Overthinking: Mencari Solusi atau Larut dalam Pikiran?

Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Konten dari Pengguna
21 Desember 2021 13:50
·
waktu baca 5 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Muhammad Arkan Ghozy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT

"Kita sengsara karena terlalu banyak berpikir, kita perlahan membunuh diri kita sendiri dengan memikirkan segalanya." -Antony Hopkins

sumber: Pixabay (kata kunci: murung, putus asa)
zoom-in-whitePerbesar
sumber: Pixabay (kata kunci: murung, putus asa)
Halo teman-teman! Apa kabar? Kita pastinya setuju bahwa berpikir itu baik untuk melatih otak, namun apakah memikirkan suatu hal berulang-ulang itu baik? Bahkan sampai lupa dengan aktivitas lain yang lebih penting, wajarkah kita berpikir sampai seperti itu? Beberapa dari kita cenderung tidak bisa melupakan suatu masalah di masa lalu sehingga terus menyalahkan diri sendiri, lalu karena khawatir hal tersebut dapat terjadi lagi, kita jadi serba khawatir dengan masa yang akan datang. Pada akhirnya, rasa takut ada, solusi belum. Maka dari itu, penting bagi kita untuk mengetahui kapan kita harus membatasi cara berpikir kita terhadap suatu hal. Yuk, simak hal-hal berikut ini!
ADVERTISEMENT

Overthinking Itu Seperti Apa?

Nah, sekarang yang terpenting nya adalah kita harus tau dulu overthinking itu seperti apa. Mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita mendengar seseorang bertanya "Kamu lagi overthinking ya?", karena hal tersebut sudah pernah dialami oleh rata-rata dari kita. Umumnya, overthinking adalah ketika kita memikirkan suatu hal yang tidak produktif dan diulang-ulang. Hal ini sebenarnya mirip dengan ruminasi, yang artinya mengulang suatu pikiran tentang masa lalu atau masa kini, dan mengkhawatirkan masa yang akan datang.

Mengapa Overthinking Tidak Bermanfaat?

Oke, di sini kita akan mengambil satu contoh, misalnya kita sedang mengikuti suatu acara bersama orang lain seperti pesta, kencan, atau yang lainnya. Namun, yang seharusnya kita fokus dengan kegiatan tersebut, justru kita lebih fokus memikirkan apakah tindakan kita yang telah berlalu itu benar atau tidak, khawatir bagaimana jika hal tersebut terjadi lagi kepada kita, pernah kan kalian mengalami hal yang serupa? Itulah salah satu contoh yang mungkin familiar bagi sebagian orang yang pernah overthinking.
sumber: Pixabay (kata kunci: gadis, kecewa, sedih)
zoom-in-whitePerbesar
sumber: Pixabay (kata kunci: gadis, kecewa, sedih)

Dampak Overthinking Terhadap Aspek yang Lebih Besar

Nah, sampai di sini mungkin ada beberapa dari kita yang baru memahami bahwa overthinking hanyalah satu masalah yang tidak dapat menyebabkan hal lain. Maka dari itu, mari kita simak beberapa argumen dari para jurnalis dan peneliti tentang betapa berbahaya nya dampak overthinking terhadap beberapa aspek lain.
ADVERTISEMENT
  1. Overthinking Dapat Menyebabkan Depresi Nah, ini salah satu dampak terburuknya kawan! Pemikiran berulang yang berfokus pada masa depan (kekhawatiran) dapat berkaitan dengan kecemasan, pemikiran berulang yang berfokus pada masa lalu dan sekarang juga berkaitan dengan depresi (Nolen, 2000). Nah, mungkin lebih masuk akal nya, overthinking ini bersifat sebagai pencemas dan juga dapat membuat perasaan kita sangat jenuh serta penuh kekhawatiran, sehingga itu dapat membuka pintu yang lebar bagi depresi untuk masuk.
  2. Overthinking Dapat Menyebabkan Anxiety Hal lain yag dapat disebabkan oleh overthinking adalah anxiety. penelitian telah menemukan hubungan yang kuat antara overthinking dan mood (Segerstrom dkk., 2000). Secara lebih spesifik, kekhawatiran yang berfokus pada masa depan juga berkaitan dengan kecemasan (Mclaughlin dkk., 2007). Secara logika penelitian tersebut sangat masuk akal, kita bisa saja mengkhawatirkan suatu hal sembari merasa cemas secara perasaan. Sehingga, sangat penting bagi kita untuk membatasi cara berpikir kita, memastikan agar pikiran tersebut tidak membuat kita khawatir secara berlebihan.
  3. Overthinking Dapat Memengaruhi Pola Tidur Buat yang suka overthinking, kalian pasti sudah tidak asing dengan dampak satu ini! Terlalu banyak berpikir, gejala kecemasan, dan depresi yang menemani dapat memengaruhi tidurmu secara negatif (Pillai dan Drake, 2015). Maka dari itu, tidur yang buruk juga berkaitan dengan hasil kesehatan yang negatif (Luyster dkk., 2012). Wah! Pastikan sebelum tidur kalian tidak memikirkan banyak hal ya!
sumber: pixabay (kata kunci: sedih, sendiri)
zoom-in-whitePerbesar
sumber: pixabay (kata kunci: sedih, sendiri)

