Konten dari Pengguna

Membangun Negara Impian: Pemimpin yang Baik atau Sistem Politik yang Baik?

Arif Wicaksa

Arif Wicaksa

Dosen Jurusan Hubungan Internasional Universitas Riau

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arif Wicaksa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika suatu negara menghadapi permasalahan korupsi, ketimpangan sosial dan ekonomi, atau pemerintahan yang dianggap gagal, masyarakat sering kali menaruh harapan pada kemunculan seorang pemimpin baru yang akan membebaskan mereka dari permasalahan tersebut. Pergantian kepemimpinan dipandang sebagai jalan menuju perubahan, seolah-olah berbagai persoalan negara dapat diselesaikan apabila kekuasaan berada di tangan orang yang tepat. Pemimpin yang jujur, tegas, dan visioner kemudian dibayangkan sebagai sosok yang mampu membawa negara keluar dari krisis. Namun, harapan tersebut memunculkan pertanyaan mendasar yaitu apakah persoalan negara benar-benar terletak hanya pada siapa yang memimpin, atau justru pada sistem yang mengatur bagaimana kekuasaan dijalankan?

Foto sidang parlemen suatu negara. (Sumber foto: https://www.unsplash.com/ Fre stock photos)
zoom-in-whitePerbesar
Foto sidang parlemen suatu negara. (Sumber foto: https://www.unsplash.com/ Fre stock photos)

Pertanyaan di atas membawa kita pada salah satu persoalan klasik dalam pemikiran politik, yaitu hubungan antara kualitas individu yang memerintah dan institusi yang membatasi, mengarahkan dan menjalankan kekuasaan. Pada satu sisi, kepemimpinan memang memiliki peran penting dalam menentukan arah kebijakan dan kehidupan politik. Di sisi lain, pemerintahan tidak berlangsung dalam ruang kosong. Artinya, setiap pemimpin bekerja dalam sistem, tatanan aturan, norma, dan struktur kekuasaan yang dapat mendukung ataupun menghambat tindakan dari pemimpin. Oleh karena itu, persoalan mengenai pemimpin yang baik atau sistem yang baik tidak seharusnya dipahami sebagai pilihan dikotomis yang mutlak antara keduanya. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana suatu tatanan politik dapat menghasilkan pemerintahan yang baik tanpa menggantungkan seluruh keberhasilannya pada kualitas pribadi satu individu. Untuk memahami persoalan ini, pemikiran Plato, Aristoteles, dan Montesquieu dapat memberikan landasan filosofis yang relevan.

Pemimpin yang Baik dan Harapan terhadap Individu

Dalam sejarah pemikiran politik, gagasan bahwa kualitas penguasa menentukan kualitas pemerintahan dapat ditemukan dalam pemikiran Plato. Dalam karyanya yang berjudul Republic, Plato membahas hubungan antara keadilan, pengetahuan, dan pemerintahan yang baik. Ia mengajukan gagasan tentang filsuf-raja, yakni penguasa yang memiliki pengetahuan tentang kebaikan dan mampu menggunakan pengetahuan tersebut untuk mengarahkan negara secara adil. Bagi Plato, pemerintahan yang baik tidak cukup didasarkan pada keinginan atau kepentingan pribadi penguasa. Kekuasaan seharusnya dijalankan oleh mereka yang memahami apa yang benar dan baik bagi kehidupan bersama. Dengan demikian, kualitas moral dan intelektual pemimpin menjadi unsur penting dalam mewujudkan keadilan politik.

Gagasan Plato ini memperlihatkan mengapa masyarakat dapat menaruh harapan besar pada pemimpin tertentu. Ketika pemerintahan dianggap gagal, muncul keinginan untuk menemukan individu yang lebih bijaksana, berintegritas, dan mampu mengambil keputusan demi kepentingan umum. Pergantian pemimpin kemudian dipandang sebagai kesempatan untuk memperbaiki arah negara. Namun, gagasan Plato juga mengundang pertanyaan kritis. Bagaimana kita memastikan bahwa seseorang benar-benar memiliki pengetahuan tentang kebaikan? Siapa yang menentukan bahwa seorang penguasa bertindak demi kepentingan bersama, bukan demi kepentingannya sendiri? Bahkan apabila seorang pemimpin memiliki niat baik, apakah niat tersebut saja cukup untuk menjamin bahwa seluruh keputusan politiknya akan menghasilkan kebaikan? Persoalan ini menunjukkan keterbatasan pendekatan yang terlalu mengandalkan kualitas individu. Penilaian terhadap karakter pemimpin tidak selalu mudah, sedangkan kekuasaan memberikan kesempatan bagi seseorang untuk memengaruhi kehidupan banyak orang. Ketika pemerintahan terlalu bergantung pada kebijaksanaan satu individu, kesalahan individu tersebut dapat membawa konsekuensi yang luas. Dengan demikian, gagasan tentang pribadi pemimpin yang baik tetap penting untuk diperhatikan, tetapi belum cukup untuk menjelaskan bagaimana pemerintahan yang baik dapat dipertahankan secara berkelanjutan.

