Dari Rumah ke Ruang Digital: Setelah PISA 2025, Bagaimana Membuat Anak Literat?

Akademisi Universitas Bengkulu
·waktu baca 11 menit
Tulisan dari Arono Arono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh Arono, Akademisi Universitas Bengkulu
Ada pemandangan yang semakin biasa dalam kehidupan keluarga Indonesia. Anak-anak dapat menghabiskan waktu cukup lama menatap layar telepon genggam, berpindah dari satu video ke video lain, membaca komentar, membalas pesan, mencari informasi, bahkan menggunakan kecerdasan artifisial untuk mengerjakan tugas sekolah. Mereka sesungguhnya tidak hidup dalam dunia yang miskin teks. Justru sebaliknya, generasi sekarang hidup di tengah banjir informasi. Namun, pertanyaan pentingnya bukan lagi sekadar: apakah anak-anak kita membaca? Pertanyaan yang lebih mendesak adalah: apa yang mereka baca, seberapa dalam mereka memahaminya, apakah mereka mampu mempertanyakan kebenarannya, dan dapatkah informasi yang dibaca digunakan untuk memecahkan persoalan kehidupan?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan setelah OECD mengumumkan hasil Programme for International Student Assessment atau PISA 2025 pada 8 September 2026. PISA 2025 melibatkan lebih dari 760.000 siswa berusia 15 tahun yang mewakili sekitar 33 juta siswa di 91 negara dan ekonomi. Hasilnya membawa kabar yang memberi harapan bagi Indonesia, tetapi sekaligus peringatan agar kita tidak cepat berpuas diri. Skor membaca siswa Indonesia meningkat dari 359 pada PISA 2022 menjadi 365 pada PISA 2025, atau naik enam poin. Skor sains juga naik enam poin, dari 383 menjadi 389, sedangkan matematika berada pada skor 364. Pada saat yang sama, cakupan anak usia 15 tahun yang berada dalam sistem pendidikan formal telah meningkat sangat besar. Coverage Index Indonesia yang hanya sekitar 0,46 pada PISA 2003 telah mencapai 0,90 pada PISA 2025. Angka-angka tersebut layak diapresiasi. Namun, apresiasi tidak boleh berubah menjadi euforia.
OECD menyatakan bahwa rata-rata hasil Indonesia pada 2025 secara statistik berada pada kisaran yang kurang lebih sama dengan 2022 untuk matematika, membaca, dan sains. Dengan demikian, kenaikan enam poin pada membaca sebaiknya dipahami sebagai sinyal arah yang positif, bukan bukti bahwa persoalan literasi nasional telah selesai. Bahkan dibandingkan dengan 2015, proporsi siswa Indonesia yang berada di bawah Level 2 dalam membaca meningkat 18 poin persentase. Di sinilah kita perlu mengubah cara memandang literasi.
Naik Enam Poin, tetapi Pekerjaan Rumah Masih Besar
Ada satu angka dalam PISA 2025 yang semestinya menjadi bahan perenungan bersama. Hanya sekitar 27 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih tinggi dalam membaca, sedangkan rata-rata OECD mencapai 69 persen. Pada Level 2, siswa setidaknya sudah mampu menemukan gagasan utama dalam teks dengan panjang sedang, menemukan informasi berdasarkan kriteria tertentu, serta merefleksikan tujuan dan bentuk teks ketika diarahkan. Di tingkat kemampuan membaca yang sangat tinggi, yaitu Level 5 atau lebih, proporsi siswa Indonesia bahkan nyaris tidak ada, sementara rata-rata OECD sekitar 6 persen. Artinya, persoalan Indonesia bukan semata-mata membuat anak “mau membaca”. Tantangan kita telah bergerak lebih jauh: membuat anak mampu membaca secara mendalam.
Membaca mendalam berbeda dengan sekadar mengenali huruf dan memahami arti kalimat. Pembaca yang literat harus mampu menemukan gagasan utama, membandingkan beberapa sumber, mengenali bias, membedakan fakta dan opini, menguji kredibilitas informasi, menarik inferensi, serta menggunakan informasi untuk mengambil keputusan.
