, sementara kondisi yang membatasi kehidupannya tetap bertahan. Squidward bukanlah seorang Marxis, tetapi ia adalah gambaran pekerja yang memiliki cukup kesadaran untuk membenci sistem, namun belum cukup kesadaran kelas untuk mengubah sistem tersebut.