Konten dari Pengguna

Rapuh tapi Setia: Refleksi Hidup Imam dari Kotbah Misa Krisma 2026

Aris Kurniyawan

Aris Kurniyawan

Bapak-Bapak Biasa, Menulis Karena Hidup Nggak Pernah Biasa - Sedang menyelesaikan Magister Teologi di STAKat Negeri Pontianak - Guru Partikelir Sekolah Katolik di Tangsel.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aris Kurniyawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Dari janji yang diperbaharui tumbuh kesetiaan yang diteguhkan." — Semboyan Misa Krisma KAJ 2026

Ada momen yang jarang disaksikan umat dalam liturgi Gereja Katolik: seorang imam, yang setiap hari memimpin altar, tiba-tiba menelungkup di lantai untuk membaharui janji imamat yang pernah ia ucapkan saat ditahbiskan. Momen ini terjadi setiap tahun, menjelang Trihari Suci Paskah, dalam Misa Krisma. Dan di sinilah kehidupan imam diletakkan paling jujur di hadapan Tuhan dan umat.

ilsutrasi foto tahbisan imam : Foto oleh Mateus Campos Felipe di Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
ilsutrasi foto tahbisan imam : Foto oleh Mateus Campos Felipe di Unsplash

Tahun ini, dua perayaan Misa Krisma 2026 berlangsung di Jakarta dan Surabaya. Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo dan Mgr. Didik menyampaikan kotbah yang saling melengkapi. Bukan tentang kejayaan imamat, melainkan tentang kerapuhannya. Justru di sanalah letak kejujuran yang paling dalam tentang hidup seorang imam hari ini.

"Baiklah para Romo, sekiranya selama setahun yang berlalu kita gagal dan jatuh, kita khilaf, lupa dengan jati diri kita sebagai imam Gereja..."

— Mgr. Didik, Misa Krisma Keuskupan Surabaya, 31 Maret 2026

Kotbah Misa Krisma 2026: Gereja bicara jujur tentang imamnya

Di Surabaya, Mgr. Didik membuka kotbahnya dengan pepatah Jawa yang terasa seperti tamparan lembut: wong melik nggendong lali. Mereka yang merasa memiliki segalanya justru paling mudah melupakan diri. Kata-kata ini ia tujukan bukan kepada umat, melainkan kepada para imam, termasuk dirinya sendiri sebagai uskup.

Ini bukan retorika biasa. Jarang seorang pemimpin Gereja berkata secara terbuka: mungkin kamu gagal, mungkin kamu kecewa, mungkin kamu sakit hati — dengan sesama imam, dengan umat, bahkan dengan uskupmu sendiri. Mgr. Didik membuka ruang yang selama ini jarang tersedia. Ruang untuk mengakui kerapuhan tanpa kehilangan martabat.

Di Jakarta, Mgr. Suharyo memilih sudut pandang yang berbeda namun melengkapi. Ia berbicara tentang kesetiaan bukan sebagai tuntutan moral, melainkan sebagai buah Roh Kudus. "Kalau kita setia, kesetiaan kita adalah buah dari Roh Kudus yang kita terima," katanya. Ketidaksetiaan bukan soal kelemahan moral semata — melainkan soal kurang memberi ruang kepada Roh untuk bekerja dalam hidup seorang imam.

Dua cara pandang ini membentuk diagnosis yang cukup lengkap: ada kelelahan batin yang membuat imam lupa pada dirinya, dan ada gerusan rohani yang membuat Roh Kudus semakin tidak punya tempat.

Empat tantangan nyata dalam kehidupan imam hari ini

Mgr. Didik menyebut empat pilar janji imamat yang perlu dibaharui. Cara beliau menyebutnya seolah mengandaikan bahwa keempat pilar itu sedang retak dalam kehidupan banyak imam:

I. Persatuan dengan Kristus

Imam yang memandang rekan imam sebagai saingan, bukan saudara dalam perutusan.

II. Pelayanan sakramen

Ada keluarga yang meninggalkan Gereja karena imam menolak melayani orang sakit.

III. Tugas mengajar

Homili yang keras dan melukai, bukan menerangi dan menyembuhkan umat.

IV. Hidup sederhana

Godaan "flexing" dan gaya hidup yang mengikis kesaksian imamat.

