Rumah Aya, Tayang 3 Sesi Hari Ini

Mahasiswa Program Studi Televisi dan Film, Universitas Jember. Podcaster #KataArka - Dengerin di Spotify, iTunes, Noice dan Roov.
Tulisan dari Arka Ardhyansah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Film Rumah Aya, hari ini sukses menutup malam dengan haru. Total ada 270 penonton yang dibagi menjadi 3 sesi pada hari ini. Dimulai dari sesi 1 yang dihadiri oleh Bapak Rektor Universitas Jember Dr. Ir. Iwan Taruna, M.Eng.

Hadir pula Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Bapak Prof.Dr.Sukarno, M.Litt, lalu Kaprodi Televisi dan Film Bapak Drs. A. Lilik Slamet Raharsono, M.A. serta Kapolres Jember AKBP Arif Rachman Arifin, SIK., MH. dan Pemilik Kota Cinema Mall Bapak Iwan Sasongko.
Tak hanya tokoh penting yang hadir dalam pagelaran karya tugas akhir Iqbal Amanta dan Dwi Cahyo, orang tua, teman serta khalayak umum juga ikut turut serta menonton film yang menyuguhkan cerita menarik ini;
Film Rumah Aya bercerita tentang hubungan seorang ayah yang bernama Bari dan anaknya bernama Aya. Aya memiliki kepintaran dan prestasi diatas rata-rata untuk anak seusianya. Hal ini membuat Aya bosan dengan teman sebayanya yang dirasa terlalu lamban hingga Aya memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan khusus bagi anak – anak berbakat. Alih alih memberi izin penuh, Bari malah sama sekali tidak setuju dengan pendidikan khusus dan tetap menginginkan Aya untuk menempuh pendidikan normal agar memiliki pengalaman sosial yang dirasa Bari sangat dibutuhkan anak seusia Aya.
Pada awalnya pemutaran akan dilakukan hanya dengan 2 sesi. Sesi 1 di khususkan untuk undangan dan sesi 2 untuk masyarakat umum. Namun, tiket yang kami jual habis dalam waktu kurang dari 24 jam sehingga banyak calon penonton yang kecewa karena tidak mendapat kesempatan untuk menonton film ini. Melihat animo masyarakat yang sangat besar, pada akhirnya kami memutuskan untuk membuka sesi ke-3.
Dalam sesi tanya jawab pengkarya dengan audiens atau penonton, ada salah satu penonton yang bertanya perihal proses casting, Dwi Cahyo menjawab bahwa proses casting memakan waktu cukup lama hingga akhirnya bertemu Sasa yang memerankan Aya.
'Proses casting 70-80 orang mendaftar untuk mencari pemain, dan 5 anak kecil yang mendaftar tokoh dan cocok untuk memerankan Aya adalah Sasa. Sasa cukup cepat memahami karakter tokoh Aya dalam naskah dan ini luar biasa sekali.' Jelas Dwi Cahyo.
Cinta Nia, salah satu penonton yang hadir juga bertanya berapa lama proses pembuatan film Rumah Aya. Iqbal Ananta lalu bercerita dari mula ia menemukan ide dari menonton pagelaran temannya hingga kemudian proses kreatif pembuatan naskah dan bekerja sama dengan Dwi Cahyo dalam proses tersebut.
'Awal saya bingung mau bikin film apa? Terus saya tanya ke teman gimana cara menemukan ide? Jawabannya orang terdekat, jadi bagi saya orang terdekat bagi saya adalah saya sendiri. Penulisan ide dari tahun 2018 sampai akhir 2019 naskah sudah jadi draft pertama, dan ketemua mas cahyo untuk develop selanjutnya, produksi mulai maret semingguan, pasca produksi dari alhir maret sampai akhir tahun 2020.'
Terakhir apresiasi dari Dosen Televisi dan Film Bapak Muhammad Zamroni, S.Sn. M.Sn yang turut bangga melihat mahasiswanya berhasil mengemas cerita yang apik dan layak untuk ditonton.
'Saya cukup apresiasi dengan pemutaran film ini karena pemutaran di hadiri orang-orang istimewa, Pak kapolres, Rektor, Pemilik KCM, Orang tua hadir. Ini cukup istimewa, dan saya bangga akan film ini.' Jelas beliau.
'Yang jelas, meskipun ini film terakhir dari rangkaian tugas akhir kami, kami tidak akan berhenti disini. Kedepannya, kami akan menjalankan serangkaian roadshow dan mengikuti festival agar film-film yang kami produksi bisa ditonton lebih luas lagi.'
Empatbelas Project juga akan terus berkarya dan bercerita melalui medium film, entah fiksi maupun dokumenter, film panjang ataupun pendek, dan dari genre apapun.
Terakhir, pengkarya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung pagelaran karya tugas akhir mereka pada malam hari ini.
'Terimakasih semua kepada penonton yang telah hadir, Pak Rektor, Kapolres, Dekan, Dosen, Kru, Panitia pemutaran dan kedua orang tua saya yg telah memberi ruang untuk studi di PSTF.'
