Konten dari Pengguna

Arisan Program, Saat Undian Menjadi Jalan Edukasi PKB/PLKB, IMP, dan Masyarakat

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Thoufan Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber poto : milik pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber poto : milik pribadi

Seorang kepala keluarga di suatu wilayah dampingan pernah menolak mentah-mentah ajakan mengikuti program Keluarga Berencana. Alasannya sederhana namun mengakar dalam: KB dianggap urusan pribadi yang tidak layak dibahas di ruang formal, apalagi di hadapan banyak orang dalam forum penyuluhan konvensional. Namun ketika pendekatan berubah—bukan lagi mengumpulkan warga di balai desa untuk mendengarkan satu materi yang sudah ditentukan dari atas, melainkan duduk bersama dalam forum arisan program, di mana tema yang dibahas hari itu ditentukan lewat undian dan dibicarakan bersama petugas, kader, dan tetangga-tetangganya sendiri—sesuatu yang berbeda terjadi. Ia mulai bertanya, mulai terbuka soal kekhawatirannya, dan pada akhirnya memutuskan menjadi akseptor KB, sebutan bagi seseorang yang telah resmi menggunakan salah satu alat atau metode kontrasepsi. Bukan karena informasi yang diterima berbeda, melainkan karena ruang penyampaiannya terasa milik bersama, bukan sekadar arahan satu arah dari petugas.

Kisah ini menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan sebuah inovasi sederhana namun berpotensi besar: Arisan Program. Berbeda dari arisan pada umumnya yang mengundi giliran menerima uang, Arisan Program mengundi tema dari rangkaian program Bangga Kencana—singkatan dari Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana, payung besar seluruh program Kemendukbangga/BKKBN—untuk dijadikan bahan diskusi dan berbagi pengalaman pada setiap pertemuan. Forum ini melibatkan tiga unsur sekaligus: PKB/PLKB (Penyuluh Keluarga Berencana/Petugas Lapangan Keluarga Berencana, yaitu aparatur yang bertugas resmi menyuluh dan mendampingi program KB di suatu wilayah), Kader IMP (Institusi Masyarakat Perdesaan/Perkotaan, yaitu warga setempat yang secara sukarela dilatih untuk membantu menggerakkan program kependudukan di lingkungannya sendiri), dan masyarakat itu sendiri. Mekanisme undian ini bukan sekadar gimik, melainkan strategi yang memiliki dasar rasional kuat untuk menjawab persoalan lama dalam pelayanan publik sektor kependudukan: bagaimana membuat edukasi terasa hidup, ditunggu, dan dimiliki bersama—bukan sekadar kewajiban yang harus dihadiri.

Ketika Angka yang Bagus Menutupi Pemahaman yang Rapuh

Bangga Kencana adalah rangkaian intervensi sepanjang siklus hidup manusia—mulai dari edukasi kesehatan reproduksi remaja, pendewasaan usia perkawinan lewat Generasi Berencana atau GenRe (program yang mendorong remaja menikah di usia yang lebih matang secara fisik dan mental), penyuluhan kontrasepsi bagi Pasangan Usia Subur atau PUS (istilah untuk pasangan suami-istri yang usia istrinya masih dalam rentang produktif, 15 hingga 49 tahun), pembinaan seribu hari pertama kehidupan lewat Bina Keluarga Balita (BKB), hingga pembinaan keluarga lansia. Selama ini, keberhasilannya kerap diukur lewat angka: berapa banyak orang hadir dalam penyuluhan, berapa banyak akseptor baru tercatat, atau berapa persen PUS memakai kontrasepsi modern.

Data Indikator Kinerja Utama BKKBN tahun 2023 mencatat, angka unmet need—istilah yang merujuk pada proporsi PUS yang sebenarnya ingin menunda atau membatasi kehamilan, tetapi belum menggunakan kontrasepsi apa pun—masih berada di kisaran 11,5 persen, jauh di atas target 8 persen (Ridwan Institute, 2023). Sederhananya, dari sekian juta pasangan usia subur di Indonesia, masih ada jutaan yang sesungguhnya butuh KB namun belum terlayani. Sementara itu, angka kelahiran total atau Total Fertility Rate (TFR)—rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang perempuan sepanjang masa suburnya—tercatat pada level 2,18, mendekati namun belum mencapai target ideal 2,1 anak per perempuan yang disebut Penduduk Tumbuh Seimbang (BKKBN DIY, 2024; BKKBN, 2024). Di ranah lain, angka gagal tumbuh pada balita atau stunting, muara dari keberhasilan edukasi seribu hari pertama kehidupan, tercatat masih 19,8 persen pada 2024—meski menurun dari 21,5 persen di tahun sebelumnya (TP2S, 2025).

Angka-angka ini penting sebagai alat pertanggungjawaban kinerja. Namun ia menyimpan risiko yang jarang disadari: pencapaian yang tampak baik di atas kertas dapat menyembunyikan pemahaman yang sesungguhnya masih rapuh di lapangan. Data unmet need menunjukkan, alasan kesehatan dan penolakan dari suami atau keluarga menjadi penyebab dominan seseorang tidak menggunakan kontrasepsi meski sudah pernah terpapar informasi (Ridwan Institute, 2023). Ini pertanda persoalannya bukan pada kurangnya informasi, melainkan pada tidak adanya ruang yang cukup hidup dan setara untuk mendiskusikan keraguan tersebut secara jujur—dan di titik inilah mekanisme undian dalam Arisan Program menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki forum penyuluhan konvensional.

Mengapa Mekanisme Undian Bisa Membuat Edukasi Lebih Hidup

Dalam ilmu kesehatan masyarakat, ada beberapa konsep yang menjelaskan mengapa Arisan Program berpotensi efektif.

Pertama, konsep proximity atau kedekatan sosial: semakin dekat jarak sosial antara pemberi dan penerima informasi, semakin tinggi rasa aman yang dirasakan untuk bicara jujur. Forum arisan program menghadirkan PKB/PLKB dan kader dalam posisi setara dengan masyarakat, duduk bersama menunggu hasil undian, bukan berdiri di depan sebagai pemberi materi—relasi yang jauh lebih cair dibanding forum penyuluhan formal.

Kedua, konsep trust-based communication atau komunikasi berbasis kepercayaan: perubahan perilaku kesehatan jauh lebih mungkin terjadi ketika informasi disampaikan dalam relasi yang dipercaya. Kehadiran Kader IMP sebagai jembatan antara PKB/PLKB dan masyarakat sangat penting di sini, karena kader adalah sosok yang sudah dikenal dan dipercaya warga sehari-hari, sehingga materi yang disampaikan terasa lebih dekat dibanding jika hanya disampaikan petugas dari luar.

Ketiga, mekanisme undian itu sendiri menghadirkan unsur yang jarang dibahas dalam literatur penyuluhan formal, namun sangat relevan secara psikologis: unpredictability atau ketidakpastian yang menyenangkan—perasaan menanti sesuatu yang belum diketahui hasilnya, seperti rasa penasaran saat menunggu giliran arisan biasa. Ketika tema pembahasan tidak diketahui sebelumnya dan ditentukan lewat undian, forum menjadi terasa seperti kegiatan sosial yang dinanti, bukan kewajiban yang harus dihadiri. Prinsip ini sejalan dengan pendekatan demand-driven education, yaitu edukasi yang dirancang responsif terhadap dinamika dan minat riil peserta, bukan sekadar materi baku yang seragam dan bisa ditebak dari awal.

Ketiga unsur ini bermuara pada satu hal yang dalam literatur pelayanan KB disebut quality of care atau kualitas layanan—bukan sekadar menyampaikan pilihan yang tersedia, melainkan memastikan masyarakat benar-benar memahami dan nyaman untuk berdiskusi sebelum membuat keputusan. Inilah yang dikenal sebagai prinsip informed choice: pilihan yang diambil atas dasar kesadaran penuh, bukan tekanan sosial atau rasa sungkan di forum umum.

