Menjamurnya Coffee Shop di Yogyakarta, Siapa yang Diuntungkan?

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Tulisan dari Arkhan Nurtiaz Faadihilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, coffee shop sedang memasuki masa jaya-jayanya.
Hampir disetiap daerah pasti terdapat coffee shop, tak terkecuali di Yogyakarta. Coffee shop di Yogyakarta sudah tidak terhitung lagi, keberadaannya hampir sama dengan angkringan, dimana disetiap sudut kota pasti dapat kita jumpai. Apalagi coffee shop menjadi salah satu tempat favorit bagi kalangan anak muda, terutama para mahasiswa. Bisa dipastikan mereka pernah mengunjungi coffee shop, entah sekedar nongkrong atau untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah mereka.
Salah satu barista coffe shop di Yogyakarta, Daffa Adli Athalla (20), bercerita tentang fenomena menjamurnya coffee shop di Yogyakarta.
“Sebenernya jika banyak coffee shop di Yogyakarta ,dampak positifnya yang pertama industri kopi akan lebih maju. Pemasok seperti petani, dan roastering akan lebih laku, dan mungkin yang agak dipikiran tentang persaingan bisnis kopi akan lebih ketat,” begitu kurang lebih ujarnya.
Jika ditanya sejak kapan coffee shop mulai ada di Yogyakarta, dari yang dia ketahui, sebenernya coffee shop di Yogyakarta mulai ada sekitaran tahun 2009, namun mulai ramai sekitar 2-3 tahun yang lalu, atau sekitaran tahun 2017/2018 sampai sekarang.
Lokasi yang strategis untuk mendirikan coffee shop di Yogyakarta terletak di area dekat yang dengan kampus, khususnya daerah utara seperti Condongcatur, Seturan, Gejayan, yang mana disana terdapat banyak kampus seperti, UGM, UNY, UPN, UII,UIN, dan masih banyak lagi.
“Rata-rata customer itu berasal dari kalangan anak muda terutama mahasiswa, biasanya kalau di jogja ini kan terkenal dengan kota pelajar yang otomatis mahasiswa pun juga banyak di jogja,” ujarnya.
Dengan alasan tersebut, banyak para pebisnis tertarik untuk mendirikan coffee shop di Yogyakarta. Daffa juga menuturkan bahwa kopi memiliki ruh yang dapat menarik perhatian orang-orang.
“Jadi rata-rata pebisnis pun mendirikan coffee shop, tetapi ada juga beberapa yang hanya mengatas namakan coffee shop, namun kopi yang dijual tidak terlalu banyak, dan pasti ada menu variasi lainnya,” ujarnya.
Akan tetapi dengan adanya pandemi seperti saat ini memberikan dampak yang signifikan bagi pelaku usaha coffee shop, yang biasanya ramai pengunjung kini menjadi sepi karena adanya pandemi ini. Daffa bercerita jika pandemi ini merubah sistem yang ada di coffee shop, dahulu jika ingin ngopi harus pergi ke coffee shop, sedangkan saat ini bisa ngopi di rumah karena coffee shop hanya melayani take away.
“Yang menjadi masalah kan bagaimana agar pendapatan bisa tinggi, karena dibalik itu kan mbayar sewa dan tagihan, terutama tagihan listrik coffee shop yang sangat tinggi apalagi yang mempakai mesin. Nah biasanya beberapa coffee shop ada yang mengalami down grade, dia menurunkan kualitas agar tidak terlalu rugi,” ujarnya.
Dari semua ini, pihak yang diuntungkan dari fenomena menjamurnya coffee shop di Yogyakarta sebenernya banyak, terutama para pebisnis, roastery, dan petani. Namun yang paling utama adalah petani. Karena petani sempat mengalami penurunan harga, karena ada juga beberapa kebun yang sudah melakukan eksportir tetapi dikarena awal-awal pandemi eksportir ditutup, jadi agak rumit untuk bisa mengirim ke luar negeri.
“Sehingga jika banyak coffee shop di Yogyakarta, otomatis kan bahan utamanya itu kopi, nah sebelum itu pasti akan banyak stok permintaan ke roastery, dibalik itu roastery harus menyiapkan stok yang cukup untuk coffee shop, pasti mereka akan menghubungi petani untuk mengambil biji kopi itu sendiri. Jadi sebenarnya ini termasuk dampak positif, karena menguntungkan banyak pihak dan memberikan banyak manfaat terutama bagi petani,” kurang lebih begitu ujarnya.
Namun apakah petani kopi sudah dapat dikatakan makmur dengan adanya fenomena menjamurnya coffee shop ini?. Kita tidak bisa membandingkan pikiran orang desa dengan orang kota, terutama orang desa merasa kaya kalau dia mempunyai lahan, sedangkan orang kota merasa kaya kalau mempunyai uang.
“Tapi kita lihat lagi, dari tahun-tahun sebelumnya sampai sekarang itu 70% hasil petani diambil oleh pabrik, seperti kopi instan. Jika dilihat, hasil pendapatan para petani bisa dikatakan masih kurang, apalagi untuk mencukupi kebutuhan hidup. Nah sedangkan bagi kita para penikmat kopi yang benar-benar mencari kualitas kopi sendiri, kita dapat memberikan lebih banyak keuntungan bagi petani, karena kita tidak semena-mena untuk memberi harga. Karena untuk mendapatkan cita rasa kopi yang bagus, petani berperan sebesar 60% untuk kualitas kopi, 30% dari roastery dan 10% baru dari baristanya,” pungkasnya.
