Konten dari Pengguna

Mahasiswa Untag Edukasi Bahaya Pencemaran, lewat Festival Rintihan Kali Surabaya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aristoteles Achmad Choir Haqiqie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebelah kanan Aristoteles bersama temannya menjelaskan hasil penelitiannya tentang dampak pencemaran Kali Surabaya di Wisma Jerman, Jl. Taman AIS Nasution, Embong Kaliasin, Surabaya, Jatim
zoom-in-whitePerbesar
Sebelah kanan Aristoteles bersama temannya menjelaskan hasil penelitiannya tentang dampak pencemaran Kali Surabaya di Wisma Jerman, Jl. Taman AIS Nasution, Embong Kaliasin, Surabaya, Jatim

Surabaya (24/05/2025) - Mahasiswa semester 6 Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Aristoteles Achmad Choir Haqiqie, memberikan edukasi lingkungan tentang dampak pencemaran Kali surabaya bagi masyarakat.

Dengan mengikuti program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Aristoteles yang tengah menjalan magang di Ecological Observation and Wetland Conservations (ECOTON), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang fokus pada konservasi sungai dan edukasi lingkungan hidup.

Kegiatan magang MBKM ini berlangsung di desa Wringinanom, Kabupaten Gresik, lokasi yang juga merupakan pusat aktivitas ECOTON dalam memantau kondisi sungai di sekitarnya, seperti Sungai Brantas, Kali Surabaya, Kali Porong dan Kali Mas. Dalam kegiatan magang MBKM ini Aristoteles bersama 14 mahasiswa lainnya dari Untag Surabaya, membentuk komunitas peduli lingkungan yaitu “Surabaya River Revolution”, yang berada dibawah langsung tim ECOTON.

Komunitas ini bertujuan untuk melakukan edukasi publik tentang pentingnya menjaga kebersihan sungai, mengedukasi masyarakat terkait dampak pencemaran Kali surabaya bagi ekosistem sungai maupun kesehatan masyarakat karena tercemar limbah industri, limbah domestik, dan mikroplastik, dengan menggunakan pendekatan visual dan media digital dalam format yang mudah dipahami generasi muda.

Selain melakukan edukasi secara digital, komunitas “Surabaya River Revolution”, juga menyuarakan hasil penelitiannya tentang pencemaran Kali Surabaya di Festival Kali Surabaya: The Silent River di Wisma Jerman, jl. Taman AIS Nasution No.15, Embong Kaliasin, Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 24-25 April 2025.

Dalam seminar Festival Kali Surabaya: The Silent River, Aristoteles menjadi Narasumber, ia menjelaskan tentang bahaya pencemaran Kali Surabaya, bagi ekosistem sungai maupun kesehatan masyarakat yang tercemar limbah industri dan limbah domestik domestik yang dibuang langsung ke sungai tanpa pengolahan yang baik.

“Pencemaran Kali Surabaya tidak hanya berdampak pada ekosistem yang ada di sungai, tapi juga mengancam kesehatan masyarakat karena pencemaran bisa menyebabkan berbagai penyakit seperti Penyakit Kulit, Diare, Demam Berdarah, Tifus, bahkan Hepatitis A”, Ungkap Aristoteles.

Tidak hanya tercemar oleh limbah industri dan limbah domestik saja, Aristoteles juga menjelaskan bahwa rantai makanan di Kali Surabaya juga terkontaminasi mikroplastik yang dapat mengancam kesehatan. “Rantai makanan di ekosistem Kali Surabaya juga terkontaminasi mikroplatik, mikroplastik dimakan oleh plankton lalu plankton dimakan oleh ikan lokal yang ada di Kali Surabaya, dan masyarakat menangkap lalu mengonsumsi ikan yang mengandung mikroplastik, mereka tidak tahu bahwa mikroplastik dapat mengakibatkan masalah pencernaan dan gangguan pernapasan karena dapat mengendap disaluran pernapasan”, Jelasnya.

Melalui acara tersebut Aristoteles memberikan edukasi kepada masyarakat dengan pendekatan Komunikasi Lingkungan, ia sebagai komunikator menyadarkan bahwa pencemaran sungai adalah masalah serius yang harus diperhatikan, dan pemerintah harus tegas dalam kebijakannya untuk menjaga kelestarian lingkungan yang sering diabaikan dan dianggap bukan masalah serius bagi kehidupan masyarakat.

Hal ini menjadi bukti nyata bahwa program magang MBKM dapat berkontribusi dalam menyelesaikan isu-isu lingkungan yang ada disekitar masyarakat. Para Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNTAG menunjukkan bahwa ilmu yang mereka dapatkan di Universitas bisa berdampak nyata di tengah masyarakat.