Suara dari Guru-Guru “Biasa” untuk Kebijakan yang Lebih Inklusif

Bapak-Bapak Biasa, Menulis Karena Hidup Nggak Pernah Biasa - Sedang menyelesaikan Magister Teologi di STAKat Negeri Pontianak - Guru Partikelir Sekolah Katolik di Tangsel.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aris Kurniyawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Guru Hebat dan Panggung Studio: Apa Kabar Guru Biasa di Indonesia?
Kami menyambut baik gagasan Bapak Presiden terkait pengumpulan guru-guru di studio sebagai bagian dari program pengembangan kapasitas dan pelatihan pada saat peringatan Hari Pendidikan Nasional 2025. Gagasan ini pada dasarnya memiliki potensi positif, terutama jika dirancang dengan matang, memiliki tujuan yang jelas, serta benar-benar menyentuh kebutuhan nyata di lapangan pendidikan Indonesia.
Namun demikian, kami memandang penting untuk mengajukan sejumlah catatan kritis dan reflektif agar program ini tidak hanya menjadi simbolis atau seremonial semata. Karena dalam praktiknya, kebijakan pendidikan yang tampak inklusif di permukaan bisa saja menimbulkan eksklusivitas baru jika tidak dirancang dengan prinsip keadilan dan partisipasi menyeluruh.
Pelatihan Guru Hebat: Antara Panggung Publik dan Realita di Kelas
Dalam lanskap pendidikan Indonesia yang sangat beragam, pelatihan guru seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan riil yang dihadapi para pendidik di lapangan. Studio memang bisa menjadi ruang belajar yang menarik, tetapi jangan sampai berubah menjadi panggung semu yang hanya menampilkan “yang terbaik”, sementara mayoritas guru lainnya menjadi penonton pasif.
Guru hebat bukan hanya mereka yang mahir berkomunikasi di depan kamera, tetapi juga mereka yang gigih mengajar di daerah pelosok, yang membangun karakter anak bangsa dalam kondisi serba terbatas. Kebijakan pendidikan nasional harus memperluas definisi guru hebat dengan menghargai semua bentuk pengabdian, bukan hanya yang tampak.
Ketimpangan Pengakuan: Tantangan Nyata dalam Kebijakan Pendidikan
Jika pelatihan guru hanya melibatkan mereka yang telah lebih dahulu dianggap “hebat” atau “berprestasi”, maka yang terjadi bukan peningkatan kualitas menyeluruh, melainkan reproduksi ketimpangan. Guru-guru biasa—yang tak viral, tak populer, tak memiliki akses ke Jakarta—akan merasa tersisih dari sistem.
Padahal, mereka adalah pondasi dari pendidikan Indonesia. Kebijakan pelatihan guru seharusnya tidak hanya memprioritaskan pencitraan atau angka-angka, tetapi juga membangun solidaritas profesi melalui pengakuan yang adil. Ini bukan soal siapa yang bersinar di layar, tetapi siapa yang bertahan dan berdampak di ruang kelas.
Guru Biasa, Dampak Nyata: Menghargai yang Tidak Terekspos
Kami, para guru biasa, mungkin tidak dikenal luas. Tapi kami menghafal nama siswa kami satu per satu. Kami tahu siapa yang datang ke sekolah tanpa sarapan. Kami mengajar dengan sepenuh hati meski fasilitas terbatas, gaji tak selalu cukup, dan perhatian dari pusat begitu minim.
Ketika kebijakan pendidikan terlalu terpusat pada yang menonjol, maka kerja-kerja sunyi kami terpinggirkan. Pelatihan guru seharusnya membangun jejaring yang setara, bukan menciptakan kasta-kasta baru dalam profesi pendidik. Kami bukan penonton, kami bagian dari pertunjukan besar bernama masa depan bangsa.
Redefinisi Guru Hebat dalam Sistem Pendidikan Indonesia
Sudah saatnya negara mendefinisikan ulang “guru hebat.” Bukan berdasarkan seberapa sering muncul di layar atau seminar nasional, tetapi berdasarkan dampak konkret dalam kehidupan siswa. Guru hebat bisa saja seorang yang tidak pernah tampil di media, tapi berhasil mengubah jalan hidup satu generasi.
Pelatihan guru harus menjangkau semua: dari guru di pusat kota hingga di lereng gunung, dari yang populer hingga yang terlupakan. Ruang studio bisa menjadi simbol kemajuan, tetapi hanya jika diisi oleh keragaman suara dan pengalaman guru dari seluruh Indonesia.
Refleksi: Kami Tidak Hebat, Tapi Kami Tidak Diam
Presiden dan para pemangku kebijakan pendidikan, kami ingin menyampaikan ini dengan jujur dan tulus: kami tidak sedang menolak perubahan. Kami mendukung pelatihan guru, pengembangan kapasitas, dan transformasi pendidikan. Tapi kami juga ingin didengar.
Kami tidak sedang mengejar panggung, tapi kami ingin percaya bahwa kebijakan ini juga untuk kami. Kami, guru biasa yang setia mengabdi dalam senyap, ingin diyakinkan bahwa kami adalah bagian dari solusi, bukan hanya pelengkap dalam narasi keberhasilan.
Pendidikan Indonesia tidak akan berubah hanya oleh guru hebat yang tampil di layar. Ia akan berubah oleh kebijakan yang memanusiakan seluruh guru tanpa kecuali. Karena kehebatan bukan tentang siapa yang dipilih tampil, tetapi siapa yang setiap hari berani hadir dan mendidik dengan hati.
