Membaca Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Lewat Perspektif Konstruktivisme

Dosen Jurusan Hubungan Internasional Universitas Riau
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Arif Wicaksa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sastra tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai sarana untuk memahami dinamika sosial, kebudayaan, dan kekuasaan. Melalui tokoh, konflik, dan alur cerita, sebuah karya sastra dapat merepresentasikan bagaimana nilai serta norma masyarakat memengaruhi kehidupan individu. Salah satu karya yang memperlihatkan persoalan tersebut adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Buya Hamka, yang pertama kali diterbitkan sebagai cerita bersambung pada 1938 sebelum akhirnya dibukukan pada 1939. Novel ini mengisahkan cinta Zainuddin dan Hayati yang terhalang oleh adat dan penilaian sosial terhadap asal-usul seseorang. Meskipun sering dibaca sebagai kisah tentang tragedi percintaan, cerita tersebut juga mengandung kritik terhadap struktur sosial yang menentukan kedudukan dan penerimaan individu di tengah masyarakat. Tulisan singkat ini berargumen bahwa novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck merepresentasikan bagaimana identitas kelompok dan norma sosial dapat menjadi instrumen eksklusi serta mempertahankan relasi kekuasaan. Melalui perspektif konstruktivisme dalam Hubungan Internasional (HI), konflik para tokohnya dapat digunakan untuk memahami bagaimana identitas dan norma membentuk batas penerimaan sosial, sekaligus membatasi kebebasan individu.

Konflik Adat dan Identitas dalam Novel
Zainuddin merupakan tokoh yang mengalami keterasingan akibat latar belakang keluarganya dan dirinya sendiri. Ia memiliki hubungan keturunan dengan Minangkabau melalui ayahnya, sementara ibunya berasal dari Makassar. Ketika berusaha membangun kehidupan dan menjalin hubungan dengan Hayati, Zainuddin diharuskan menghadapi penilaian masyarakat yang mempertanyakan asal-usul serta kedudukannya. Keinginannya untuk menikahi Hayati ditolak oleh keluarga dan pemangku adat karena ia tidak dianggap memiliki kedudukan sosial yang sesuai dengan penilaian mereka.
Konflik tersebut menunjukkan bahwa identitas seseorang tidak selalu ditentukan oleh pengakuan pribadinya sendiri. Identitas juga dibentuk melalui persepsi dan penilaian kelompok yang memiliki kewenangan menetapkan siapa yang dianggap layak menjadi bagian dari masyarakat dan siapa pula yang tidak. Dalam novel ini, asal-usul Zainuddin menjadi dasar penilaian terhadap kelayakannya sebagai pasangan Hayati. Dengan demikian, persoalan percintaan berkembang menjadi persoalan penerimaan sosial dan legitimasi adat.
Hayati pun sejatinya tidak sepenuhnya bebas untuk menentukan pilihannya. Keputusan mengenai perkawinannya juga dipengaruhi oleh keluarga, norma sosial, dan pertimbangan kedudukan di masyarakatnya. Pada akhirnya, ia menikah dengan Aziz, yang dianggap lebih sesuai dengan harapan masyarakat. Tragedi ini memperlihatkan bahwa keputusan personal ternyata dapat dikalahkan oleh struktur sosial yang lebih luas.
Identitas dan Eksklusi Sosial sebagai Relasi Kekuasaan
Salah satu persoalan utama yang dapat dianalisis dari novel ini adalah fenomena eksklusi sosial, yakni proses ketika seseorang dibatasi akses dan pergerakannya terhadap penerimaan, kedudukan, atau kesempatan karena menyandang identitas tertentu. Zainuddin tidak semata-mata dinilai berdasarkan karakter, kemampuan, atau perasaannya terhadap Hayati. Ia juga dinilai berdasarkan asal-usul dan posisinya dalam struktur sosial masyarakat dimana dia berada. Hal ini memperlihatkan bahwa kategori identitas dapat menjadi dasar untuk membedakan mana individu yang diterima dan mana yang disisihkan.
Dalam konteks cerita, adat berfungsi bukan hanya sebagai pedoman untuk perilaku, tetapi juga sebagai sumber legitimasi bagi keputusan sosial. Ketika aturan adat digunakan untuk menolak Zainuddin, keputusan tersebut memperoleh kekuatan dan pembenaran karena dianggap mewakili kepentingan dan nilai kolektif masyarakat. Akibatnya, ketidaksetaraan dapat dipertahankan tanpa harus selalu diwujudkan melalui kekerasan fisik. Tekanan sosial, penilaian moral, dan kewenangan keluarga sudah cukup untuk membatasi pilihan individu. Namun, kritik terhadap praktik adat dalam novel ini tidak harus dimaknai sebagai penolakan terhadap seluruh kebudayaan Minangkabau. Adat dapat berfungsi menjaga solidaritas, kesinambungan nilai, dan keteraturan masyarakat. Persoalan muncul ketika penerapan norma mengabaikan keadilan serta martabat individu. Karena itu, kritik Hamka lebih produktif dibaca sebagai bentuk pertanyaan mengenai batas legitimasi tradisi yakni sampai sejauh mana norma kolektif dapat menentukan kehidupan pribadi seseorang?
