Konten dari Pengguna

Dari Dapur ke Sabun: KPA Arkadia UIN Jakarta Perkenalkan Program CANTIKA

Arkadia Masaoly

Arkadia Masaoly

Anggota Kelompok Pencinta Alam Arkadia UIN Jakarta

·waktu baca 3 menit

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
14
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arkadia Masaoly tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu permasalahan yang masih banyak ditemukan di lingkungan masyarakat adalah soal pembuangan minyak jelantah. Banyak warga, terutama ibu rumah tangga masih bingung harus dijadikan apa minyak bekas pakai itu. Dibuang sembarangan jelas bukan pilihan, karena bisa mencemari lingkungan. Tetapi alternatif pengolahannya pun belum banyak yang tau.

Melihat persoalan tersebut, kami sebagai anggota Kelompok Pencinta Alam (KPA) Arkadia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berinisiatif mengadakan program sosialisasi pengolahan minyak jelantah atau bisa disebut CANTIKA (Cinta Jelantah, Peduli Lingkungan). Lewat program ini, kami ingin mengenalkan cara sederhana mengolah minyak jelantah menjadi sesuatu yang bermanfaat, yaitu sabun cuci.

Kegiatan sosialisasi ini kami laksanakan di aula Kelurahan Cigugur dan diikuti oleh 18 peserta yang mayoritas merupakan ibu-ibu PKK dari berbagai cabang di wilayah Cigugur.

Foto Bersama di Kegiatan Sosialisasi Tentang Minyak Jelantah Oleh Mahasiswi Ekspedisi Arkadia Masaoly "Auris Silvae" Bersama Ibu-Ibu PKK Desa Cigugur (Sumber: Dokumentasi Auris Silvae Expedition UIN Jakarta)

Minyak jelantah adalah minyak goreng yang telah digunakan berulang kali dan mengalami proses pemanasan berlebih. Dari sisi kesehatan, penggunaan minyak jelantah secara terus-menerus bisa menimbulkan berbagai penyakit serius seperti jantung, stroke, hingga memicu pertumbuhan sel kanker karena kandungan senyawa berbahaya di dalamnya.

Tak hanya berdampak pada kesehatan, minyak jelantah juga membawa risiko besar terhadap lingkungan. Jika dibuang sembarangan ke saluran air, minyak ini dapat menggumpal karena sifatnya yang tidak dapat menyatu dengan air. Akibatnya, saluran air bisa tersumbat dan dalam jangka panjang berpotensi menyebabkan banjir. Sementara itu, jika dibuang ke tanah, minyak jelantah bisa merusak ekosistem tanah dan menghambat pertumbuhan tanaman karena lapisan minyak menghalangi tanah menyerap air dan oksigen.

Kegiatan Praktek Pengolahan Minyak Jelantah Menjadi Sabun Oleh Ibu-ibu PKK Kelurahan Cigugur (Sumber: Dokumentasi Auris Silvae Expedition UIN Jakarta)

Kegiatan sosialisasi dimulai dengan penyampaian materi seputar minyak jelantah. Setelah sesi edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung membuat sabun dari minyak jelantah.

Dalam sesi praktik ini, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Tujuannya agar setiap orang bisa lebih fokus dan benar-benar memahami proses pembuatan sabun, sehingga nantinya dapat dengan mudah dipraktikkan secara mandiri di rumah.

Menariknya, alat dan bahan yang digunakan untuk membuat sabun ini cukup sederhana dan mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini adalah daftar alat dan bahan, serta langkah-langkah pembuatan sabun jelantah yang kami gunakan dalam sosialisasi:

Poster Tata Cara Pembuatan Sabun dari Minyak Jelantah Oleh Anggota Auris Silvae Expedition

Kegiatan ini mendapat respon positif dari masyarakat. Banyak peserta mengaku baru pertama kali mendapatkan sosialisasi mengenai cara mengolah minyak jelantah menjadi sabun. Namun perlu digaris bawahi bahwa sabun yang telah dibuat tidak bisa digunakan untuk tubuh dikarenakan terdapat senyawa berbahaya yang sensitif bagi beberapa orang. Sabun ini hanya bisa digunakan untuk mencuci lap, kaus kaki, maupun benda-benda kecil lainnya. Dan baru bisa digunakan setelah proses saponifikasi selama 14 hari setelah proses pembuatan.

Kami berharap program ini tidak berhenti sampai di sini. Ke depannya, kegiatan serupa bisa terus berlanjut, misalnya dengan membentuk bank minyak jelantah sebagai wadah pengumpulan limbah minyak rumah tangga. Dari situ, pengolahan bisa dilakukan secara kolektif dan berkelanjutan bersama warga.

Bila dijalankan secara konsisten, kegiatan ini bukan hanya membantu mengurangi pencemaran lingkungan, tapi juga bisa menjadi peluang usaha yang menghasilkan pemasukan tambahan bagi masyarakat.