Konten dari Pengguna

"Teng Go" dan Tolak Lembur: Bagaimana Gen Z Mengubah Aturan Main di Tempat Kerja

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arini Nur Azizah Taufik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lonceng jam dinding kantor menunjukkan tepat pukul 17.00 WIB. Bagi sebagian karyawan senior, waktu tersebut barulah penanda jeda santai sebelum melanjutkan tumpukan pekerjaan hingga larut malam. Namun bagi generasi pekerja baru, khususnya Gen Z, jam lima sore adalah garis finis yang sakral. Mereka akan bergegas merapikan meja, mematikan laptop, dan melangkah keluar kantor tepat waktu—sebuah fenomena yang populer disebut dengan istilah "Teng Go". Sayangnya, sikap yang berbasis pada kepatuhan aturan waktu ini kerap kali dipandang sinis oleh manajemen korporat konvensional dan dicap sebagai tindakan yang kurang loyal atau minim inisiatif.

Ilustrasi Gen Z Teng Go. Foto oleh bram naus di Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gen Z Teng Go. Foto oleh bram naus di Unsplash

Benturan ini bukan sekadar masalah jam pulang kantor, melainkan refleksi dari pergeseran paradigma kebudayaan kerja yang sangat mendasar antar-generasi. Di satu sisi, dunia kerja konvensional yang didominasi generasi pendahulu masih melanggengkan romantisasi budaya lembur (hustle culture). Dalam ekosistem tradisional tersebut, loyalitas seorang karyawan sering kali diukur secara kuantitatif dari seberapa lama mereka bersedia "menghibahkan" waktu pribadinya di kantor, terlepas dari apakah perpanjangan waktu tersebut benar-benar produktif atau hanya sekadar demi menjaga impresi di depan atasan (presenteeism).

Batasan Diri yang Tegas demi Kesehatan Mental

Bagi Gen Z yang tumbuh di era disrupsi informasi dan menyaksikan langsung bagaimana generasi sebelum mereka rentan mengalami kejenuhan akut (burnout), loyalitas buta semacam itu telah kehilangan relevansinya. Ketika mereka memilih untuk menolak lembur yang tidak mendesak atau tidak dibayar, langkah tersebut diambil bukan karena mereka malas atau tidak bertanggung jawab terhadap pekerjaan. Sebaliknya, hal ini adalah bentuk penegakan batasan diri (boundaries) yang sehat demi menjaga keseimbangan hidup (work-life balance).

Para pekerja muda ini memandang kontrak kerja sebagai kesepakatan profesional yang adil dan transparan: kontribusi tenaga dan pikiran ditukar dengan kompensasi yang sesuai di dalam koridor waktu yang telah disepakati bersama. Di luar jam tersebut, waktu mereka adalah milik pribadi yang berhak dihabiskan untuk beristirahat, menekuni hobi, bersosialisasi, atau membangun bisnis sampingan (side hustle). Bagi mereka, dedikasi terbaik diberikan melalui pemanfaatan waktu kerja secara efektif dan produktif (smart working), bukan dengan cara mengulur-ulur pekerjaan hingga malam hari demi terlihat rajin.

Gagapan Korporat Menghadapi Karyawan Kritis

Ketidakpahaman korporat konvensional dalam membaca psikologi kerja pekerja muda ini memicu gesekan sosiologis di ruang kerja. Banyak manajer senior yang gagap menghadapi karyawan yang berani berkata "tidak" saat ditodong pekerjaan tambahan di luar jam kantor. Ekspektasi korporat yang menuntut karyawan untuk selalu siap sedia dihubungi terkait urusan pekerjaan pada akhir pekan atau malam hari melalui aplikasi pesan instan, kini berbenturan keras dengan prinsip hak untuk memutuskan hubungan kerja digital (right to disconnect) yang dipegang teguh oleh Gen Z.

Ketika perusahaan gagal menyediakan lingkungan kerja yang menghargai waktu pribadi karyawan, dampaknya adalah lonjakan angka perputaran karyawan (turnover rate) yang tinggi. Gen Z dikenal sebagai generasi yang tidak ragu untuk melakukan resign jika lingkungan kerja mereka dinilai beracun (toxic) atau mengeksploitasi kesehatan mental mereka. Mereka tidak lagi terpaku pada nama besar sebuah perusahaan, melainkan lebih mencari budaya kerja yang memanusiakan pekerja.

Mencari Titik Temu di Era Fleksibilitas

Fenomena "Teng Go" dan penolakan lembur ini seharusnya menjadi alarm evaluasi bagi industri korporat di Indonesia. Menghakimi pekerja muda dengan label "manja" atau "kurang berdedikasi" tidak akan menyelesaikan masalah, melainkan justru memperlebar jarak komunikasi antar-generasi di dalam kantor. Sudah saatnya manajemen korporat bergeser dari sistem penilaian berbasis jam kehadiran (input-oriented) menuju penilaian berbasis hasil pencapaian kerja yang nyata (output-oriented).

Perusahaan yang adaptif harus mampu menciptakan ekosistem kerja yang efisien, di mana beban kerja didistribusikan secara adil sehingga target harian dapat diselesaikan tanpa perlu mengorbankan waktu istirahat karyawan. Di sisi lain, pekerja muda juga perlu mengomunikasikan batasan mereka secara profesional tanpa mengurangi kualitas tanggung jawab pekerjaan mereka. Pada akhirnya, harmoni di ruang kerja modern hanya akan tercapai ketika korporat konvensional mau menurunkan egonya untuk belajar menghargai kehidupan personal karyawannya, dan menyadari bahwa karyawan yang bahagia di luar kantor adalah aset paling produktif di dalam kantor.