Harga Cabai Melonjak: Mengapa Cabai Bisa Mengerek Inflasi Kita?

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Alif Albi Zahwan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kabar harga cabai melonjak kembali menjadi perbincangan di pasar dan di media sosial. Harga cabai rawit merah tercatat Rp98.050 per kilogram pada 29 September, naik dari Rp95.400 pada pekan sebelumnya. Sehari kemudian, data PIHPS menunjukkan harganya menyentuh Rp102.850 per kilogram di sumber lain, dan angka bisa berbeda tergantung waktu pencatatan dan wilayah. Di saat yang sama, Badan Pusat Statistik dijadwalkan mengumumkan inflasi September 2026 pada 1 Oktober.
Menurut saya, cabai adalah cermin yang jujur tentang rapuhnya ketahanan pangan kita. Satu komoditas kecil bisa mengguncang anggaran dapur jutaan keluarga dan ikut menggerakkan angka inflasi nasional. Karena itu, harga cabai melonjak seharusnya dibaca sebagai peringatan sistem, bukan sekadar berita musiman.
Seberapa besar dampak harga cabai melonjak ke inflasi
Perhitungan rata-rata bulanan menunjukkan harga cabai rawit sepanjang September naik 30,34% menjadi Rp81.634 per kilogram, dari Rp62.631 pada Agustus. Kelompok pangan bergejolak diperkirakan mengalami inflasi 1,77% secara bulanan, melonjak dari 0,88% pada Agustus. Konsensus pasar memperkirakan inflasi bulanan 0,30% dan tahunan 3,30%, sedangkan ekonom BCA memperkirakan 3,34% secara tahunan. Angka-angka itu masih proyeksi sampai BPS merilis data resmi.
Yang menarik, cabai bukan satu-satunya pemicu. Ekonom Maybank Indonesia menilai kenaikan harga beras, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, telur, gandum, dan cabai sama-sama mendorong inflasi bulan ini, dan kenaikan BBM non-subsidi turut menambah tekanan. Menariknya, tekanan inflasi inti justru diperkirakan melambat. Artinya, persoalannya lebih pada sisi pasokan pangan daripada permintaan yang terlalu panas.
Mengapa harga cabai sering bergejolak
Cabai cepat busuk, sulit disimpan, dan pasokannya sangat bergantung pada cuaca serta jadwal panen. Jarak antara petani dan konsumen sering panjang, sehingga sedikit gangguan di hulu langsung terasa berlipat di hilir. Ini pola lama yang terus berulang, dan justru karena itu seharusnya bisa diantisipasi.
Yang perlu dilakukan agar harga cabai tidak terus melonjak
Menurut saya, ada empat hal yang layak didorong:
Data panen dan stok yang terbuka, agar pemerintah daerah bisa bergerak sebelum harga naik, bukan sesudahnya.
Fasilitas penyimpanan dan pengolahan, seperti gudang berpendingin dan cabai olahan, untuk menyerap kelebihan panen dan menahan guncangan harga.
Kemitraan petani dengan pembeli besar, agar ada kepastian harga dan volume bagi kedua pihak.
Operasi pasar yang tepat sasaran dan tepat waktu, dengan sasaran jelas di wilayah yang harganya paling tinggi.
Bagi konsumen, strategi sederhananya adalah fleksibel: membeli secukupnya, memakai cabai olahan atau beku, dan membandingkan harga antarpasar. Bagi pelaku usaha kuliner, menyesuaikan resep atau porsi sementara bisa lebih aman daripada langsung menaikkan harga menu.
Penutup
Harga cabai melonjak akan mereda pada waktunya, tetapi pertanyaannya adalah apakah kita siap menghadapi lonjakan berikutnya. Kalau jawabannya hanya menunggu musim berganti, kita akan terus terkejut oleh hal yang sama. Stabilitas harga pangan dibangun sebelum krisis datang, bukan saat harga sudah menyentuh Rp100 ribu.
