Stop Diagnosis Diri Sendiri dari TikTok

Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Universitas Pamulang dengan Program Studi Akuntansi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Arini Nur Azizah Taufik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di era digital, tren self-diagnosis melalui konten TikTok semakin merajalela—terutama bagi generasi muda. Namun, perilaku ini bukan hanya berbahaya, tapi juga berpotensi merusak kesehatan mental jangka panjang.
Fenomena Self-Diagnosis di TikTokSemakin Meresap
Dalam beberapa tahun terakhir, TikTok menjadi wadah utama bagi konten kesehatan mental. Ribuan video berlabel “aku suspicious ADHD”, “saya kayak punya gangguan bipolar”, atau “ciri-ciri depresi yang relate banget” sudah menjadi hal biasa. Konten-konten ini sering dibagikan oleh influencer tanpa latar belakang profesional kesehatan mental, hanya berdasarkan pengalaman pribadi atau informasi yang tidak terverifikasi. Fenomena ini bukan hanya tidak akurat, tetapi juga berpotensi merugikan kesehatan jangka panjang.
Mengapa Self-Diagnosis dari TikTok Berbahaya?
Konten kesehatan di TikTok sering kali mengutamakan kesederhanaan dan viralitas daripada akurasi ilmiah. Sebuah penelitian terhadap 100 video TikTok paling populer tentang ADHD menemukan bahwa sekitar 52 persen berisi informasi yang menyesatkan. Masalah utama yang membuat self-diagnosis dari TikTok berbahaya meliputi:
Pertama, daftar gejala yang terlalu sederhana. Video TikTok sering menampilkan daftar gejala yang bisa cocok untuk hampir siapa saja, termasuk orang yang sebenarnya sehat. Kedua, video yang menyarankan diagnosis dalam hitungan detik mengabaikan proses diagnostik profesional yang kompleks dan membutuhkan waktu. Ketiga, adanya solusi cepat, suplemen, atau produk yang diklaim sebagai obat tanpa bukti medis, yang berpotensi berbahaya bagi pengguna. Terakhir, konten yang romantisasi self-harm dapat memperburuk gejala depresi dan kecemasan.
Lebih parahnya, lebih dari 80 persen video kesehatan mental di TikTok mengandung informasi yang tidak akurat, dan 83,7 persen dari saran kesehatan mental di platform tersebut dianggap menyesatkan menurut studi 2025. Konten seperti ini dapat memicu anxiety dan depresi terutama pada pengguna di bawah 24 tahun.
Dampak Nyata pada Remaja dan Masyarakat
Remaja adalah kelompok paling rentan terhadap tren ini. Sistem rekomendasi TikTok secara aktif mendorong konten kesehatan mental ke akun remaja, tetapi dalam beberapa menit dapat mengarahkan mereka ke video tentang depresi berat dan self-harm. Banyak remaja mulai mengidentifikasi diri dengan label gangguan mental tanpa evaluasi profesional, yang disebut sebagai "TikTok therapy culture".
Dampak negatifnya sangat serius. Trivialisasi penyakit mental nyata terjadi ketika gangguan kompleks direduksi menjadi "trop viral", yang mengurangi empati bagi yang terdiagnosis resmi. Perilaku berbahaya muncul ketika orang self-medicating dengan suplemen tidak terverifikasi atau adopting strategi coping seperti isolasi sosial. Penolakan pengobatan medis juga terjadi karena hoaks kesehatan membuat orang ragu terhadap pengobatan yang terbukti aman.
Di Indonesia, penelitian dari Universitas Starkita menunjukkan bahwa konten mental health di TikTok berkontribusi terhadap meningkatnya kecenderungan remaja melakukan self-diagnosis.
Cara Tepat Mendapatkan Informasi Kesehatan
Untuk menghindari dampak buruk self-diagnosis, para ahli menyarankan langkah-langkah berikut:
Saring konten yang dikonsumsi dari TikTok, YouTube, dan platform lainnya. Jangan terima semua informasi yang beredar tanpa pertimbangan kritis.
Hanya gunakan sumber kredibel seperti konten dari psikolog, psikiater, atau lembaga resmi kesehatan mental yang memiliki lisensi dan rekam jejak jelas.
Jangan menjadikan informasi internet sebagai acuan gejala, terutama dari sumber yang tidak kredibel atau tidak memiliki latar belakang profesional di bidang kesehatan.
Konsultasi langsung dengan ahli. Jika Anda menduga mengalami gejala, hubungi psikolog atau kunjungi ruang konseling untuk evaluasi yang tepat.
Batasi paparan konten kesehatan mental di media sosial. Terlalu sering mengonsumsi konten ini justru bisa meningkatkan kecemasan yang tidak perlu.
Verifikasi sumber sebelum percaya pada informasi kesehatan. Cek apakah sumber tersebut memiliki lisensi resmi dan apakah informasi yang disampaikan sesuai dengan literatur medis terkini.
Peran Platform dan Masyarakat
Tiktok perlu meningkatkan regulasi konten kesehatan mental untuk mencegah penyebaran misinformation. Sementara itu, masyarakat, terutama parent dan educator, harus aktif mengedukasi remaja tentang bahaya self-diagnosis dan pentingnya evaluasi profesional.
Ingatlah: viral tidak berarti valid. Gangguan mental dan fisik memerlukan diagnosis dari profesional yang berpengalaman, bukan dari video singkat di platform sosial. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami gejala kesehatan, segera hubungi psikolog, psikiater, atau layanan kesehatan resmi.
