Kesenian Jaran Kepang Menjadikan Ciri Khas Temanggung

Halo saya Arjun Aditia dari Universitas Negeri Yogyakarta, di sini saya menjadi penulis artikel yang bertujuan untuk memberikan informasi kepada masyarakat bahwa Indonesia itu beragam.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Arjun Aditia23 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Latar Belakang Jaran Kepang
Kuda lumping adalah salah satu bentuk seni dan budaya Jawa yang tersebar luas di Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga Jawa Timur dan pesisir utara Laut Jawa. Kesenian kuda lumping memiliki keterkaitan yang kuat dengan Temanggung, terutama karena banyaknya paguyuban yang ada di daerah ini. Selain itu, kuda lumping juga menjadi salah satu hiburan masyarakat Temanggung, di samping seni budaya lainnya seperti Wayang Kulit dan karawitan. (Sumber refrensi jurnal)

kabupaten Temanggung selain dikenal sebagai kota Tembakau (penghasil Tembakau) juga dikenal memiliki pertumbuhan seni dan budaya dari lingkungan masyarakat, salah satu kesenian yang sering masyarkat lihat adalah keseian Jaran Kepang yang telah tumbuh, terpelihara dan berkembang digenerasi ke generasi hingga kini. Jaran kepang merupakan asset daerah yang luar biasa yang dimana setiap desa di Kabupaten Temanggung mempunyai Kelompok atau Sanggar seni Jaran Kepang, yang perlu dilestarikan dan dikembangkan agar bermanfaat bagi masyarakat baik secara estetika maupun ekonomi.
Terdiri kurang lebih 700 kelompok Jaran Kepang yang sudah terdaftar di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Temanggung dan semua masih aktif dalam pelaksanaan pelatihan dan pentas. Dalam upaya menjaga nilai – nilai luhur budaya yang harus dilestarikan dan menjaga kelangsungan pemurnian Jaran Kepang Temanggungan untuk menentukan ciri khas agar tidak diklaim milik masyarakat selain Temanggung.
Dikutip dari BAPPEDA Temanggung, Jaran Kepang Temanggungan merupakan salah satu warisan budaya tak benda yang sudah ditetapakn oleh Dirjen Kebudayaan Republik Indonesua tahun 2019. Hal ini menunjukan bahwa pelestarian warisan budaya jaran Kepang Temanggungan sangat dianjurkan dan harus dikembangkan agar tetap digemari oleh generasi muda. Pengangkatan Jaran Kepang Temanggungan sebagai identitas budaya daerah sejalan degan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD).
Pementasan jaran kepang di Temanggung umumnya diadakan sebelum dan setelah musim panen raya tembakau. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan bagi masyarakat, tetapi juga merupakan bagian dari ritual atau upacara adat yang berkaitan dengan pertanian tembakau. Setelah panen raya tembakau, diadakan syukuran untuk merayakan hasil yang diperoleh dengan menggelar kesenian jaran kepang. (BAPPEDA KABUPATEN TEMANGGUNG, 2023)
Beberapa tokoh penelitian menyampaikan terkait dengan Jaran Kepang Temanggung antara lain:
Hanifa Alifa Radhia menyebutkan bahwa Jaran Kepang memiliki fungsi ritual yang diubah menjadi hiburan
Kartika dalam tesisnya menjelaskan seni Jaran Kepang di Kabupaten Temanggung telah mengalami perkembangan namun pembinaan sehingga para pelaku seni mengembangkan seni Jaran Kepang seusai dengan pemahamannya.
Joko Wiyoso dalam penelitiannya menyatakan bahwa sebagai daya tarik dalam pertunjukan, Jaran Kepang atau Jathilan menggabungkan unsur tari dan musik.
(Kartika et al., 2022)
A. Perkembangan Periode Kesenian Jaran Kepang
Seni pertunjukan untuk tetap hidup pasti mengalami perkembangan sesuai dengan masyarakat penduduknya. Begitu juga dengan Jaran Kepang ini telah mengalami banyak sekali perkembangan yang dilakukan agar tetap menarik generasi muda sebagai penerus kesenian tersebut.
