Ketika Gembala Menjadi Serigala

Bapak-Bapak Biasa, Menulis Karena Hidup Nggak Pernah Biasa - Sedang menyelesaikan Magister Teologi di STAKat Negeri Pontianak - Guru Partikelir Sekolah Katolik di Tangsel.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aris Kurniyawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Remah-remah renungan dari bangku umat

Seorang teman pernah bercerita.
Ia datang ke gereja bukan karena rajin. Ia datang karena sedang hancur. Baru saja bercerai. Anaknya sakit. Pekerjaannya goyah. Ia duduk di bangku paling belakang, kepala menunduk, dan berharap ada sesuatu yang bisa ia pegang.
Romo yang memimpin Misa hari itu berkhotbah dengan indah. Tentang kasih. Tentang pengampunan. Tentang Kristus yang tidak pernah meninggalkan kawanan-Nya.
Teman saya pulang dengan hati yang sedikit lebih ringan.
Beberapa bulan kemudian ia tahu bahwa romo itu sedang dalam penyelidikan. Kasus asusila. Dengan umat yang juga datang ke gereja karena sedang hancur.
Ia tidak pernah kembali ke gereja itu lagi.
Saya tidak mau langsung menghakimi.
Karena saya pun tahu menjadi imam itu bukan pekerjaan mudah. Selibat itu berat. Kesepian itu nyata. Tekanan pastoral itu bisa menggerus siapa saja. Saya tidak punya hak melempar batu pertama.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa saya diam-kan.
Bukan soal imamnya saja. Tapi soal apa yang dilakukan Gereja setelahnya.
The Jakarta Post dan Tirto.id pernah menelusuri ini panjang-panjang. Hasilnya? Ada seorang perempuan yang mengalami pelecehan sejak usia 11 tahun di ruang pengakuan dosa, di sekolah Katolik, oleh orang yang seharusnya menjadi representasi Kristus baginya.
Sebelas tahun.
Di ruang pengakuan dosa.
Dan apa yang dilakukan Gereja? Imamnya dipindahkan.
Di Keuskupan Ruteng, April 2024, seorang romo ditangkap dalam kamar bersama perempuan bersuami. Suami korban meminta keuskupan bertindak tegas. Ancamannya sampai ke jalur hukum.
Di Ruteng lagi, seorang imam yang juga dosen universitas Katolik dilaporkan melakukan kekerasan seksual terhadap mahasiswi. Laporan investigasi terbit. Komnas Perempuan ikut angkat bicara. Universitas akhirnya memecat sang dosen. Tapi prosesnya — lama sekali. Dan korban menunggu sendirian.
Sekretaris Komisi Seminari KWI, Romo Joseph Kristanto, pernah bicara jujur: setidaknya ada 56 korban yang terdata dari seminaris, suster, sampai umat awam biasa. Dan itu, katanya, hanya puncak gunung es.
Saya ingin bertanya dengan pelan.
Kalau ada 37 keuskupan di Indonesia, dan masing-masing punya lima sampai sepuluh kasus berapa orang yang sudah pulang dari gereja seperti teman saya tadi? Berapa orang yang akhirnya tidak bisa lagi membedakan antara Gereja dan trauma?
Dan kita — sebagai umat — selama ini mau apa?
Saya ingat sewaktu kecil, ada romo tua di paroki kami. Jubahnya lusuh. Mobilnya butut. Tapi setiap orang yang datang ke pastoran, selalu pulang membawa sesuatu entah itu jawaban, atau sekadar rasa bahwa ada yang mendengar.
Itu gambar yang saya simpan tentang imamat.
Bukan karena sempurna. Tapi karena konsisten. Karena apa yang ada di mimbar sama dengan apa yang ada di balik pintu pastoran.
Janji imamat itu bukan formalitas penahbisan. Itu bukan kalimat yang diucapkan sekali lalu selesai. Setiap hari, setiap pelayanan, setiap pertemuan dengan umat yang sedang hancur itu adalah momen di mana janji itu diperbarui atau diingkari.
Yang menyakitkan bukan hanya imam yang jatuh.
Yang menyakitkan adalah ketika institusi memilih nama baik di atas kebenaran.
Seorang anggota Serikat Sabda Allah, John Mansford Prior, berkata dengan keras: memindahkan imam bermasalah ke tempat lain hanya menyembunyikan masalah. Di tempat baru, kejadian bisa berulang. Dan kawanan yang baru tidak pernah tahu apa yang mereka hadapi.
Bahkan sampai hari ini, sejauh saya ingat tidak semua keuskupan atau ordo/ tarekat di Indonesia yang punya protokol resmi untuk pelaporan pelecehan seksual. Mungkin hanya Jesuit dan MSC yang memiliki protokol resmi. Padahal Paus Fransiskus sudah mewajibkannya sejak 2020.
Empat tahun lebih. Masih kosong.
Saya menulis ini bukan karena saya benci Gereja.
Saya menulis ini justru karena saya masih duduk di bangkunya setiap Minggu. Masih membawa kegelisahan saya ke sana. Masih percaya bahwa Kristus yang dipuja di altar itu nyata — dan karena itu, saya tidak rela nama-Nya dibawa-bawa oleh mereka yang mengkhianati-Nya dalam diam.
Nabi Yeremia pernah berteriak kepada para pemimpin Israel sendiri: “Celakalah para gembala yang membiarkan domba-domba-Ku hilang dan terserak!”
Itu bukan kalimat kebencian. Itu kalimat cinta yang sudah tidak tahan diam.
Untuk para imam yang masih setia yang capek tapi terus berjalan, yang sepi tapi tidak menyerah terima kasih. Sungguh. Kami melihat kalian.
Untuk para pemimpin Gereja yang membaca ini tolong, jangan hanya memindahkan masalah. Hadapi. Lindungi kawanan, bukan nama lembaga. Dengarkan korban sebelum memikirkan reputasi.
Dan untuk teman saya yang tidak pernah kembali ke gereja itu
Saya mengerti.
Tapi Kristus bukan imamnya. Kristus adalah alasan kita datang ke sana sejak awal. Dan Ia, satu-satunya yang tidak pernah mengkhianati siapa pun yang datang dengan hati hancur.
Ditulis oleh umat yang masih percaya, meski dengan pertanyaan yang belum selesai.
