Burnout pada Mahasiswa dan Pekerja Muda: Ketika Produktivitas Menjadi Tekanan

Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Arina Sabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi produktif sering kali dianggap sebagai indikator bahwa seseorang menjalani hidup dengan baik. Semakin banyak tugas yang diselesaikan, semakin padat jadwal yang dijalani, dan semakin sedikit waktu yang terbuang, seseorang cenderung dianggap semakin sukses. Di media sosial, produktivitas bahkan sering kali dipresentasikan sebagai gaya hidup: bangun pagi, kuliah atau bekerja seharian, terlibat dalam organisasi, mengambil pekerjaan sampingan, mempelajari keterampilan baru, dan tetap terlihat baik-baik saja.
Namun, di balik budaya produktivitas ini, banyak mahasiswa dan pekerja muda yang diam-diam merasakan kelelahan. Mereka tetap mengerjakan tugas, hadir di kuliah, bekerja, membalas pesan, dan memenuhi tuntutan dari berbagai arah. Dari luar, semua tampak normal. Tetapi di dalam diri, muncul rasa lelah yang sulit dihilangkan, kehilangan semangat, merasa tidak cukup baik, bahkan mulai mempertanyakan kemampuan diri sendiri.
Kondisi ini sering kali dihubungkan dengan burnout. Dalam percakapan sehari-hari, istilah burnout sering digunakan untuk menggambarkan rasa lelah yang berlebihan. Namun, secara psikologis, burnout bukan sekadar kelelahan setelah hari yang Panjang. ia berhubungan dengan tekanan berkepanjangan yang tidak berhasil dikelola dengan baik, terutama ketika seseorang terus berada dalam situasi yang menuntut energi, pikiran, dan emosi secara terus-menerus.
Ketika Produktivitas Menjadi Ukuran Nilai Diri
Saat ini, banyak anak muda beranggapan bahwa diam berarti tertinggal. Istirahat sering kali dianggap sebagai pemborosan waktu. Tidak melakukan sesuatu bisa menimbulkan rasa bersalah. Bahkan ketika tubuh sudah lelah, pikiran tetap memaksa untuk menyelesaikan satu tugas lagi, membuka laptop lagi, belajar lagi, bekerja lagi, atau membuktikan sesuatu lagi.
Fenomena ini erat kaitannya dengan istilah toxic productivity, yaitu dorongan untuk terus berproduktivitas hingga mengabaikan kesejahteraan diri. Harvard Health Publishing menjelaskan bahwa toxic productivity bukanlah diagnosis kesehatan, tetapi dapat mempengaruhi kesejahteraan mental dan fisik. Tanda-tandanya meliputi merasa harus selalu sibuk, kesulitan untuk bersantai, rasa bersalah ketika tidak menyelesaikan sesuatu, dan menganggap istirahat sebagai bentuk kemalasan.
Masalahnya, budaya produktif sering kali terlihat positif dari luar. Seseorang yang selalu sibuk tampak rajin. Mahasiswa yang terlibat dalam banyak kegiatan terlihat ambisius. Pekerja muda yang selalu siap menerima tugas tambahan tampak berdedikasi. Namun, jika semua itu dilakukan tanpa memberikan ruang untuk pulih, produktivitas bisa berubah menjadi sebuah tekanan.
Banyak mahasiswa dan pekerja muda akhirnya terjebak dalam pola yang melelahkan: ingin berkembang, tetapi takut untuk berhenti; ingin beristirahat, tetapi merasa bersalah; ingin menolak, tetapi khawatir dianggap tidak mampu. Seiring waktu, tubuh dan pikiran tidak hanya merasa lelah, tetapi juga mulai kehilangan rasa keterhubungan dengan aktivitas yang sebelumnya dianggap penting.
Apa Itu Burnout?
Burnout diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) sebagai fenomena okupasional yang tercatat dalam International Classification of Diseases atau ICD-11, bukan sebagai kondisi medis. Fenomena ini dipahami sebagai sindrom yang muncul akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak dikelola dengan baik. Tiga dimensi utama dari burnout mencakup kelelahan atau habisnya energi, peningkatan jarak mental atau sikap negatif terhadap pekerjaan, serta penurunan efektivitas profesional.
