Jejak di Depan Pintu: Misteri Harimau Penjaga dari Kampung Rambutan

Tatat Usaha di MAN 2 Bengkalis, Kabupaten Bengkalis
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari SUJARMAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tidak ada seorang pun yang berani membuka pintu rumah Man ketika suara harimau terdengar menjelang magrib.
Bukan karena mereka takut pada harimau. Tetapi karena mereka tahu, jika jejak itu sudah muncul di depan pintu, berarti Man sedang sakit.
Dan malam itu, ketika Talib melihat jejak kaki sebesar piring pada tanah basah di depan rumah, bulu kuduknya langsung berdiri.
Ia berhenti di bawah pohon rambutan yang tumbuh tidak jauh dari rumah Man.
Langit Kampung Rambutan mulai berubah warna. Matahari perlahan terbenam di balik pepohonan. Angin yang sejak siang berembus cukup kencang tiba-tiba berhenti.
Sunyi.
Terlalu sunyi.
Talib menatap tanah di depan rumah.
Satu jejak.
Dua jejak.
Tiga.
Jejak itu membentuk garis dari arah hutan menuju pintu rumah Man.
Talib menelan ludah.
“Harimau lagi...” bisiknya.
Ia tidak berani mendekat.
Dari dalam rumah terdengar suara seorang anak kecil.
“Mak...” Suara itu lemah.
Talib segera menoleh ke arah jendela.
“Man?
”Tidak ada jawaban.
Talib kembali melihat tanah.
Jejak terakhir berhenti tepat di depan pintu.
Tidak ada jejak yang mengarah kembali ke hutan.
Seolah-olah sesuatu datang dari hutan, berdiri di depan pintu... lalu menghilang.
Talib segera berbalik.
“Bismillah...”
Ia berjalan cepat meninggalkan rumah itu.
Namun baru beberapa langkah, terdengar suara geraman panjang dari arah hutan.
“Grrrrrrrrr...”
Talib membeku.
Ia tidak berani menoleh.
*****
*Anak yang Selalu Dijaga*
Man saat itu baru berusia sekitar tujuh tahun.
Ia adalah anak biasa. Bermain seperti anak-anak lainnya, berlari di halaman, mandi di sungai, dan sesekali ikut orang tuanya ke kebun.
Namun, ketika Man sakit, sesuatu yang aneh selalu terjadi.
Demamnya bukan hanya membuat tubuhnya panas.
Matanya terkadang menatap ke sudut ruangan, seolah-olah melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat orang lain.“
Mak... itu siapa?”
Ibunya terkejut.
“Siapa?”
Man menunjuk sudut kamar.
“Itu... yang berdiri di sana.”
Ibunya melihat ke arah yang ditunjuk.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
“Tidak ada siapa-siapa, Man.”
“Tapi dia ada, Mak.”
“Siapa?”
Man mulai menangis.
“Dia melihat Man...”
Ibunya segera memeluknya.
“Sudah... jangan takut.”
Tetapi Man terus memandang sudut kamar.
Bayangan di sana seperti bergerak.
Dinding seperti bergoyang.
Atap rumah seolah-olah semakin tinggi.
Benda-benda di sekitarnya seperti memiliki kehidupan sendiri.
Ketika demamnya semakin tinggi, Man bahkan merasa lantai rumah seperti bergerak.
Ia memejamkan mata.
Namun, ketika membuka mata kembali...
"bayangan itu masih ada"
******
**Talib dan Jejak yang Tak Pernah Salah**
Talib adalah salah satu orang yang paling sering melihat kejadian itu.
Hampir setiap kali Man sakit, menjelang magrib, ia menemukan jejak harimau di depan rumah.
Suatu sore, Talib sengaja menunggu.
Ia ingin membuktikan apakah benar seekor harimau datang ke rumah tersebut.
Ia bersembunyi di balik pohon.
Magrib semakin dekat.
Suara burung mulai menghilang.
Ayam-ayam masuk ke kandang.
Anjing-anjing kampung yang biasanya ribut mendadak diam.
Kemudian terdengar suara dari arah semak.
Krek...
Talib menahan napas.
Krek... krek...
Ranting patah.
Semak bergerak.
Talib mencengkeram batang pohon.
Lalu...
sebuah bayangan hitam muncul di antara pepohonan.
Talib hampir berteriak.
Sepasang mata yang seperti memantulkan cahaya menatap ke arah rumah Man.
Talib yakin.
Itu harimau.
Binatang itu berjalan perlahan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Kemudian berhenti di depan rumah Man.
Talib menutup mulutnya sendiri agar tidak berteriak.
Harimau itu tidak mengaum.
Tidak mengganggu siapa pun.
Ia hanya berdiri.
Diam.
Menatap pintu rumah.
Beberapa saat kemudian, harimau itu berbalik dan masuk kembali ke dalam gelapnya hutan.
Keesokan paginya,
Talib datang membawa beberapa orang.
Di tanah masih terlihat jejak kaki.
Jelas.
Nyata.
Dan ukurannya terlalu besar untuk dianggap sebagai jejak anjing atau kucing biasa.
Sejak saat itu,
Talib tidak pernah lagi menganggap cerita tersebut sebagai kebetulan.
******
“Kamu Punya Keturunan Hebat, Man...”