Bagaimana Agar Berhenti Overthinking?

  1. Cobalah Bersikap Lebih Tenang Disaat kamu mulai memiliki pikiran yang bercabang-cabang, kamu akan mulai panik dan cemas, maka dari itu, coba sadari bahwa belum tentu pikiran bercabang tersebut ada benarnya, sehingga dari situ, kamu akan merasa lebih tenang dan paham bahwa bersikap lebih tenang dapat menghentikan pikiran yang negatif.
  2. Cari Beberapa Perspektif Lain Cobalah cari beberapa referensi dari teman atau orang terdekatmu untuk cerita atau konsultasi tentang masalah yang kamu pikirkan berkali-kali itu, karena dengan menerima perspektif yang berbeda, kamu akan tau sampai di titik mana pikiran mu sudah diluar dari pemikiran yang masuk akal.
  3. Akhiri Pikiran dengan Solusi Suatu masalah yang kita pikirkan akan sulit untuk dilupakan jika kita tidak mengambil pelajaran untuk dijadikan solusi ke depannya. Maka dari itu, penting bagi kita untuk fokus mencari solusi dari permasalahan yang sudah berlalu, sehingga dari situ kita bisa menghentikan kecemasan dan kekhawatiran tentang masalah tersebut, lalu kita akan paham jika masalah itu datang kembali, solusi sudah kita temukan.
ADVERTISEMENT
Oke, terima kasih teman-teman yang sudah baca sampai akhir! Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kalian semua. Dari sini kita sudah paham kan betapa bahaya nya kebiasaan overthinking terhadap kehidupan sehari-hari kita? Walaupun sebenarnya kebiasaan tersebut relatif mudah kita hindari. Selama kita aware dengan tanda-tanda dari overthinking, kita akan terhindar dari dampak yang bisa jadi lebih parah dari hal tersebut.
Stop overthinking. Whatever happens, happens
DAFTAR PUSTAKA
Nolen-Hoeksema, S. (2000). The role of rumination in depressive disorders and mixed anxiety/depressive symptoms. Journal of Abnormal Psychology, 109(3), 504–511
Segerstrom, S. C. Tsao, Jennie. Aiden, Lynn. Craaske, Michelle. 2000. Worry and Rumination: Repetitive Thought as a Concomitant and Predictor of Negative Mood. University of Kentucky Press.
Pillai, V., & Drake, C. L. (2015). Sleep and repetitive thought: The role of rumination and worry in sleep disturbance. In K. A. Babson & M. T.
ADVERTISEMENT
Luyster FS; Strollo PJ; Zee PC; Walsh JK. Sleep: a health imperative. SLEEP 2012;35(6):727-734.
McLaughin, Katie, Borkovec, Thomas & Sibrava, Nicholas. (2007). The Effects of Worry and Rumination on Affect States and Cognitive Activity. Behavior therapy. 38. 23-38. 10.1016/j.beth.2006.03.003.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020