Dalam kajian psikologi, Maslach dan Leiter menggambarkan burnout sebagai sindrom psikologis yang berkembang sebagai respons jangka panjang terhadap stres kronis, terutama dalam konteks pekerjaan. Tiga dimensi utamanya adalah exhaustion atau rasa lelah yang mendalam, cynicism atau munculnya sikap sinis dan menjauh dari pekerjaan, serta inefficacy atau perasaan tidak efektif dalam mencapai hasil yang diharapkan.
Ketika diterapkan pada kehidupan mahasiswa, burnout dapat berkembang menjadi academic burnout. Mahasiswa yang mengalami kondisi ini tidak hanya merasa lelah dalam belajar, tetapi juga merasakan pesimisme terhadap studi yang dijalani, kehilangan ketertarikan pada perkuliahan, merasa tidak kompeten, dan menganggap diri mereka gagal sebagai mahasiswa. Sebuah scoping review oleh Wardhana, Yoenanto, dan Fardhana menjelaskan bahwa academic burnout dipengaruhi oleh faktor internal seperti academic self-efficacy, motivasi akademik, dan kepribadian, serta faktor eksternal seperti dukungan sosial, iklim kampus, stres akademik, kondisi kesehatan, dan prestasi akademik.
Dengan demikian, burnout tidak terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini biasanya berkembang perlahan akibat tekanan yang berulang, tuntutan yang tidak seimbang, kurangnya dukungan, serta minimnya kesempatan untuk beristirahat dan memulihkan diri.
Mahasiswa dan Pekerja Muda Rentan Mengalami Burnout
Mahasiswa dan pekerja muda berada dalam fase hidup yang penuh tuntutan. Di satu sisi, mereka sedang membangun masa depan. Di sisi lain, mereka juga sering masih mencari arah, membentuk identitas, belajar mandiri, dan menghadapi tekanan sosial maupun ekonomi.
Mahasiswa harus menghadapi tugas, ujian, organisasi, skripsi, tuntutan lulus tepat waktu, serta ekspektasi keluarga. Pekerja muda harus menghadapi beban kerja, target, tuntutan adaptasi, persaingan, dan keinginan untuk membuktikan diri. Bagi mahasiswa yang juga bekerja, tekanan itu bisa menjadi dua kali lipat karena mereka harus membagi waktu, tenaga, dan fokus antara dunia akademik dan pekerjaan.
Penelitian Karnia, Riza, dan Tyas pada mahasiswa bekerja menunjukkan bahwa work-study conflict dan coping strategy berperan dalam memprediksi academic burnout. Penelitian tersebut melibatkan 385 mahasiswa bekerja di Kabupaten Karawang dan menemukan bahwa work-study conflict dapat meningkatkan academic burnout, sedangkan coping strategy yang adaptif dapat membantu menurunkan risikonya.
Hal ini menunjukkan bahwa burnout tidak hanya berkaitan dengan banyaknya aktivitas, tetapi juga dengan kemampuan seseorang mengelola tuntutan yang saling bertabrakan. Seorang mahasiswa mungkin masih bisa menjalani kuliah dan kerja jika memiliki waktu, dukungan, dan strategi yang memadai. Namun, ketika tuntutan akademik dan pekerjaan terus bertabrakan, sementara energi dan dukungan semakin terbatas, risiko burnout menjadi lebih besar.
Bukan Sekadar Lelah Biasa
Salah satu kesalahan umum dalam memahami burnout adalah menganggapnya sama dengan rasa capek biasa. Padahal, lelah biasa umumnya membaik setelah tidur, beristirahat, atau mengambil jeda. Sementara itu, burnout sering terasa lebih dalam dan menetap. Seseorang bisa tetap merasa kosong meskipun sudah tidur. Ia bisa tetap merasa berat meskipun tugas sudah selesai. Ia bisa tetap merasa tidak mampu meskipun sebenarnya sudah berusaha keras.
Pada mahasiswa, academic burnout dapat terlihat dari hilangnya minat belajar, menunda tugas secara terus-menerus, merasa sinis terhadap kuliah, sulit berkonsentrasi, mudah marah, atau merasa tidak ada gunanya berusaha. Pada pekerja muda, burnout dapat terlihat dari rasa lelah yang berkepanjangan, kehilangan semangat bekerja, merasa jauh dari pekerjaan, menurunnya produktivitas, serta munculnya pikiran negatif terhadap diri sendiri maupun lingkungan kerja.