Malam itu udara Kampung Rambutan terasa dingin.
Angin menyusup melalui celah-celah dinding papan rumah.
Lampu minyak di ruang tengah bergoyang kecil, membuat bayangan Ongah dan Man menari-nari di dinding.
Ongah duduk di samping Man.
Beberapa saat ia hanya diam, seakan-akan sedang menimbang sesuatu yang selama ini disimpannya sendiri.
Tangannya kemudian merogoh ke dalam saku bajunya.
Ia mengeluarkan sebuah benda tua yang dibungkus kain lusuh.
Man memandang benda itu dengan penuh tanda tanya.
“Ayah, itu apa?”
Ongah tidak langsung menjawab.
Ia membuka kain tersebut perlahan.
Di dalamnya terdapat sebuah benda peninggalan leluhur yang telah lama disimpan keluarganya.
Ongah menggenggamnya erat, lalu menatap Man.
“Man... dengarkan baik-baik.
Ada sesuatu tentang darah yang mengalir dalam tubuhmu yang harus kamu ketahui.
”Man terdiam. “
Apa itu, Yah?
”Ongah menarik napas panjang. “
Kamu punya keturunan hebat, Man.
”Man mengernyitkan dahi"
“Keturunan siapa?”
Ongah mendekat dan menurunkan suaranya.
“Dari seorang ulama besar yang namanya masih disebut-sebut orang sampai hari ini.”
Ia kemudian menyebutkan nama leluhur tersebut dengan suara hampir berbisik.
“Beliau bukan orang sembarangan".
Banyak cerita tentang beliau yang diwariskan dari mulut ke mulut.
Orang-orang tua dulu mengatakan, beliau memiliki kemampuan yang tidak dimiliki manusia biasa.
Man menatap benda tua di tangan ayahnya.
“Jadi... apa hubungannya dengan Man?”
Ongah menatapnya dalam-dalam.
“Kamu adalah bagian dari keturunannya.
Bahkan, menurut cerita yang diwariskan keluarga, kamu berada pada garis keturunan yang ketujuh.
”Lampu minyak tiba-tiba bergoyang lebih kuat.
Bayangan di dinding bergerak.
Man menelan ludah.
“Terus... apa yang harus Man lakukan?”
Ongah membungkus kembali benda tua itu.
“Tidak ada yang perlu kamu lakukan.”
Ia berhenti sejenak.
“Hanya satu pesan Ayah.
Jika suatu hari kamu melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain... jangan langsung takut.
Dan jangan pernah mengganggu apa yang tidak mengganggumu.
”Man terdiam.
Dari kejauhan, dari arah hutan, terdengar suara binatang malam.
Lalu...
“Auuummm...”
Suara itu panjang dan berat.
Man spontan menoleh ke arah jendela.
Ongah justru tetap diam, seolah-olah suara dari hutan itu bukan sesuatu yang mengejutkan baginya.
Malam itu, untuk pertama kalinya,
Man merasa bahwa cerita tentang leluhurnya bukan sekadar cerita lama.
*****
*Pertemuan di Tengah Hutan*
Tahun-tahun berlalu.
Man mulai duduk di bangku sekolah setingkat SMP.
Ia sering membantu orang tuanya ke hutan.
Hutan di sekitar Rambutan bukan hutan yang mudah dilalui.
Jalannya berbukit dan kadang licin.
Di beberapa tempat, ilalang tumbuh tinggi hingga menutupi pandangan.
Suatu hari, Man berjalan sendirian di belakang orang tuanya.
Tiba-tiba...
krek!
Ia berhenti.
Dari balik semak terdengar suara gerakan.
Man menoleh.
Kemudian terdengar suara berat.
“Grrrrr...”
Darah Man terasa berhenti mengalir.
Di antara pepohonan, muncul seekor harimau.
Besar.
Belang tubuhnya terlihat jelas.
Kepalanya sedikit menunduk.
Matanya menatap lurus kepada Man.
Man tidak bergerak.
Harimau itu juga tidak bergerak.
Jarak mereka hanya beberapa meter.
Dalam keadaan seperti itu, seharusnya Man berteriak.
Namun, entah dari mana keberanian itu datang, mulutnya bergerak sendiri.
“Tuk... numpang lewat.”
Harimau itu diam.
Man menelan ludah.
Kemudian ia melanjutkan,
“Anak cucumu mau lewat.”
Aneh.
Sangat aneh.
Setelah kalimat itu keluar, harimau tersebut perlahan berdiri.
Kemudian...
WUSSS!
Ia melompat ke dalam semak ilalang.
Man terkejut.
Ia menunggu beberapa detik.
Tidak ada suara.
Tidak ada geraman.
Tidak ada serangan.
Jalan di depannya kosong.
Man melanjutkan perjalanan.
Anehnya, jalan berbukit dan terjal yang biasanya membuat ia kelelahan, hari itu terasa ringan.
Ia berjalan seperti tidak sedang melewati hutan.
“Itu Leluhurmu...”
Sesampainya di rumah,
Man langsung menceritakan kejadian itu kepada neneknya, Mina.
“Mak Mina... tadi Man bertemu harimau.”
Neneknya terdiam.
“Di mana?”
“Di hutan.”
“Dia mengejar kamu?”
“Tidak.”
“Menyerang?”
“Tidak.”
