Konten dari Pengguna

Jalan Ninja Menjaga Rupiah

Aris Rudianto

Aris Rudiantoverified-green

Analis di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aris Rudianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Petugas keamanan melakukan penjagaan di kawasan Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (3/9/2025). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petugas keamanan melakukan penjagaan di kawasan Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (3/9/2025). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Ketika neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit bulanan dan pasar mulai mencermati kinerja fiskal, persoalan rupiah menjadi lebih rumit. Momentum tersebut bertepatan dengan transisi kepemimpinan di Bank Indonesia, ketika pasar secara alamiah menaruh perhatian lebih besar pada arah kebijakan bank sentral ke depan. Defisit perdagangan mengurangi bantalan pasokan devisa, sementara meningkatnya perhatian terhadap kondisi fiskal ikut memengaruhi persepsi investor terhadap aset Indonesia. Dalam situasi seperti itu, mempertahankan BI-Rate saja tidak lagi cukup. Bank Indonesia dituntut memainkan berbagai "jurus ninja" di pasar uang agar gejolak nilai tukar tidak berkembang menjadi krisis kepercayaan.

Rupiah memang tidak mengenal sekat antara fiskal dan moneter. Ia juga tidak peduli apakah tekanan berasal dari konflik geopolitik, persepsi tekanan fiskal, ataupun melemahnya kinerja perdagangan luar negeri. Satu-satunya hukum yang menentukan nilainya adalah bagaimana pasar menerjemahkan seluruh informasi tersebut menjadi persepsi risiko. Ketika persepsi risiko meningkat, investor akan meminta premi yang lebih tinggi untuk memegang aset rupiah atau bahkan mengurangi kepemilikannya. Permintaan dolar pun meningkat, tekanan terhadap rupiah menguat, dan persoalan yang semula lahir dari rahim sektor mana pun akhirnya bermuara pada nilai tukar.

Di sinilah jalan ninja Bank Indonesia bekerja. Dalam dunia ninja, kemenangan tidak selalu diraih dengan menghunus pedang terbesar, melainkan memilih jurus yang paling tepat sesuai lawan yang dihadapi. Begitu pula bank sentral. Dalam situasi seperti itu, pilihan paling sederhana tentu menaikkan suku bunga. Namun ketika tekanan rupiah lebih banyak berasal dari kebutuhan devisa jangka pendek atau perubahan sentimen investor, menaikkan suku bunga justru bisa menjadi "senjata yang terlalu mahal." Bisa-bisa dunia usaha menanggung biaya pembiayaan yang lebih tinggi, sementara pasokan valuta asing belum tentu bertambah.

Karena itu, Bank Indonesia tidak bertumpu pada satu instrumen. BI-Rate tetap menjadi jangkar kebijakan moneter, tetapi di belakangnya bekerja berbagai "jurus ninja": triple intervention di pasar valas, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), swap lindung nilai, hingga perluasan Local Currency Transaction (LCT). Kombinasi instrumen tersebut memungkinkan bank sentral meredam gejolak rupiah secara lebih presisi dan targeted.

Jurus-jurus tersebut bahkan terus disempurnakan. Dalam RDG Juli 2026, BI memilih mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen, tetapi sekaligus memperluas berbagai insentif operasi moneter. Insentif pengurangan premi swap jual lindung nilai investasi portofolio dinaikkan menjadi 12,5 persen, sementara instrumen DNDF Jual Lindung Nilai Investasi Portofolio memperoleh insentif baru berupa pengurangan premi sebesar 15 persen. Logikanya sederhana namun penting. Dibanding terus menaikkan suku bunga yang dapat menekan aktivitas ekonomi, bank sentral memilih menurunkan biaya lindung nilai. Sehingga investor asing maupun pelaku usaha tidak latah memburu dolar setiap kali ketidakpastian meningkat. Dampaknya, pasokan valuta asing menjadi lebih terjaga dan stabilitas rupiah dapat dipertahankan dengan ongkos ekonomi yang lebih efisien.

Strategi tersebut menjadi semakin relevan ketika tekanan terhadap rupiah juga datang dari sisi neraca eksternal. Saat neraca perdagangan melemah, kebutuhan dolar dari importir meningkat secara alami. Dalam situasi demikian, menaikkan BI-Rate belum tentu menambah pasokan devisa. Yang terjadi justru biaya kredit domestik meningkat. Karena itu, instrumen yang mampu langsung memengaruhi likuiditas valuta asing seperti swap, DNDF, maupun LCT, menjadi jauh lebih efektif untuk meredam tekanan jangka pendek tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan ekonomi.

Namun, jalan ninja pun memiliki batas. Operasi moneter pada dasarnya digunakan untuk meredam volatilitas, menjaga kecukupan likuiditas, dan mencegah kepanikan pasar. Ketika sumber kegelisahan pasar berasal dari persoalan yang lebih mendasar, misalnya persepsi terhadap kinerja fiskal hingga problem struktural ekonomi, maka bank sentral hanya dapat meredam gejalanya. Selama akar persoalan tersebut belum dibenahi, ongkos menjaga stabilitas rupiah akan terus membesar.

Mekanismenya bekerja melalui persepsi risiko. Ambil contoh ketika kekhawatiran terhadap fiskal meningkat, Investor dapat meminta premi risiko lebih tinggi untuk tetap memegang aset rupiah, atau sebagian memilih mengurangi kepemilikannya. Dengan demikian, permintaan terhadap valuta asing meningkat dan rupiah tertekan. Persoalan yang mulanya lahir dari maqom fiskal, akhirnya menjalar ke ranah moneter. Pada titik itulah Bank Sentral tidak punya kemewahan untuk berdiam diri mengingat tekanan terhadap rupiah berpotensi menimbulkan efek domino ke perekonomian.

Di sinilah koordinasi kebijakan menjadi sangat menentukan. Kinerja fiskal, daya saing ekspor, hilirisasi industri, hingga kemampuan untuk menarik investasi produktif pada akhirnya akan menentukan seberapa kinclong kinerja nilai tukar. Semakin kuat fondasi ekonomi riil, semakin ringan pula intervensi moneter yang diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah.

Pada akhirnya, stabilitas rupiah bukanlah hasil kerja satu instrumen, apalagi satu lembaga. Ketika tekanan datang dari perdagangan luar negeri, persepsi fiskal, dan ketidakpastian global secara bersamaan, Bank Indonesia memang harus memainkan berbagai "jurus ninja" agar gejolak tidak berubah menjadi kepanikan. Namun bahkan ninja terbaik pun tidak bisa bertarung sendirian. Stabilitas nilai tukar tetap memerlukan duet yang solid antara moneter, fiskal, dan sektor riil.

Rupiah tidak akan bertanya apakah kegelisahan pasar datang dari fiskal, moneter, persoalan struktural, atau gejolak global. Pasar akan menghitung semuanya, lalu memberikan harga dalam bentuk nilai tukar. Karena itu, jalan ninja Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas tetap diperlukan, sebagaimana kredibilitas fiskal perlu terus dirawat agar ongkos stabilisasi tidak menjadi semakin mahal. It takes two to Tango.