Maslach Burnout Inventory atau MBI menjadi salah satu alat ukur yang banyak digunakan dalam penelitian burnout. MBI mengukur tiga dimensi utama, yaitu emotional exhaustion, cynicism atau depersonalization, dan reduced personal accomplishment. Dalam konteks psikodiagnostik, alat ukur seperti ini penting karena membantu memahami burnout secara lebih terstruktur, bukan hanya berdasarkan perasaan “aku capek banget” semata.
Namun, penting juga dipahami bahwa alat ukur psikologis bukan bahan untuk sembarang memberi label pada diri sendiri. Hasil pengukuran perlu dipahami secara hati-hati, apalagi jika kondisi yang dialami sudah mengganggu tidur, kuliah, pekerjaan, relasi sosial, atau aktivitas sehari-hari. Dalam situasi seperti itu, berkonsultasi dengan profesional seperti psikolog atau konselor adalah langkah yang lebih tepat.
Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah Burnout?
Langkah pertama adalah mengenali tanda-tandanya. Jika rasa lelah sudah berlangsung lama, membuat seseorang kehilangan minat, merasa sinis, sulit fokus, mudah marah, atau merasa tidak mampu, kondisi itu perlu diperhatikan. Jangan menunggu sampai benar-benar tumbang baru menganggapnya serius.
Kedua, belajar membedakan antara produktif dan memaksa diri. Produktif berarti menggunakan waktu dan energi secara efektif. Memaksa diri berarti terus bekerja meskipun tubuh dan pikiran sudah memberikan sinyal untuk berhenti. Tidak semua waktu kosong harus diisi dengan aktivitas. Tidak semua jeda berarti kemalasan.
Ketiga, membuat batasan. Mahasiswa dapat mulai mengatur prioritas tugas, membagi pekerjaan besar menjadi langkah kecil, dan berani berkata tidak pada kegiatan yang sudah melebihi kapasitas. Pekerja muda juga perlu belajar mengenali batas kerja, menghindari kebiasaan selalu tersedia di luar jam kerja jika tidak mendesak, dan memberi ruang bagi kehidupan pribadi.
Keempat, menggunakan coping strategy yang lebih adaptif. Coping strategy dapat berupa mencari dukungan sosial, menyusun rencana, menyelesaikan masalah secara bertahap, mengatur waktu, atau mengubah cara memandang situasi. Pada mahasiswa bekerja, strategi koping yang adaptif dapat membantu menurunkan risiko academic burnout ketika mereka menghadapi konflik antara tuntutan kuliah dan pekerjaan.
Kelima, membangun dukungan sosial. Bercerita kepada teman, keluarga, dosen, rekan kerja, mentor, konselor, atau psikolog dapat membantu seseorang melihat masalah dengan lebih jernih. Tidak semua masalah harus diselesaikan sendirian. Kadang, dukungan dari orang lain dapat menjadi ruang untuk bernapas sebelum kembali menghadapi tuntutan yang ada.
Produktif Tidak Harus Mengorbankan Diri
Menjadi produktif bukan hal yang salah. Punya ambisi, bekerja keras, dan ingin berkembang adalah sesuatu yang baik. Namun, produktivitas menjadi masalah ketika seseorang mulai mengorbankan kesehatan, relasi, waktu istirahat, dan rasa berharga dirinya sendiri.
Mahasiswa dan pekerja muda tidak harus selalu terlihat kuat. Tidak apa-apa merasa lelah. Tidak apa-apa mengambil jeda. Tidak apa-apa mengakui bahwa tuntutan yang dihadapi memang berat. Mengakui kelelahan bukan berarti gagal, melainkan tanda bahwa seseorang mulai mendengarkan dirinya sendiri.
Pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang seberapa banyak hal yang bisa diselesaikan. Hidup juga tentang bagaimana seseorang tetap bisa menjaga dirinya saat menjalani proses itu. Produktivitas yang sehat seharusnya membantu manusia bertumbuh, bukan membuatnya kehilangan diri sendiri.
Burnout mengingatkan bahwa manusia memiliki batas. Dan mengenali batas bukan kelemahan. Justru, dari sanalah seseorang bisa belajar bekerja, belajar, dan bertumbuh dengan cara yang lebih manusiawi.
____________________________________
Oleh Arina Sabila, Dr. Rachmat Mulyono M.Si., Psikolog
