Konten dari Pengguna

Semangat Petani Sederhana yang Berhasil Didik Anak-Anaknya hingga Magister

Alfiana Arint Alanyst

Alfiana Arint Alanyst

Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alfiana Arint Alanyst tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Potret kakek Sujo seorang Petani yang berhasil menyekolahkan anaknya hingga magister , Sumber: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Potret kakek Sujo seorang Petani yang berhasil menyekolahkan anaknya hingga magister , Sumber: Dokumentasi Pribadi

Pendidikan merupakan bekal seseorang dalam meraih kesuksesan di masa depan. Namun tidak semua orang dapat merasakan manisnya duduk di bangku sekolah hingga tuntas. Tidak sedikit pula ada yang harus merelakan impian mereka karena faktor ekonomi, keluarga, bahkan sosial. Hal ini yang dirasakan kakek Sujo, anak pertama dari 5 bersaudara yang terpaksa berhenti sekolah saat ia duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar karena profesi orang tuanya yang hanya sebagai petani biasa.

"Saya ingin sekali melanjutkan pendidikan namun apa boleh buat karena pikiran orang tua saya terlalu kuno dan menganggap pendidikan itu tidak penting," ujar Sujo. Orang tua Sujo hanya berharap anaknya bekerja di rumah saja dengan menggembalakan kerbau.

Sujo harus mengurus keempat adiknya saat remaja karena ibunya meninggal dunia. Awal usaha dimulai dengan bertani, menjual bibit sayuran serta menjual perangkap ikan dari bambu. Pada tahun 1979, beliau bekerja sebagai supir traktor namun perekonomiannya belum juga membaik sampai saat itu. Merasa tertekan dengan hal itu, sempat terpikir untuk melakukan transmigrasi pada tahun 1981 namun gagal karena istrinya tidak memberi izin.

Suatu ketika temannya menyarankan untuk menanam pohon jeruk karena pada saat itu harga jualnya sangat tinggi ketika panen. Sejak menanam jeruk hingga keberlanjutan taraf hidup Sujo mulai membaik.

Sujo juga melebarkan usahanya di bidang sepeda antik. Berbagai merk sepeda terkenal dijual seperti Gazelle dari Belanda, Humber produk Inggris, Raleigh buatan Inggris, Simplex dari Belanda. Namanya dikenal luas hingga ke luar kota bahkan menjadi penjual sepeda antik nomer 1 di Kebumen. Sepeda antiknya sudah tersebar sampai luar kota dan luar provinsi. mulai dari insinyur, kolektor, dan anggota DPR selalu mencari Sujo untuk membeli sepeda antik.

Sujo berasal dari kalangan tidak berpendidikan, namun ia tetap bisa mengimbangi komunikasi dengan semua pelanggannya yang berpendidikan. Hasil kerja kerasnya tersebut beliau investasikan dengan membeli sawah demi bisa menyekolahkan kedua anaknya.

Potret kakek Sujo memperlihatkan foto anak-anaknya saat wisuda kamis (17/11), Sumber: Dokumentasi Pribadi

"Cukup saya saja yang tidak berpendidikan, tidak dengan kedua anak saya. Mereka harus menjadi orang berpendidikan dan hidup nyaman," ucap Sujo.

Ada pepatah mengatakan “hasil tidak akan mengkhianati usaha” itu terefleksikan pada kehidupan Sujo sehingga jerih payahnya tersebut berbuah manis. Putrinya menjadi lulusan S1 jurusan Manajemen Universitas Jenderal Soedirman, sedangkan putranya berhasil meraih S1 Teknik Fisika serta S2 Ilmu Komputer di Universitas Gadjah Mada.

Sujo mengaku sangat menyayangkan masa mudanya hanya habis dengan bekerja. Harapannya bagi semua orang untuk tidak mengalami hal sama dengan dirinya serta dapat merasakan pendidikan yang layak, karena latar belakang ekonomi bukan penentu kesuksesan siapapun.