Konten dari Pengguna

Demi Kembaran Sama Idol, Kenapa Fans K-Pop Rela Beli Barang Branded Puluhan Juta

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arini Nur Azizah Taufik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto oleh Jakub Tomasik di Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Jakub Tomasik di Unsplash

Di dunia fandom K-Pop, istilah "twinning" atau memakai barang yang sama persis dengan idola bukan sekadar tentang mengikuti tren, melainkan bentuk ekspresi cinta dan identitas. Tren ini memicu fenomena unik: penggemar muda yang rela mengalokasikan tabungan hingga jutaan—bahkan puluhan juta—rupiah demi mengoleksi barang branded buatan rumah mode dunia seperti Celine, Chanel, Miu Miu, hingga Prada.

Bagi sebagian besar masyarakat awam, keputusan membeli hoodie seharga Rp 15 juta atau tas seharga Rp 40 juta demi kembaran dengan idol tampak konsumtif. Namun, dalam ekosistem budaya pop modern, fenomena ini memiliki alasan psikologis dan budaya yang lebih mendalam.

1. Efek "Duta Global" dan Validasi Emosional

Sejak merek-merek kemewahan (luxury brands) dunia menunjuk idola K-Pop sebagai Global Ambassador—seperti Lisa Blackpink untuk Celine atau BTS untuk Louis Vuitton—aksesoris dan outfit yang mereka kenakan langsung menjadi incaran utama penggemar.

Bagi fans, memiliki barang yang sama menciptakan perasaan keterikatan dekat (parasocial connection). Ada kepuasan emosional ketika mengenakan barang yang pernah dipakai sang idola saat tampil di bandara (airport fashion) atau dalam unggahan Instagram harian mereka.

"Bukan cuma soal gaya, tapi ada rasa bangga bisa match sama idol favorit. Itu bentuk support dan apresiasi kita ke mereka," ujar Rina (23), seorang fans K-Pop asal Jakarta yang pernah menabung selama 6 bulan demi membeli dompet branded yang sama dengan idolanya.

2. Pendorong Ekonomi Kreatif dan Tren "Finds Account"

Fenomena ini melahirkan ekosistem pendukung yang masif di media sosial. Akun-akun "Idol Fashion Finds" di Twitter (X) dan Instagram secara cepat mengidentifikasi merek, seri, hingga harga pakaian yang dikenakan para idol.

Informasi ini mempermudah para penggemar untuk langsung memburu barang tersebut sebelum kehabisan (sold out). Fenomena "Sold-Out King/Queen" pun menjadi bukti seberapa kuat daya beli fandom dalam menggerakkan roda ekonomi industri fashion.

3. Batas Antara Passionate dan Impulsif

Meski memberikan rasa kepuasan tersendiri, tren ini tak jarang menuai kritik terkait literasi keuangan anak muda. Para ahli perilaku konsumen mengingatkan pentingnya menetapkan batas antara hobi dan kemampuan finansial.

Membeli barang luxury demi kembaran dengan idola tidak menjadi masalah selama dilakukan dengan perencanaan finansial yang sehat—bukan hasil dari utang atau mengorbankan kebutuhan pokok (FOMO culture).