Dari Kualitas Penguasa menuju Kualitas Tatanan Politik

Jika pemikiran Plato membantu kita memahami pentingnya kualitas penguasa, Aristoteles menawarkan cara pandang yang lebih luas mengenai hubungan antara pemerintahan, hukum, dan tatanan politik.

Dalam karyanya yang berjudul Politics, Aristoteles tidak hanya membahas siapa yang seharusnya memerintah, tetapi juga mempertanyakan bentuk pemerintahan yang memungkinkan kehidupan bersama berlangsung dengan baik. Aristoteles membedakan bentuk pemerintahan berdasarkan siapa yang memegang kekuasaan dan apakah kekuasaan tersebut dijalankan demi kepentingan bersama atau kepentingan penguasa sendiri. Pemikiran ini penting karena menggeser perhatian dari karakter pribadi individu semata menuju tujuan dan susunan pemerintahan. Kualitas politik tidak hanya sekadar ditentukan oleh identitas penguasa, tetapi juga oleh bagaimana kekuasaan digunakan dan untuk kepentingan siapa kekuasaan itu dijalankan.

Aristoteles juga membahas pentingnya hukum dalam penyelenggaraan pemerintahan. Persoalan politik bukan sekadar menemukan orang yang bijaksana, melainkan juga membangun tatanan yang memungkinkan kehidupan bersama diarahkan menuju kebaikan. Dengan kata lain, pemerintahan yang baik memerlukan lebih dari sekadar kualitas personal penguasa. Dari perspektif ini, kita dapat mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar, jika sebuah negara hanya mampu berfungsi dengan baik ketika dipimpin oleh seseorang yang luar biasa, apakah tatanan politiknya sudah cukup baik?

Pertanyaan tersebut memperlihatkan persoalan mengenai ketergantungan pada figur. Apabila keberhasilan pemerintahan sepenuhnya bergantung pada integritas seorang pemimpin, keberhasilan itu berisiko menghilang ketika kepemimpinan berganti. Sebaliknya, apabila aturan dan institusi mampu menjaga pertanggungjawaban, menyediakan mekanisme pengawasan, serta mengoreksi penyalahgunaan kekuasaan, kualitas pemerintahan tidak harus bergantung sepenuhnya pada karakter individu yang sedang menjabat. Meskipun demikian, harus dipahami juga bahwa hal ini tidak berarti bahwa hukum dan institusi otomatis menghasilkan pemerintahan yang baik. Aturan dapat dirancang secara tidak adil, diterapkan secara selektif, atau digunakan untuk melindungi kepentingan kelompok tertentu. Karena itu, persoalannya bukan sekadar keberadaan aturan, melainkan kualitas aturan dan cara penerapannya.

Montesquieu dan Pentingnya Pembatasan Kekuasaan

Persoalan mengenai keterbatasan pemimpin menjadi semakin penting ketika kita mempertimbangkan pemikiran Montesquieu. Dalam karyanya The Spirit of the Laws, Montesquieu membahas hubungan antara hukum, bentuk pemerintahan, dan struktur kekuasaan. Salah satu gagasannya yang paling berpengaruh adalah mengenai pemisahan kekuasaan, khususnya pemisahan fungsi legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Gagasan Montesquieu tersebut berangkat dari persoalan mendasar bahwa kekuasaan yang tidak dibatasi dapat membuka peluang terjadinya penyalahgunaan kekuasaan. Bahkan ketika seseorang memperoleh kekuasaan melalui prosedur yang sah, hal itu tidak dengan sendirinya menjamin bahwa kekuasaan tersebut akan selalu digunakan secara bertanggung jawab. Karena itu, pemerintahan memerlukan pengaturan kelembagaan yang mencegah penumpukan kekuasaan pada satu tangan. Pembagian kewenangan dan mekanisme pengawasan memungkinkan kekuasaan diperiksa serta dibatasi oleh kekuasaan lainnya. Tujuannya bukan menghilangkan kepemimpinan, melainkan menciptakan kondisi agar penggunaan kekuasaan tidak sepenuhnya bergantung pada kehendak pribadi penguasa.