Yang paling menggetarkan adalah kisah konkret Mgr. Didik: sebuah keluarga meninggalkan Gereja karena imam menolak melayani sakramen bagi orang sekarat. "Dosa terbesar bagi imam mungkin adalah menolak melayani sakramen," katanya. Dalam teologi Katolik, imam ditahbiskan pertama-tama untuk sakramen — bukan untuk ceramah, bukan untuk administrasi paroki. Jika sakramen diabaikan, sesuatu yang paling mendasar dari imamat sedang runtuh.

"Jangan merayakan misa hanya karena giliran. Bahkan jika tidak bertugas, tetaplah hadir dalam Ekaristi."

— Mgr. Didik, Misa Krisma Keuskupan Surabaya, 31 Maret 2026

Imam bukan malaikat — dan bukan sekadar petugas pastoral

Ada tekanan besar di era ini untuk mereduksi kehidupan imam menjadi sebuah profesi. Lengkap dengan jam kerja, kenyamanan fasilitas, dan ukuran keberhasilan berbasis kuantitas. Mgr. Didik melihat bahaya ini dengan jelas ketika berbicara soal godaan "flexing" — pamer gaya hidup — sebagai ancaman nyata bagi kesaksian imamat.

Di sisi lain, masyarakat sering jatuh ke ekstrem berlawanan: memandang imam seolah manusia setengah ilahi yang tidak boleh gagal, tidak boleh lelah. Ketika seorang imam jatuh, reaksi publik sering bukan doa, melainkan viral. Mgr. Didik secara eksplisit menutup kotbahnya dengan pesan kepada umat: "Jangan memperbaiki para imam dengan celaan atau viralitas, tetapi dengan doa, dialog, dan kasih."

Santo Yohanes Maria Vianney — yang dikutip Mgr. Didik — sendiri adalah sosok yang dihantui keraguan dan kelelahan. Tiga kali ia mencoba meninggalkan Ars untuk masuk biara pertapaan. Tiga kali ia kembali. Bukan karena tidak merasa rapuh, tetapi karena kerapuhan itu justru adalah tanah tempat kasih Tuhan bertumbuh.

Kesetiaan imam: bukan prestasi, melainkan perjalanan

Mgr. Suharyo menutup bagian kotbahnya dengan pertanyaan sederhana namun dalam: apakah ada tanda-tanda yang bisa kita kenali untuk melihat apakah kita sedang dibimbing oleh Roh, atau sebaliknya? Ini bukan pertanyaan retoris. Ini undangan untuk pemeriksaan batin yang jujur — yang dalam tradisi spiritualitas disebut discernment.

Kesetiaan seorang imam, dalam pandangan Mgr. Suharyo, bukan prestasi yang dibangun sekali lalu dipajang. Ia adalah perjalanan yang terus-menerus. Seperti Yesus yang setia bukan hanya di Nazaret, tapi di sepanjang jalan dari Galilea hingga Golgota. "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil," kata Yesus — dan itu adalah kalimat seorang imam sejati. Tidak bisa dibeli oleh tepuk tangan. Tidak bisa diikat oleh kenyamanan.

"Tidak ada imam yang baik tanpa umat yang baik pula."

— Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo, Misa Krisma KAJ, 1 April 2026

Apa yang sebenarnya kita rayakan dalam Misa Krisma?

Misa Krisma bukan sekadar ritual tahunan yang indah. Di balik wewangian minyak krisma yang diberkati, ada pengakuan kolektif yang mengharukan: bahwa imam juga manusia. Bahwa janji imamat bisa memudar dan "berkarat," seperti kata Mgr. Didik. Dan bahwa Gereja — alih-alih menghukum kerapuhan itu — justru menawarkan kerahiman dan kesempatan untuk lahir kembali.

Dalam Perjanjian Baru, pembaruan perjanjian selalu terjadi bukan di puncak kejayaan, melainkan di tengah padang gurun. Bukan ketika Israel sedang jaya, melainkan ketika mereka lelah dan hampir menyerah. Dan di situlah Allah hadir paling jelas.

Jika ada satu hal yang perlu diingat dari kedua kotbah Misa Krisma 2026 ini, mungkin inilah: gerusan zaman terhadap kehidupan imam itu nyata. Namun yang lebih nyata lagi adalah kerahiman yang ditawarkan kembali setiap tahun. Bukan karena imam layak menerimanya, tetapi karena itulah hakikat kasih Allah. Kekuatan imamat yang sejati bukan pada kemegahannya — melainkan pada keberanian untuk kembali, tahun demi tahun, ke tempat menelungkup itu, dan bangkit lagi.

Penulis adalah seekor domba yang peduli pada gembalanya — tidak lebih, tidak kurang.