Kemacetan kawasan Bandara Ngurah Rai

Bli Arya Wedakarna, Bukan Jilbab yang Bikin Ngurah Rai Berpredikat Buruk

Arman Dhani
Penulis. Menggemari musik dan buku. Sudah terlalu banyak menyimpan kaos band dan sepatu.
4 Januari 2024 16:45 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
24
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III Foto: Dok. DPD RI
zoom-in-whitePerbesar
Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III Foto: Dok. DPD RI
ADVERTISEMENT
Salah satu keterampilan paling penting yang dimiliki politisi selain membuat kebijakan yang tepat guna adalah komunikasi publiknya. Agar apa yang ada di kepala, sesuai dengan apa yang dikeluarkan lewat mulut. Karena kadang, kejatuhan seseorang tak ada kaitannya dengan kemampuan berpikir, tapi kemampuan bicara.
ADVERTISEMENT
Arya Wedakarna, anggota DPD asal Bali, menjadi perhatian karena membuat pernyataan yang dianggap merendahkan jilbab. Dalam video yang beredar AWK menyatakan, tak ingin staf di bagian terdepan atau frontline bea cukai menggunakan penutup kepala.
"Saya enggak mau frontline-frontline itu, saya mau gadis Bali yang kayak kamu rambutnya keliatan terbuka. Jangan kasih penutup enggak jelas," katanya.
Terang saja itu pernyataan yang gegabah, jika bodoh dianggap kelewatan. Karena direspons negatif, AWK mengklarifikasi pernyataannya tentang jilbab ini melalui akun TikTok-nya. Dia mengatakan, video itu direkam saat pertemuan rapat pendapat bersama dengan jajaran Bandara Ngurah Rai, Bea Cukai di kantor airport Ngurah Rai pada tanggal 29 Desember 2023 lalu. Ia berdalih bahwa hal ini adalah komentar terhadap pemberitaan Bandara Ngurah Rai di Bali masuk dalam peringkat bandara terburuk di dunia.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, pemberitaan bandara terburuk ini setidaknya bisa diperbaiki dengan melakukan perubahan di bagian manusia. Ia memberikan arahan kepada petugas Bea Cukai untuk memprioritaskan putra-putri terbaik dari Bali menjadi staf di bagian terdepan atau frontliner yang menyambut para tamu setelah mendarat di Ngurah Rai. Misalnya dengan menghadirkan putri asli Bali yang menggunakan bije atau beras suci yang biasanya didapat setelah bersembahyang, ya kelompok lain di Indonesia juga ada yang melakukan.
Tujuannya agar ada identitas cultural yang segera dikenali oleh wisatawan asing begitu sampai ke Bali. Pertanyaan besarnya adalah, apakah setelah frontliner diganti dengan gadis Bali yang menggunakan bije tata kelola Bandara Ngurah Rai jadi selesai? Ya tentu saja tidak. AWK jelas tak paham logika, jika peringkat Ngurah Rai yang buruk, tentu tata kelola bandara yang perlu dibenahi bukan orang yang jadi frontliner-nya.
ADVERTISEMENT
Apa yang membuat Ngurah Rai jadi bandara yang buruk? Menurut survei AirHelp, Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali jadi salah satu dari sepuluh bandara terburuk di dunia karena layanan yang dianggap tak memenuhi standar. Ketepatan waktu pemberangkatan, kepuasan pelanggan, fasilitas, termasuk toko dan gerai kuliner di dalam bandara. Hal ini makin diperparah pada tahun baru kemarin ketika para penumpang harus berjalan kaki masuk bandara karena kemacetan yang luar biasa.
Calon penumpang pesawat berjalan di Jalan Tol Bali Mandara setelah mobil yang ditumpanginya terjebak kemacetan saat akan menuju ke Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Badung, Bali, Jumat (29/12/2023). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO
Jelang tahun baru, volume kendaraan pribadi di Bali selatan yang meningkat drastis. Akibatnya, sejumlah ruas jalan yang menuju dan dari bandara Bali menjadi sangat padat, termasuk di Jalan Bypass, Jalan Ngurah Rai, Jalan Kediri, dan Jalan Raya Kuta. Kemacetan ini bahkan menjadi perhatian di media sosial di mana video, foto, komentar negatif ditujukan kepada pengelola bandara setempat. Mungkin, jika Bandara Ngurah Rai dianggap buruk, solusinya bukan menambah pekerja lokal dengan pakaian adat, tapi tata kelola yang lebih baik.
ADVERTISEMENT
Apa yang dilakukan AWK ini sebenarnya bukan hal baru yang minta tradisi lokal diutamakan di bandara I Gusti Ngurah Rai. Jika ia menginginkan adanya ciri-ciri kebudayaan Bali, melalui bije atau beras suci yang biasanya didapat setelah bersembahyang, ya kelompok lain di Indonesia juga ada yang melakukan. Dulu saban Natal, banyak pusat perbelanjaan di Indonesia yang mewajibkan para pekerjanya menggunakan atribut Santa Claus, yang tentu saja ditolak oleh kelompok fundamental, yang dianggap mengikis aqidah agama.
Beda gendang, tapi musiknya sama, yaitu penolakan terhadap simbol-simbol yang dianggap mewakili agama tertentu. Saat ini isu politik identitas makin memanas, terutama dengan adanya kedatangan pengungsi dari Rohingya yang melahirkan Xenofobia. Penduduk asli dan pendatang, bahkan beberapa waktu lalu terjadi pengusiran oleh kelompok yang mengaku mahasiswa Aceh kepada pengungsi Rohingya.
ADVERTISEMENT
Apa yang dilakukan AWK terhadap atribut jilbab dan kelompok fundamental terhadap atribut Natal, adalah politik identitas. Ini merujuk pada pengorganisasian politik dan pembentukan aliansi berdasarkan karakteristik identitas tertentu, seperti suku, agama, gender, orientasi seksual, etnisitas, atau faktor-faktor identitas lainnya. Misalnya saya dari Jawa dan kalian bukan Jawa, ini Bandara Ngurah Rai, maka harus pakai tradisi setempat.
Bandara I Gusti Ngurah Rai. Foto: Kemenparekraf
Pada satu titik, misalnya untuk memperkenalkan simbol budaya kepada masyarakat internasional, apa yang dilakukan AWK tak jadi soal. Masalahnya, dalam politik identitas, kelompok-kelompok berusaha menciptakan imaji kelompok “kita” dan “mereka”. Hal ini untuk menyatukan kepentingan bersama untuk mencapai tujuan politik tertentu yang berhubungan dengan identitas mereka.
Tanpa pemahaman utuh tentang nasionalisme, politik identitas dapat memecah-belah masyarakat dan mengalihkan perhatian dari isu-isu ekonomi atau politik yang lebih luas. Sebagai hasilnya, perspektif terhadap politik identitas dapat sangat bervariasi tergantung pada sudut pandang dan nilai-nilai individu. Apa yang dilakukan AWK, bisa jadi berkembang menjadi krisis kepercayaan antar warga negara.
ADVERTISEMENT
Beberapa negara di Eropa mengalami peningkatan sentimen anti-migran, di mana sebagian masyarakat menyalahkan migran atas berbagai masalah ekonomi dan sosial. Ini telah menciptakan divisi di antara kelompok-kelompok masyarakat. Pegida, kelompok fasis anti imigran dan islam, menganggap bahwa Jerman mengalami kemunduran karena pengungsi. Baru-baru ini di Belanda, politisi anti-Islam, memenangkan parlemen karena isu islamofobia yang ditawarkan.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten