Konten dari Pengguna

Satu Episode Lagi: Ketika Drama Menjadi Pelarian yang Perlahan Merusak Mental

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arini Nur Azizah Taufik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setelah seharian dihadapkan pada tumpukan tugas kuliah yang menguras energi, tekanan ekspektasi lingkungan, atau kepenatan aktivitas harian, merebahkan diri di kasur sambil menyalakan laptop atau handphone sering kali menjadi kegiatan paling dinanti. Menonton drama favorit seolah menjadi healing instan yang paling murah dan nyaman. Namun, kalimat "satu episode lagi" yang kita bisikkan pada diri sendiri di tengah malam sering kali menjadi jebakan batman. Tanpa sadar, malam telah berganti pagi, dan kita telah menghabiskan belasan episode dalam satu siklus menonton maraton (binge-watching). Apa yang awalnya kita anggap sebagai hiburan pelepas penat, perlahan berganti menjadi pelarian yang justru merusak kesehatan mental kita dari dalam.

Ilustrasi Maraton Drama. Foto oleh Kevin Woblick di Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Maraton Drama. Foto oleh Kevin Woblick di Unsplash

Menjadikan drama sebagai pelarian dari realitas sebenarnya adalah hal yang wajar. Dunia fiksi dalam drama menawarkan kontrol penuh yang tidak kita miliki di dunia nyata. Di sana, kita bisa hanyut dalam alur cerita yang terukur, emosi yang tercurah lewat karakter yang estetik, dan penyelesaian masalah yang selalu memuaskan di akhir cerita. Ketika dunia nyata terasa terlalu berisik dan tidak adil, dunia drama hadir sebagai perlindungan sementara yang sangat melekat.

Jebakan Dopamin dan Hilangnya Kontrol Diri

Sayangnya, kenyamanan emosional yang ditawarkan oleh aktivitas ini bekerja layaknya candu bagi otak kita. Saat kita menonton episode demi episode yang penuh dengan kejutan di bagian akhir, otak melepaskan hormon dopamin—senyawa kimia yang memicu rasa senang dan puas. Otak yang sudah kelelahan menghadapi stres dunia nyata akan terus menuntut pasokan dopamin tersebut, membuat kita abai untuk menekan tombol pause.

Akibatnya, kontrol diri kita kalah oleh dorongan instan untuk menuntaskan rasa penasaran. Perilaku binge-watching ini secara langsung merusak kualitas tidur kita. Kurang tidur yang parah bukan hanya membuat tubuh terasa lelah secara fisik keesokan harinya, melainkan juga mengacaukan regulasi emosi di otak. Kita menjadi lebih mudah cemas, sensitif, sulit berkonsentrasi saat kuliah atau bekerja, hingga rentan mengalami penurunan suasana hati (mood swing) yang drastis. Pelarian yang awalnya ditujukan untuk mengusir stres, ironisnya, justru memproduksi stres baru yang lebih fatal.

Sindrom Pasca-Menonton dan Keterasingan Sosial

Dampak psikologis lain yang sering kali tidak disadari adalah munculnya perasaan hampa yang mendalam setelah sebuah drama selesai ditonton. Ketika petualangan karakter fiksi yang kita tonton berhari-hari berakhir, kita mendadak terlempar kembali ke realitas kehidupan nyata yang membosankan dan penuh masalah. Kontras yang tajam antara kesempurnaan dunia drama dengan keruwetan dunia nyata ini sering kali memicu rasa kecewa, kesepian, dan ketidakpuasan terhadap kehidupan pribadi kita sendiri.

Lebih jauh lagi, kebiasaan mengurung diri di kamar demi menuntaskan puluhan episode secara berturut-turut perlahan mengikis keterampilan sosial kita di dunia nyata. Kita mulai membatasi interaksi dengan keluarga, menolak ajakan nongkrong teman-teman, hingga menunda tanggung jawab akademis dan pekerjaan. Hubungan sosial yang nyata, yang seharusnya menjadi jaring pengaman sosial terbaik bagi kesehatan mental kita justru sengaja kita putus demi kebersamaan semu dengan karakter-karakter fiksi di dalam layar kaca.

Menemukan Kembali Kendali Atas Tombol Pause

Menikmati drama atau serial favorit tentu sama sekali tidak dilarang. Seni visual tersebut tetaplah sebuah karya yang indah dan menghibur jika dikonsumsi dengan porsi yang sehat. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana kita bisa bersikap dewasa dalam mengonsumsinya; menjadikan drama sebagai bumbu penyedap kehidupan, bukan sebagai menu utama untuk melarikan diri dari kenyataan.

Kita harus berani mengambil kembali kendali atas waktu dan pikiran kita sendiri. Memasang batasan yang tegas, misalnya maksimal dua episode per hari dan berkomitmen penuh pada batasan tersebut adalah langkah awal yang krusial. Ketika stres melanda, cobalah untuk mencari mekanisme pertahanan diri yang lebih aktif dan sehat, seperti berolahraga, menulis harian, atau mengobrol secara langsung dengan orang-orang terdekat. Jangan biarkan hidup kita yang berharga ini habis dan terlewat begitu saja di balik layar ponsel yang dingin, hanya demi menyaksikan kehidupan fiksi orang lain berjalan dengan indah. Karena pada akhirnya, sehebat apa pun alur cerita sebuah drama, jalan cerita terbaik yang harus kita perjuangkan dan selesaikan adalah realitas kehidupan kita sendiri.