• 2

Menyederhanakan Minat Investasi dan Persoalan Petani dalam Satu Aplikasi

Menyederhanakan Minat Investasi dan Persoalan Petani dalam Satu Aplikasi


Di Crowde, investor pemula dapat berinvestasi mulai dari Rp 10.000. Sebuah langkah demi memajukan pertanian Indonesia.

Foto: Yohanes Sugihtononugroho dan Muhammad Risyad Ganis (forbes.com)
Awal kemunculan Crowde, dikatakan Yohanes Sugihtononugroho dalam sebuah acara televisi, bermula saat dia mengunjungi lahan pertanian miliknya di Megamendung, Bogor. Terlihat langsung oleh pria lulusan Stanford University, standar hidup petani Indonesia masih belum layak dan usaha mereka senantiasa terkendala masalah modal.
Lantas, bersama rekan-rekannya, dia pun membuat Crowde, sebuah platform yang bertekad membantu para petani di Indonesia. Crowde, yang juga merujuk pada crowd-investing, menjadi wadah terbuka bagi masyarakat untuk dapat menanamkan investasi dalam membantu permodalan para petani.
Ada banyak sekali bidang investasi yang dapat dipilih --yang sebetulnya juga merambah bidang peternakan-- seperti bawang merah, ubi jalar, cabai, sapi, ayam, atau pembuatan pupuk. Bagusnya, keuntungan sudah dapat diperkirakan oleh investor sejak akan mulai menanam modal, mereka dapat memilih dari yang risiko investasinya paling rendah sampai yang tertinggi.

Foto: crowde.co
"Kita mengetahui bersama bahwa Indonesia adalah salah satu Negara agraris terbesar di dunia, sehingga tidak mengherankan jika penghasilan dari sektor ini pun melimpah. Sayangnya, para petani yang terlibat dalam sektor ini justru memiliki kondisi yang memprihatinkan karena dari segi angka kesejahteraan mereka 2,3 kali lebih miskin dibandingkan lapisan masyarakat lainnya," penjelasan singkat tentang tujuan dasar Crowde, di situs resmi mereka.
Yohanes pun menargetkan pada 2018 ini dapat merangkul sekitar 100.000 petani dan menghimpun dana investasi Rp 100 miliar. Kemajuan Crowde memang terhitung pesat, pada tahun 2017 mereka sanggup mengumpulkan Rp 300 juta untuk 30 petani. Padahal, saat awal berdiri pada tahun 2017, Crowde hanya menghimpun dana Rp 7 juta saja.
Adapun tentang imbal hasil rata-rata setiap tahun yang akan diterima oleh investor, menurut Yohanes itu berkisar 15,67%. Sementara Crowde akan mengutip komisi 3% dari setiap proyek yang berjalan.

Foto: crowde.co
Tetapi, jika boleh membicarakan Crowde dari sudut pandang seorang awam yang ingin mulai mencoba jadi investor, apa yang membuat kita sepatutnya antusias terhadap platform ini bukan hanya karena telah meraih penghargaan dari Social Venture Challenge Asia (SVC) juga bukan saja lantaran CEO dan Co-Foudernya (Yohanes dan Muhammad Risyad Ganis) masuk daftar 30 Under 30 of Asia versi Forbes 2018. Lebih dari sekadar turut berbangga atas prestasi para pendirinya yang merupakan putra Indonesia, Crowde ialah tempat yang pas bagi kita untuk belajar berinvestasi.
Kita dapat mencoba memulainya dari menanam modal Rp 10.000, juga bisa memahami terlebih dahulu apakah akan memilih skema investasi syariah, pinjaman, atau bagi hasil, dan tentunya kita juga dapat memantau modal yang telah ditanam melalui situs mereka atau aplikasi di smartphone.
Ingin mulai dapat untung dari berinvestasi, juga punya niat mulia memajukan sektor agraris di Indoneisa, kenapa tidak sekaligus?

Bisnis Gue BedaInvestasiPertanianPeternakan

presentation
500

Baca Lainnya