Jujur, Etika Gen Z Memang Makin Tergerus

Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Universitas Pamulang dengan Program Studi Akuntansi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Arini Nur Azizah Taufik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Gen Z itu gampang burnout," "Gen Z kurang sopan sama atasan," atau "Gen Z serba instan dan mau menang sendiri."
Sebagai orang yang lahir dan tumbuh besar sebagai bagian dari Generasi Z, jujur saja, dulu saya paling anti mendengarkan kalimat-kalimat di atas. Rasanya menyebalkan ketika generasi kami terus-menerus disudutkan dan disetempel negatif oleh generasi yang lebih tua.
Namun, belakangan ini, saya mulai menarik napas panjang dan bercermin. Ketika melihat fenomena di sekitar—baik di media sosial, lingkungan kampus, hingga dunia kerja—saya harus menelan pil pahit dan mengakui satu hal: kritik itu tidak sepenuhnya salah. Attitude dan etika di kalangan generasi kami memang terasa makin meluntur.
Fenomena yang Sulit Ditepis
Mari kita bicara jujur. Kita makin sering melihat norma-norma dasar sopan santun yang perlahan dianggap "kuno" oleh sesama Gen Z.
Di dunia kerja, fenomena ghosting saat proses rekrutmen atau mendadak resign tanpa handover yang jelas dianggap sebagai hal yang keren dengan dalih "prioritizing mental health". Di ruang publik dan media sosial, batas antara "kritis" dan "tidak bersopan santun" makin kabur. Menyampaikan kritik sering kali berubah menjadi hujatan tanpa empati, lengkap dengan bahasa yang kasar.
Bahkan dalam interaksi sehari-hari, hal-hal sederhana seperti mengucapkan "tolong," "maaf," dan "terima kasih," atau sekadar membalas pesan formal dari dosen/atasan dengan bahasa yang santun, makin jarang kita temui.
Mengapa Ini Bisa Terjadi?
Apakah Gen Z memang ditakdirkan menjadi generasi yang "buruk"? Tentu tidak. Sebagai Gen Z, saya melihat ada beberapa faktor utama yang membentuk pergeseran sikap ini:
Ilusi Kebebasan di Era Serba Cepat: Kita tumbuh di era internet di mana segala sesuatu bisa didapatkan hanya dalam satu klip. Kecepatan ini membuat kita cenderung tidak sabar (impatient) dan memandang aturan atau hirarki sebagai penghambat, bukan sebagai norma keseimbangan.
Misinterpretasi Self-Care dan Boundaries: Kami adalah generasi yang paling sadar akan kesehatan mental. Tapi sayangnya, banyak dari kita yang keliru mengartikan self-care. Menjaga batas diri (setting boundaries) sering dijadikan benteng untuk bersikap acuh tak acuh, menghindari tanggung jawab, atau bersikap tidak sopan kepada orang lain.
Anonymity dan Digital Culture: Dominasi interaksi layar membuat kita kehilangan sensitivitas empati tatap muka. Kita terbiasa bersikap tajam di kolom komentar, sampai-sampai lupa cara berkomunikasi yang hangat di dunia nyata.
Keberanian untuk Berbenah
Menyadari kesalahan bukanlah bentuk kekalahan, melainkan langkah awal kedewasaan. Kritis pada isu-isu sosial dan peduli pada kesehatan mental adalah kekuatan luar biasa dari Gen Z yang harus kita pertahankan. Namun, kelebihan itu akan kehilangan nilainya jika tidak dibarengi dengan etika dasar dan empati.
Menghormati orang lain tidak lantas membuat kita menjadi generasi yang "tunduk" atau "lemah." Justru, attitude yang baik dipadu dengan kecakapan digital dan pemikiran kritis adalah kombinasi mematikan yang akan membuat Gen Z benar-benar disegani—bukan sekadar ditakuti atau dijauhi.
Sudah saatnya kita, sesama Gen Z, saling mengingatkan. Jangan sampai slogan "Generasi Emas" yang sering disematkan kepada kita justru runtuh hanya karena kita lupa cara menghargai orang lain.