Pemikiran Montesquieu membantu menjelaskan perbedaan antara berharap mendapatkan pemimpin yang tidak menyalahgunakan kekuasaan dan membangun sistem yang membatasi peluang penyalahgunaan kekuasaan. Keduanya bukan hal yang sama. Harapan pertama bergantung pada karakter individu, sedangkan harapan kedua berusaha menciptakan mekanisme yang tetap relevan meskipun individu yang berkuasa berubah. Namun, pembatasan kekuasaan juga memiliki persoalan tersendiri. Pembagian kewenangan dapat menimbulkan kebuntuan politik, sementara lembaga pengawas tidak selalu menjalankan fungsinya secara efektif. Oleh sebab itu, keberadaan institusi tidak boleh dipahami sebagai jaminan otomatis atas pemerintahan yang baik. Institusi politik yang ada perlu didukung oleh aturan yang memadai, pelaksanaan yang konsisten, dan aktor politik yang bersedia mempertanggungjawabkan tindakannya. Meskipun demikian, pemikiran Montesquieu memperlihatkan bahwa pertanyaan mengenai kualitas pemerintahan tidak dapat dipisahkan dari pertanyaan mengenai bagaimana kekuasaan disusun dan dibatasi.

Melampaui Pertentangan antara Pemimpin dan Sistem

Pemikiran Plato, Aristoteles, dan Montesquieu memperlihatkan bahwa persoalan pemimpin yang baik atau sistem yang baik memiliki beberapa dimensi. Plato menekankan pentingnya kebijaksanaan penguasa, Aristoteles mengarahkan perhatian pada tujuan dan susunan pemerintahan, sedangkan Montesquieu menunjukkan pentingnya pembatasan kekuasaan melalui pengaturan kelembagaan. Ketiganya tidak harus dibaca sebagai pemikir yang menawarkan jawaban tunggal yang sama untuk satu permasalahan. Mereka hidup dalam konteks sejarah yang berbeda dan mengembangkan gagasan dengan tujuan yang tidak sepenuhnya sama. Namun, pemikiran mereka dapat digunakan bersama untuk memahami bahwa kualitas pemerintahan berkaitan dengan karakter individu sekaligus tatanan politik tempat individu tersebut menjalankan kekuasaan.

Pemimpin yang berintegritas dapat mendorong reformasi, memperbaiki kebijakan, dan membangun institusi yang lebih efektif. Sebaliknya, sistem yang dirancang dengan baik dapat membatasi penyalahgunaan kekuasaan, menyediakan mekanisme koreksi, dan menjaga kesinambungan pemerintahan ketika terjadi pergantian kepemimpinan.

Hubungan pemimpin dan sistem politik bersifat timbal balik. Pemimpin dipengaruhi oleh institusi, tetapi juga dapat mengubahnya. Institusi membatasi tindakan pemimpin, tetapi efektivitasnya turut bergantung pada orang-orang yang menjalankannya. Oleh karena itu, tidak cukup menyatakan bahwa sistem selalu lebih penting daripada pemimpin, sebagaimana tidak cukup pula menganggap bahwa pemimpin yang baik dapat menyelesaikan seluruh persoalan negara. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana membangun tatanan politik yang memungkinkan kualitas kepemimpinan berkembang tanpa menjadikan negara terlalu bergantung pada individu tertentu. Pemerintahan yang baik bukanlah pemerintahan yang tidak membutuhkan pemimpin berkualitas, melainkan pemerintahan yang menggabungkan kepemimpinan dengan aturan, pengawasan, dan pertanggungjawaban.

Kesimpulan

Perdebatan mengenai pemimpin yang baik atau sistem yang baik pada akhirnya mengajak kita meninjau kembali cara memahami kekuasaan politik. Harapan terhadap pemimpin yang berintegritas dan bijaksana merupakan bagian penting dari kehidupan politik, tetapi harapan tersebut tidak cukup untuk menjamin pemerintahan yang adil dan berkelanjutan. Karakter individu memiliki batas, sedangkan kekuasaan yang tidak dibatasi dapat membawa konsekuensi luas yang cenderung buruk bagi masyarakat. Pemikiran Plato, Aristoteles, dan Montesquieu memperlihatkan bahwa pemerintahan yang baik perlu dipahami melalui hubungan antara kualitas penguasa, tujuan politik, dan pengaturan kekuasaan. Tidak ada institusi yang dapat sepenuhnya menggantikan kebutuhan akan kepemimpinan yang bertanggung jawab. Sebaliknya, tidak ada kualitas personal yang dapat sepenuhnya menggantikan pentingnya aturan dan mekanisme pengawasan.

Ilustrasi tentang satire politik. (Sumber foto: https://www.unsplash.com/ Free stock photo)

Dengan demikian, pertanyaan yang perlu diajukan bukan sekadar siapa yang mampu memperbaiki negara, melainkan bagaimana negara dapat diatur agar kekuasaan dijalankan secara bertanggung jawab, kesalahan dapat dikoreksi, dan pemerintahan tetap berfungsi ketika pemimpinnya berganti. Tantangan politik yang mendasar bukan hanya menemukan pemimpin yang baik, tetapi membangun tatanan yang memungkinkan kepemimpinan yang baik memberikan manfaat tanpa menjadikan nasib negara bergantung pada satu orang.