Konten dari Pengguna

SEKAMAS: Pemanfaatan Sekam Padi untuk Pertanian Berkelanjutan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arimbi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa KKN-R 13004 UNY bersama masyarakat Dusun Kedundang II melakukan praktik pembuatan arang sekam melalui program SEKAMAS. (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2026)
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa KKN-R 13004 UNY bersama masyarakat Dusun Kedundang II melakukan praktik pembuatan arang sekam melalui program SEKAMAS. (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2026)

Kulon Progo, Yogyakarta - Pemanfaatan limbah pertanian menjadi sesuatu yang berguna sebagai salah satu upaya sederhana untuk mendukung lingkungan yang lebih berkelanjutan. Melihat banyaknya masyarakat Kedundang II yang memanfaatkan halaman rumah untuk menanam dan merawat berbagai tanaman, mahasiswa KKN Reguler Kelompok 13004 Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Arimbi, menghadirkan program SEKAMAS (Sekam untuk Masyarakat) berupa edukasi dan praktik pembuatan arang sekam.

Program SEKAMAS dilaksanakan dengan memanfaatkan sekam padi sebagai bahan yang dapat diolah kembali menjadi arang sekam. Program ini juga menjadi salah satu bentuk kegiatan yang berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, yang salah satunya mendorong pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan dan pengurangan limbah.

Gagasan pelaksanaan SEKAMAS berawal dari pengamatan Arimbi terhadap kondisi lingkungan di Dusun Kedundang II, Kalurahan Kedundang, Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo. Banyak warga yang menanam berbagai jenis tanaman di halaman rumah dan melakukan kegiatan berkebun secara mandiri. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Arimbi memilih arang sekam sebagai bahan yang diperkenalkan kepada masyarakat karena dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan dalam media tanam.

Selain itu, ketertarikan masyarakat terhadap pembuatan arang sekam juga muncul dari pengalaman salah satu warga. Dalam percakapan bersama Arimbi, warga tersebut menceritakan bahwa dirinya pernah mencoba membuat arang sekam secara mandiri, tetapi belum berhasil.

"Kalau beli lumayan mahal. Dapatnya kadang juga tidak banyak," tambahnya.

Dari pengalaman tersebut, muncul ketertarikan untuk mempelajari cara membuat arang sekam sendiri dengan memanfaatkan bahan yang tersedia.

Kegiatan SEKAMAS diawali dengan sosialisasi mengenai arang sekam. Pada tahap ini, Arimbi menjelaskan secara sederhana mengenai pengertian arang sekam, perbedaan arang sekam dengan sekam mentah, manfaatnya, bahan dan alat yang diperlukan, langkah-langkah pembuatannya, serta cara menyimpan arang sekam agar tetap dapat digunakan dengan baik.

Mahasiswa KKN UNY memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pemanfaatan sekam padi dan proses pembuatan arang sekam. (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2026)

Tidak hanya memberikan penjelasan secara langsung, Arimbi juga membagikan booklet SEKAMAS kepada masyarakat. Booklet tersebut berisi informasi mengenai arang sekam, manfaat, cara pembuatan, hingga cara penyimpanannya. Booklet diberikan agar informasi yang telah disampaikan tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Masyarakat dapat menggunakannya sebagai panduan apabila ingin membuat arang sekam kembali secara mandiri.

Tampilan cover depan dan belakang booklet SEKAMAS. (Sumber: Dokumen Pribadi, 2026)
Bagian isi booklet SEKAMAS. (Sumber: Dokumen Pribadi, 2026)

Setelah sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan arang sekam secara bersama-sama. Mahasiswa KKN Reguler Kelompok 13004 UNY dan masyarakat mempersiapkan alat serta bahan, kemudian melakukan proses pengarangan sekam dengan metode pembakaran terbatas menggunakan cerobong kawat. Masyarakat dapat mengamati sekaligus mencoba secara langsung setiap tahapan dalam proses pembuatan arang sekam.

Kegiatan edukasi dan praktik tersebut diikuti oleh 10 warga dan 4 anggota KKN Reguler Kelompok 13004 UNY. Keterlibatan masyarakat secara langsung menjadi bagian penting dalam kegiatan ini karena warga tidak hanya menerima informasi, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam membuat arang sekam secara mandiri.

Masyarakat turut terlibat secara langsung dalam praktik pembuatan arang sekam. (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2026)
Proses pengarangan sekam dilakukan dengan teknik pembakaran terbatas agar sekam berubah menjadi arang tanpa terbakar hingga menjadi abu. (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2026)

Secara umum, arang sekam atau biochar dari sekam padi memiliki potensi untuk dimanfaatkan dalam bidang pertanian. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan sekam padi tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan limbah, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya pemanfaatan sumber daya pertanian secara berkelanjutan. Namun, penggunaan arang sekam tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan kondisi tanah karena manfaat biochar dapat berbeda berdasarkan bahan, proses pembuatan, dosis, serta kondisi lingkungan. Oleh karena itu, arang sekam dapat digunakan sebagai salah satu bahan pendukung media tanam, bukan sebagai satu-satunya komponen media tanam.

Arang sekam yang dihasilkan melalui praktik pembuatan dalam program SEKAMAS. (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2026)

Melalui SEKAMAS, mahasiswa KKN Reguler Kelompok 13004 UNY, Arimbi, berupaya mengenalkan cara sederhana untuk memanfaatkan kembali sekam padi yang sebelumnya dapat dianggap sebagai limbah. Masyarakat juga mendapatkan alternatif untuk menghasilkan arang sekam secara mandiri dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memberikan pengetahuan selama pelaksanaan KKN, tetapi juga dapat terus diterapkan oleh masyarakat setelah mahasiswa kembali dari lokasi KKN. Dengan adanya booklet sebagai panduan dan pengalaman praktik secara langsung, masyarakat memiliki bekal untuk mencoba kembali membuat arang sekam secara mandiri dan memanfaatkannya dalam kegiatan berkebun di lingkungan rumah.

SEKAMAS menjadi salah satu langkah sederhana mahasiwa KKN Reguler Kelompok 13004 UNY bersama masyarakat Kedundang II dalam memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitar sekaligus mendukung penerapan prinsip konsumsi dan produksi yang lebih bertanggung jawab.

Mahasiswa KKN-R 13004 UNY bersama masyarakat Dusun Kedundang II setelah pelaksanaan edukasi dan praktik pembuatan arang sekam. (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2026)