Guru Bukan Penjahat: Saatnya Orang Tua Bantu Atasi Masalah Anak yang Bandel

Bapak-Bapak Biasa, Menulis Karena Hidup Nggak Pernah Biasa - Sedang menyelesaikan Magister Teologi di STAKat Negeri Pontianak - Guru Partikelir Sekolah Katolik di Tangsel.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Aris Kurniyawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kenapa guru selalu jadi batu loncatan ketika terjadi masalah di sekolah? Khususnya saat guru menampar murid yang sudah bandel parah. Setiap kali ada kejadian begini, langsung saja orang tua naik pitam, main sorot guru tanpa lihat cerita lengkapnya. Padahal, guru itu bukan musuh anak kita, tapi orang yang juga pusing hadapi puluhan murid dengan karakter berbeda-beda setiap hari.
Mari jujur: ada murid yang benar-benar ngelunjak. Mereka tidak hormat, ribut di kelas, nggak mau dengarkan, bahkan macam-macam sama guru. Kalau guru cuma perintah atau teguran, mereka cuekin. Kalau guru pakai suara keras, dibilang kasar. Kalau guru nge-tas, eh malah dikomplain. Guru dijepit di posisi yang mustahil – mereka harus jaga kelas, pastiin anak-anak belajar, tapi juga harus "baik-baik" walau anak nggak mendengarkan. Ini nggak fair.
Menampar memang bukan solusi terbaik, tapi jangan lupa: guru itu juga manusia yang emosi. Kalau anak sudah terus-menerus melawan dan nggak dengarkan peringatan, guru pun bisa sampai ke titik ledak. Itu bukan berarti guru jahat, tapi wajar kalau ada momen kayak gini. Yang salah adalah sistem dan kultur yang membuat guru sendirian hadapi masalah ini.
Inilah Masalahnya Sebenarnya:
Pertama, orang tua sering nggak tahu anak mereka gimana di sekolah. Anak bilang, "Bu, gurunya jahat, dia pukul saya nggak jelas," padahal si anak adalah penyebab masalahnya. Orang tua percaya mentah-mentah dan langsung marah ke guru. Nggak ada investigasi, nggak ada dialog – cuma emosi.
Kedua, anak sekarang jarang dikasih batasan di rumah. Mereka terbiasa dikasih tahu dengan halus, nggak terbiasa "tidak". Jadi ketika di sekolah guru tegas, mereka merasa diperlakukan tidak adil. Lalu pulang lapor dramatik ke orang tua.
Ketiga, sekolah dan orang tua nggak bekerja sama. Guru nggak proaktif lapor, orang tua nggak proaktif tanya. Hasilnya, masalah membengkak sampai sampai ada kekerasan fisik.
Solusi Nyata yang Perlu Dilakukan:
Untuk Orang Tua:
Jangan langsung percaya cerita anak yang sepihak. Tanya guru secara baik-baik apa yang terjadi sebelum kejadian. Cek perilaku anak di rumah – apakah dia sering bandel, nggak dengarkan, atau kasar ke orang tua? Kalau iya, berarti anak butuh didisiplin. Bantu guru, bukan lawan guru. Kalau anak dapat pukulan karena melawan guru berkali-kali, gunakan itu sebagai momentum mengajari anak konsekuensi dari perbuatan.
Untuk Guru:
Jangan tunggu sampai emosi meledak. Hubungi orang tua lebih awal kalau ada murid yang bermasalah. Tunjukkan bukti konkret (catatan perilaku, video, atau laporan). Berikan peringatan tertulis. Usahakan pendekatan lain dulu sebelum tindakan fisik. Minta bantuan kepala sekolah atau konselor. Dengan begini, guru nggak sendirian dan jika ada masalah, semua bisa saksi prosesnya.
Untuk Sekolah:
Buat sistem manajemen perilaku yang jelas dan konsisten. Harus ada protokol untuk murid yang bermasalah. Harus ada training untuk guru tentang cara handle murid dengan pendekatan positif. Jangan biarkan guru sendirian menghadapi situasi sulit. Libatkan orang tua dari awal sebelum masalah membesar.
Garis Bawahnya:
Kalau orang tua paham bahwa anak mereka memang nakal dan guru sudah upaya yang terbaik, mereka akan bisa bersabar. Bukan membela anak buta-batuan, tapi memahami bahwa guru juga perlu didukung. Disiplin itu penting, dan kadang anak butuh belajar lewat konsekuensi – dan itu bukan kejahatan.
Jadi, sebelum nyalah guru, tanya dulu: "Sebenarnya, apa sih yang terjadi?" Mungkin jawabannya akan buat kita berubah pikiran.