Tantangan tersebut bukan hanya dialami Indonesia. PISA 2025 menunjukkan gejala global yang mengkhawatirkan. Rata-rata kemampuan membaca di negara-negara OECD turun tajam. Antara 2018 dan 2025, skor membaca rata-rata di 35 negara OECD dengan data yang dapat dibandingkan turun sekitar 25 poin. Dari 74 negara dan ekonomi yang mempunyai data pembanding, 56 mengalami penurunan signifikan. OECD juga menemukan kecenderungan meningkatnya hasty reading—membaca secara tergesa-gesa dan memberikan jawaban yang cepat tetapi salah. Temuan tersebut sangat relevan dengan kehidupan digital sekarang: manusia menerima informasi semakin banyak, tetapi belum tentu mempunyai waktu, ketekunan, dan kebiasaan untuk memprosesnya secara mendalam. Dengan kata lain, kita sedang menghadapi paradoks literasi: akses terhadap informasi meningkat, tetapi kedalaman dalam mengolah informasi belum tentu ikut meningkat.
Literasi Tidak Dimulai di Sekolah, tetapi di Rumah
Selama ini ketika kemampuan membaca anak rendah, sekolah dan guru sering menjadi pihak pertama yang dipersoalkan. Padahal, literasi tumbuh jauh sebelum seorang anak mengerjakan soal pemahaman bacaan. Literasi bermula ketika seorang anak mendengarkan cerita dari orang tuanya. Ketika ia bertanya mengapa hujan turun. Ketika orang tua mengajaknya membaca tulisan pada kemasan makanan. Ketika keluarga mendiskusikan berita yang mereka lihat bersama. Bahkan ketika anak menceritakan pengalaman di sekolah dan orang tua benar-benar mendengarkannya, sesungguhnya proses literasi sedang berlangsung. Karena itu, membangun literasi keluarga tidak harus dimulai dengan membeli puluhan buku mahal.
Keluarga dapat memulainya dengan 20–30 menit waktu tanpa gawai untuk membaca dan bercakap bersama. Anak boleh membaca buku cerita, komik bermutu, berita anak, cerita rakyat, teks digital, atau buku pengetahuan yang sesuai usianya. Setelah itu, orang tua tidak perlu mengujinya seperti guru. Cukup bertanya: “Apa yang paling menarik?”, “Mengapa tokohnya melakukan itu?”, “Menurutmu informasi ini benar atau tidak?”, atau “Kalau kamu berada dalam situasi itu, apa yang akan kamu lakukan?” Pertanyaan sederhana seperti itu mengubah membaca dari kegiatan menerima informasi menjadi proses berpikir.
Keluarga juga harus menjadi tempat pertama pendidikan literasi digital. Jangan hanya mengatakan, “Jangan main HP terus!” Anak perlu dibimbing memahami mengapa suatu informasi dapat dipercaya, bagaimana mengenali judul yang menyesatkan, mengapa sumber perlu diperiksa, dan mengapa jawaban AI tidak selalu benar. Ini semakin mendesak karena PISA 2025 menunjukkan bahwa 53 persen siswa Indonesia menggunakan chatbot AI untuk membantu belajar setidaknya sekali seminggu, lebih tinggi daripada rata-rata OECD sebesar 46 persen. Sebanyak 39 persen siswa Indonesia menggunakannya untuk merangkum teks dan 30 persen untuk membantu menyusun teks tugas. AI karena itu tidak realistis untuk sekadar dijauhkan dari anak. Yang diperlukan adalah mendidik anak agar menggunakan AI tanpa menyerahkan proses berpikir kepada AI.
Sekolah Harus Beralih dari “Menyuruh Membaca” menjadi “Mengajarkan Cara Membaca”
Gerakan membaca 15 menit sebelum pelajaran tetap bermanfaat. Namun, kebiasaan tersebut tidak cukup apabila membaca berhenti ketika bel berbunyi. Literasi harus hadir dalam setiap mata pelajaran. Guru Bahasa Indonesia dapat meminta siswa membandingkan dua berita mengenai peristiwa yang sama. Guru IPA dapat meminta siswa membaca informasi perubahan iklim dan memeriksa bukti ilmiahnya. Guru IPS dapat menggunakan data kependudukan daerah. Guru matematika dapat meminta siswa membaca grafik harga pangan. Guru seni dapat mengajak siswa membaca makna simbol budaya lokal. Dengan demikian, literasi bukan hanya urusan mata pelajaran bahasa.
Sekolah juga perlu mengurangi dominasi pertanyaan yang jawabannya sekadar dapat “ditemukan” di dalam teks. Pertanyaan pembelajaran perlu bergerak dari “apa isi teks?” menuju “mengapa?”, “bagaimana Anda mengetahuinya?”, “apa buktinya?”, “sumber mana yang lebih dapat dipercaya?”, dan “bagaimana informasi ini dapat digunakan?” