Pendekatan Psikologi: Konsep Teori Humanistik oleh Beberapa Tokoh

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ariska Avrillyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Teori Humanistik muncul sebagai bentuk gerakan besar pada tahun 1950-an sampai 1960-an. Zaman ini dikenal dengan nama zaman renaisans atau zaman kebangkitan kembali. Selain itu, zaman renaisans juga dikenal dengan sebutan zaman pemikiran, perkembangan filsafat dan ilmu, serta kebangkitan manusia yang dulunya dikekang oleh peraturan agama. Perlawanan pada peraturan agama itulah yang membuat munculnya teori humanistik, Widiyatmoko (2023).
Humanistik merupakan teori yang berpusat pada individu untuk meningkatkan aktualisasi serta memahami diri sendiri. Nast dan Yarni (2019), menyatakan bahwa teori humanistik ini sangat menjujung tinggi isi dari proses belajar dan banyak membahas isu pendidikan dalam bentuk yang paling ideal. Teori ini mempunyai tujun untuk "memanusiakan manusia".
Ada beberapa tokoh yang mempraktikan teori humanistik dan mendeskripsikannya dengan berbagai makna, di antaranya:
Ausubel
Ausubel merupakan tokoh yang memiliki konsep menghubungkan informasi baru dengan informasi yang pernah didapat sebelumnya. Hal ini untuk menghindari belajar sekadar keperluan atau menghafal, melainkan perlu dipahami maknanya.
Taksonomi Bloom
Taksonomi membagi tujuan pembelajaran menjadi level, yang terdiri dari pengetahuan dasar, pemikiran kritis, dan evaluasi. Selain level, teori ini memiliki beberapa aspek, yaitu:
Aspek Kognitif, aspek ini berpegangan dengn kemampuan berpikir dan bagaimana cara mengolah informasi
Aspek Psikomotorik, aspek yang melibatkan otak untuk menggerakan otot
Aaspek Afektif, aspek ini melibatkan rasa dan emosi
Kolb, Honey, dan Mumford
David Kolb memiliki konsep belajari dari refleksi pengalaman. Honey dan Mumford mengadaptasi konsep Kolb dengan beberapa jenis, seperti aktif, reflektif, teoritis, dan pragmatis
Habermas
Habermas memiliki konsep pentingnya interaksi dalam pembelajaran,
Jadi, dapat kita simpulkan bahwa teori ini menuntut manusia untuk terus berkembang. Sumanti dan Nurul (2018) beranggapan bahwa seorang pendidik perlu mendorong peserta didik untuk mengutamakan praktik dan turut aktif dalam pembelajaran. Hal ini dapat diimplementasikan melalui diskusi, sehingga peserta didik mampu menumpahkan pemikirannya. Hal ini sejalan dengan konsep Habermas.