Dimensi kekuasaan juga terlihat dalam posisi Hayati. Meskipun menjadi tokoh sentral dalam konflik percintaan, ruang geraknya juga dibatasi oleh ekspektasi keluarga dan masyarakat. Pilihan perkawinan tidak sepenuhnya menjadi keputusan otonom dari Hayati. Situasi ini juga menunjukkan bahwa norma sosial dapat menghasilkan dampak berbeda bagi individu berdasarkan kedudukan dan peran gendernya. Dengan demikian, tragedi dalam novel bukan hanya akibat persoalan kegagalan cinta, melainkan juga konsekuensi dari distribusi kewenangan yang tidak seimbang.
Relevansi dengan Konstruktivisme dalam Hubungan Internasional
Konstruktivisme merupakan perspektif teoritik HI yang menekankan peran gagasan, identitas, dan norma dalam membentuk perilaku aktor. Alexander Wendt menjelaskan bahwa struktur sosial dalam politik internasional tidak hanya terbentuk oleh kemampuan material, tetapi juga oleh nilai, makna dan hubungan sosial yang dibangun antar pelaku. Teori ini membantu menunjukkan bahwa tindakan dan kepentingan tidak dapat dipahami sepenuhnya tanpa memperhatikan konteks sosial yang membentuknya.
Gagasan konstruktivisme dapat digunakan untuk membaca konflik dalam novel Buya Hamka. Kedudukan Zainuddin sebagai orang yang dianggap masyarakat tidak memiliki asal-usul yang sesuai bukan sekadar fakta biologis, melainkan hasil penafsiran sosial terhadap identitasnya. Demikian pula, kelayakan Aziz sebagai pasangan Hayati terbentuk melalui penilaian masyarakat mengenai status dan kepantasannya. Identitas dan norma, dengan demikian, memiliki konsekuensi yang nyata karena mempengaruhi keputusan serta hubungan antartokoh.
Dalam kajian HI, mekanisme serupa dapat membantu menjelaskan bagaimana identitas nasional, norma internasional, dan kategori keanggotaan mempengaruhi hubungan antarnegara. Suatu negara dapat diperlakukan berbeda berdasarkan identitas yang dilekatkan kepadanya, sedangkan norma internasional dapat menentukan perilaku yang dianggap sah atau menyimpang. Seperti dalam novel, penilaian tersebut tidak selalu netral karena dapat mencerminkan hubungan kekuasaan dan kepentingan kelompok tertentu. Meskipun demikian, analogi ini memiliki keterbatasan. Masyarakat adat dalam novel bukanlah sistem internasional, dan relasi keluarga tidak identik dengan hubungan antarnegara. Novel ini jelas tidak boleh diperlakukan sebagai bukti langsung mengenai perilaku negara. Sebaliknya, karya Buya Hamka menyediakan bahan refleksi untuk memahami mekanisme sosial yang lebih luas yaitu mengenai identitas yang dibentuk melalui interaksi, norma memperoleh legitimasi melalui penerimaan kolektif, dan keduanya dapat memengaruhi distribusi kekuasaan. Pendekatan lintas disiplin ini memperlihatkan bagaimana sastra dapat memperkaya pemahaman HI mengenai dimensi sosial politik.
Sastra sebagai Kritik terhadap Tatanan Sosial
Kekuatan novel ini juga terletak pada kemampuannya menghadirkan konsekuensi manusiawi dari norma yang kaku. Melalui tragedi percintaan Zainuddin dan Hayati, Buya Hamka menunjukkan bahwa kadangkala, keteraturan sosial tidak selalu identik dengan keadilan. Sebuah norma mungkin diterima secara luas, tetapi penerimaan tersebut tidak otomatis menjadikannya adil bagi setiap individu. Karena itu, legitimasi sosial perlu dibedakan dari legitimasi moral.
Bagi kajian HI, pembacaan dan pemaknaan novel ini relevan karena politik internasional juga melibatkan perdebatan mengenai siapa yang diakui, norma mana yang dianggap sah, dan kelompok mana yang memiliki kewenangan untuk menentukan aturan. Sastra membantu pembaca melihat bahwa di balik persepsi dan norma terdapat manusia yang mengalami dampak konkret dari penerapannya. Dengan demikian, karya sastra dapat menjadi ruang untuk menguji secara kritis hubungan antara identitas, legitimasi, dan keadilan.
Kesimpulan
Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dapat dibaca sebagai kritik terhadap struktur sosial yang menjadikan identitas dan norma adat sebagai dasar penerimaan individu. Melalui konflik Zainuddin dan Hayati, Buya Hamka memperlihatkan bahwa norma yang dilegitimasi masyarakat pada titik tertentu bisa membatasi kebebasan personal serta mempertahankan ketimpangan kekuasaan. Perspektif konstruktivisme dalam HI membantu menjelaskan bagaimana identitas dan norma dibentuk secara sosial dan menghasilkan konsekuensi nyata. Walaupun konteks novel berbeda dari politik internasional, karya ini menunjukkan manfaat sastra dalam memahami dimensi sosial kekuasaan. Pada akhirnya, novel tersebut mengajak pembaca mempertanyakan apakah suatu tatanan layak dipertahankan hanya karena diwariskan, atau justru perlu dievaluasi berdasarkan keadilan dan penghormatan terhadap martabat manusia.
