Tamparan yang Mengajar

Bapak-Bapak Biasa, Menulis Karena Hidup Nggak Pernah Biasa - Sedang menyelesaikan Magister Teologi di STAKat Negeri Pontianak - Guru Partikelir Sekolah Katolik di Tangsel.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Aris Kurniyawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi itu kantin sekolah belum ramai. Bau gorengan dan asap rokok bercampur di udara.
Dari kejauhan, Pak Darma mengenali siluet seorang murid yang duduk di pojok rokok terselip di jarinya, ditiupkan pelan seperti orang dewasa yang sedang menata pikiran.
Anak itu, Rafi, murid kelas XI, cukup dikenal: cerdas, tapi akhir-akhir ini sering menyendiri, mudah marah, dan sulit ditegur.
Pak Darma mendekat tanpa suara. Begitu Rafi menoleh, rokok itu buru-buru disembunyikan di balik meja. Tapi percuma. Asapnya masih menggantung di udara, seperti saksi yang enggan pergi.
“Rafi…” suara guru itu datar, tapi tajam.
Anak itu menunduk, tak menjawab.
“Ini sudah ketiga kali, ya?”
Sunyi.
Dan entah karena kelelahan, emosi, atau cinta yang kalut, tangan Pak Darma melayang cepat.
Tamparan itu tak keras, tapi cukup untuk membuat dunia berhenti sejenak.
Rafi menatapnya dengan mata merah, lalu pergi tanpa kata.
Seisi kantin membeku.
Siang itu, berita menyebar: “Guru menampar murid di kantin.”
Sebagian membela, sebagian menghujat. Dunia digital pun ikut berkomentar tanpa tahu cerita utuh.
Malamnya, Pak Darma tak bisa tidur. Ia tahu tindakannya salah, tapi entah mengapa, perasaan bersalah dan cemas bercampur dengan kasih yang tak sempat disampaikan.
Ia menulis di catatan kecilnya:
“Aku menampar bukan karena benci, tapi karena takut kehilangan dia.”
Keesokan harinya, ayah Rafi datang ke sekolah. Wajahnya lelah, suaranya serak. “Pak, saya dengar anak saya ditampar.”
Pak Darma mengangguk pelan. “Benar, Pak. Saya khilaf. Tapi jujur, saya hanya takut dia makin jauh dari dirinya sendiri.”
Sang ayah terdiam lama, lalu berkata lirih, “Ibunya meninggal dua bulan lalu. Dia belum bisa bicara pada siapa pun.”
Hening menggantung di antara mereka.
Dalam diam itu, rasa bersalah berubah menjadi iba yang dalam.
Sore hari, Rafi dipanggil. Ia datang dengan langkah berat.
Pak Darma berdiri di depan jendela kelas yang menghadap taman.
“Aku minta maaf, Rafi,” katanya tanpa banyak alasan. “Aku guru yang gagal menahan tangan. Tapi aku tidak ingin gagal menahan kehilangan.”
Rafi menunduk, lalu berbisik, “Saya yang minta maaf, Pak. Saya… cuma pengin lupa sebentar.”
Air mata yang selama ini disembunyikan jatuh di meja kayu.
Pak Darma memeluknya tanpa kata. Di pelukan itu, dua manusia saling belajar: satu tentang penyesalan, satu tentang pengampunan.
Beberapa minggu kemudian, Rafi mulai rajin datang ke sekolah. Ia membantu kantin, menggambar mural bertuliskan:
“Ada amarah yang lahir dari cinta, dan ada cinta yang belajar dari amarah.”
Pak Darma membaca tulisan itu setiap pagi.
Ia tahu, luka hari itu tak akan hilang sepenuhnya.
Tapi seperti luka di pohon tua—ia justru mengingatkan bahwa kasih sejati selalu meninggalkan bekas, bukan untuk disesali, tapi untuk diingat.
Di catatan terakhirnya, Pak Darma menulis:
“Tamparan bisa salah, tapi kasih yang melatarinya tak boleh hilang.
Mengajar bukan soal benar atau salah, tapi tentang menemani manusia menemukan dirinya lagi.”
