Konten dari Pengguna

Nasi Grombyang, Warisan Kuliner Tradisional dari Pemalang yang Menggoda Selera

Ariya Kusuma Seta

Ariya Kusuma Seta

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Komunikasi Konsentrasi Public Relations

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ariya Kusuma Seta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nasi Grombyang bukan sekedar kuliner, melainkan warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat Pemalang sejak era 1978. Di balik rasa gurih dan aroma rempahnya, tersimpan kisah panjang tentang tradisi dan kesederhanaan yang memikat siapa saja untuk mencicipinya.

Foto: Pedagang Nasi Grombyang Hj. Warso
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Pedagang Nasi Grombyang Hj. Warso

"Awalnya saya dan para penjual lain berkeliling kampung menjajakan nasi ini, agar semua orang bisa merasakan kelezatannya. Kuah yang berlimpah dan nasi yang tampak bergoyang itu menjadi ciri khas kami. Resepnya sudah turun-temurun dari keluarga dan kami juga masih menggunakan cara tradisional memasak dengan kayu bakar agar rasanya otentik," ujar Slamet, pedagang Nasi Grombyang Hj. Warso pada Selasa (11/11).

Nasi Grombyang terdiri dari nasi putih yang disiram kuah kaldu sapi pekat dengan potongan daging empuk, bumbu rempah seperti lengkuas, jahe, kunyit, daun salam, kemiri, serta serundeng yang memberikan aroma khas. Kuahnya lebih banyak daripada nasi, sehingga saat disajikan nasi terlihat "bergoyang-goyang" mengikuti gelombang kuah tersebut.

Foto: Nasi Grombyang Hj. Warso

"Saya sudah makan Nasi Grombyang sejak kecil. Rasanya kaya, hangat, dan membuat saya ketagihan. Walau sederhana, makanan ini penuh rasa dan membawa kenangan masa kecil saya. Rasanya itu beda dengan kuliner lain yang pernah saya coba," ujar Septi, pengunjung Nasi Grombyang Hj. Warso pada Selasa (11/11).

Kini Nasi Grombyang tidak hanya menjadi favorit warga lokal, tetapi juga menarik wisatawan yang ingin mencicipi keunikan rasa dan budaya di Pemalang. Dari warung pinggir jalan hingga tempat makan yang semakin modern, kuliner ini terus lestari sebagai simbol kehangatan dan kekayaan kuliner daerah.

Ariya Kusuma Seta, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.