Menurut informasi dari beberapa sumber, perkembangan Jaran Kepang dapet di Kelompokkan menjadi beberapa periode, anatara lain:
Masa Sebelum Tahun 1960-an
Pada masa ini, Jaran Kepang ditampilkan dengan sederhana, baik dari segi gerakan, musik, kostum, maupun properti. Kuda kepang terbuat dari bambu dengan hiasan ijuk. Gerakan didominasi oleh garis lurus dengan variasi gerakan bersama. Properti seperti penthul, tembem, dan barongan digunakan sebagai variasi. Pemain sering kesurupan dan biasanya meminta hal tertentu, seperti musik khusus atau benda seperti ayam hidup dan kelapa. Pawang bertugas menyadarkan pemain dengan doa, dan bagian ini sangat dinantikan penonton karena menarik saat trance terjadi.
Masa antara tahun 1960 - 1970-an
Gerakan sudah berpola, tetapi belum baku, mengikuti pola kendangan atau meniru gerak jaran yang disebut onclangan. Musiknya sederhana, terdiri dari kendang, bende, angklung, gong, kempul, vokal, dan senggak. Masih ada bagian trance atau kesurupan, serta kehadiran penthul, tembem, dan barongan.
Masa Tahun 1970 – 1980
Pada tahun 1972 dilakukan penelitian tentang Jaran Kepang oleh pemerintah daerah Temanggung melalui Inspeksi daerah kebudayaan yang dipimpin oleh R. Soebagyono. Hasil penelitian dirumuskan beberapa gerak ciri khas dari jaran kepang Temanggung sejumlah 52 gerakan. Mulai masa ini mulai ditata jaran kepang menjadi sebuah tarian yang baku, baik gerak, maupun musiknya. Pola lantai lebih variatif dengan pengembangan gerak yang bersumber dari gerak jaran kepang masa sebelumnya.
Masa tahun 2000 sampai sekarang
Pada akhir tahun 90-an, bersamaan dengan krisis moneter dan reformasi, perkembangan Jaran Kepang Temanggung mengalami perubahan. Setiap kelompok mulai berinovasi dan berkreasi secara bebas, meninggalkan aturan baku Jaran Kepang Idakep. (BAPPEDA KABUPATEN TEMANGGUNG, 2023)
Tujuan dan maksud dalam pengembangan dan pelestarian ini adalah untuk menjaga budaya turun – temurun agar tidak diklaim oleh masyarkat luar, dengan tujuan utma adalah
Pengembangan inovasi dan kreasi yang dilakukan tidak keluar dari pakem jaram kepang temanggungan
Mengedepankan ciri khas unik yaitu mencirikan kekhasan jaran kepang temanggungan
Pemajuan jaran kepang temanggung
B. MANFAAT
Dalam pelestarian budaya yang dilakukan oleh pemerintah, pasti ada manfaat yang ada. Berikut ini adalah manfaat – manfaat yang ada:
Pelestarian jaran Kepang dapat berjalan dengan regenerasi
Menjadikan budaya yang diakui secara luas dan mempunyai ciri khas khusus
Pemanfaatan media pariwisata yang juga bisa menghasilkan manfaat ekonomis
Menjadi sarana pembinaan. (BAPPEDA KABUPATEN TEMANGGUNG, 2023)
SIMPULAN
Kesenian Jaran Kepang menjadikan identitas utama di Kabupaten Temanggung, yang dimana budaya ini harus dilestarikan dan dikembangkan agar budaya yang sudah turun temurun ini tidak diklaim oleh masyarakat luar Temanggung. Cara pelestarian tersebut dilakukan dengan kesadaran masyarakat mengenai budaya yang ada di Kabupaten Temanggung, selain itu pemuda pemudi yang di daerah tersebut bisa mengembangkannya. Pentingnya reorganisasi menjadikan anak muda kedepan bisa membangun dan mengembangkan kesenian ini menjadi kesenian yang dinikmati oleh masyarakat lokal maupun luarf. Hal ini bisa juga terdapat manfaat yang baik bagi perekonomian masyarakat, dengan adanya hiburan ini masyarakat luar bisa melihat betapa Temanggung memiliki budaya yang indah.