Tiga Unsur, Satu Forum: Bagaimana Arisan Program Bekerja

Kekuatan Arisan Program terletak pada keterlibatan tiga unsur sekaligus dalam satu forum yang sama, masing-masing dengan peran yang saling melengkapi.

PKB/PLKB berperan menyiapkan daftar tema undian sesuai rangkaian program Bangga Kencana—mulai dari kontrasepsi dan unmet need, pola asuh dan pencegahan stunting lewat BKB (Kemendukbangga, 2026), hingga pendewasaan usia perkawinan lewat GenRe (BKKBN Jateng, 2026)—sekaligus memastikan materi yang disampaikan tetap berbasis data dan kaidah keilmuan yang benar.

Kader IMP berperan sebagai penghubung sekaligus penerjemah, karena posisinya yang lebih dekat secara sosial dengan masyarakat memungkinkan pesan teknis dari PKB/PLKB disampaikan ulang dengan bahasa dan contoh yang lebih membumi. Forum arisan program juga menjadi ruang penguatan kapasitas kader itu sendiri, karena setiap sesi undian memaksa kader untuk terus memperbarui pemahamannya di berbagai tema, bukan hanya tema yang menjadi keahliannya.

Masyarakat tidak diposisikan sebagai penerima pasif, melainkan peserta aktif yang turut berbagi pengalaman pribadi sesuai tema yang keluar dari undian—baik pengalaman positif yang bisa menginspirasi peserta lain, maupun kekhawatiran yang bisa langsung dijawab bersama dalam forum, bukan dipendam sendiri.

Rotasi tema lewat undian ini secara alami memastikan seluruh program Bangga Kencana mendapat porsi pembahasan yang merata dari waktu ke waktu, tanpa perlu menyusun jadwal kaku yang terasa formal dan menjenuhkan.

Proyeksi Manfaat: Dari Lini Lapangan hingga Skala Kebangsaan

Jika Arisan Program diterapkan secara konsisten dan meluas, kontribusinya dapat dipetakan dalam beberapa lapis yang saling berkaitan—mulai dari dampak langsung terhadap program, hingga konsekuensi positif yang menjalar ke level kebangsaan.

Pada level program, rotasi tema secara berkala berpotensi menekan angka unmet need secara bertahap, karena keraguan yang selama ini terpendam mendapat ruang rutin untuk didiskusikan, bukan sekadar menunggu forum penyuluhan resmi yang jarang dan berjarak. Efek serupa berlaku pada pencegahan stunting: pembahasan pola asuh yang berulang dan kontekstual lewat forum arisan berpotensi mempercepat perubahan kebiasaan rumah tangga, dibanding penyuluhan satu kali yang mudah dilupakan. Pada isu pendewasaan usia perkawinan, forum yang rutin dan terbuka memberi ruang bagi remaja dan orang tua untuk mendiskusikan risiko pernikahan dini secara berulang, bukan hanya sekali dengar lalu terlupakan.

Pada level kelembagaan, Arisan Program berkontribusi memperkuat kualitas sumber daya manusia di lini terdepan—baik PKB/PLKB yang dituntut terus memutakhirkan penguasaan materi di berbagai tema, maupun Kader IMP yang kapasitasnya terasah lewat rotasi topik yang tidak bisa ditebak. Karena pendekatan ini menumpang pada tradisi arisan yang sudah ada, biaya replikasinya relatif rendah, sehingga berpotensi diperluas ke berbagai wilayah tanpa membebani anggaran secara signifikan—sebuah keunggulan yang penting bagi instansi pemerintah yang senantiasa dituntut efisien namun tetap berdampak.

Pada level kebangsaan, akumulasi dari perbaikan-perbaikan kecil ini berpotensi memberi kontribusi nyata terhadap beberapa agenda strategis negara. Penurunan unmet need dan percepatan menuju Total Fertility Rate ideal 2,1 turut menopang pengelolaan bonus demografi secara lebih terkendali, sehingga struktur penduduk usia produktif dapat benar-benar menjadi modal pembangunan, bukan justru menjadi beban akibat pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali. Penurunan prevalensi stunting berkontribusi langsung terhadap kualitas sumber daya manusia generasi mendatang, sebuah prasyarat mutlak bagi daya saing bangsa di tengah persaingan global. Sementara itu, penurunan angka pernikahan dini lewat penguatan GenRe berkontribusi memutus rantai kemiskinan antargenerasi, mengingat pernikahan dini kerap berkorelasi dengan putus sekolah dan keterbatasan akses ekonomi di kemudian hari.

Dengan kata lain, Arisan Program bukan sekadar inovasi teknis di tingkat pelayanan, melainkan simpul kecil yang—jika dirawat secara konsisten—dapat menyambung pada tujuan besar bangsa: penduduk yang berkualitas, keluarga yang tangguh, dan fondasi sumber daya manusia yang siap menyambut Indonesia Emas 2045.

Dari Sekadar Mengejar Target Menuju Perubahan yang Bermakna

Jika inovasi pelayanan publik ingin benar-benar berdampak, arah kebijakan perlu bergeser: dari sekadar mengejar angka partisipasi menuju membangun kualitas interaksi. Arisan Program semestinya tidak diposisikan sebagai kegiatan sampingan yang sifatnya insidental, melainkan sebagai strategi resmi dan terjadwal secara rutin, khususnya di wilayah dengan kesenjangan capaian tinggi—mengingat kebijakan penurunan angka kelahiran total memang sudah tidak bisa disamaratakan antarprovinsi sejak 2024 (BKKBN DIY, 2024).

Pendekatan ini relatif ringan untuk direplikasi karena tidak memerlukan anggaran besar atau struktur baru—cukup memanfaatkan pola arisan yang sudah dikenal luas oleh masyarakat, ditambah sedikit modifikasi berupa undian tema dan keterlibatan tiga unsur sekaligus. Penguatan ini juga sejalan dengan kerja lintas sektor yang selama ini sudah dijalankan penyuluh KB bersama Tim Pendamping Keluarga, kader, dan pemerintah desa (Kemendukbangga, 2026), yang tinggal diarahkan untuk memiliki forum rutin dan terstruktur seperti Arisan Program ini.

Pada akhirnya, inovasi pelayanan publik yang sejati bukan hanya soal menghadirkan teknologi atau metode baru, melainkan soal mendekatkan layanan pada logika hidup masyarakat itu sendiri. Angka partisipasi yang tinggi tidak lagi bermakna banyak jika tidak diikuti pemahaman dan kesadaran yang mendalam. Sebaliknya, satu PKB/PLKB yang semakin memahami kebutuhan riil wilayahnya, satu kader yang semakin percaya diri karena terus terlatih lewat rotasi tema, dan satu keluarga yang secara sadar memilih menjadi akseptor KB karena diyakinkan dalam forum yang terasa milik bersama—adalah representasi nyata dari keberhasilan yang jauh lebih substansial dibanding ribuan angka yang berdiri sendiri di atas laporan kinerja.

Dalam konteks besar menuju bonus demografi—masa ketika jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar dibanding usia non-produktif, sehingga berpotensi mendorong percepatan ekonomi—dan visi Indonesia Emas 2045, transformasi semacam inilah yang sesungguhnya dibutuhkan: bukan sekadar memperbanyak angka di setiap program Bangga Kencana, tetapi memperdalam nilai di baliknya—dimulai dari selembar kertas undian yang mempertemukan PKB/PLKB, kader, dan masyarakat dalam satu meja yang sama.

Wallahu a’lam bish-shawab.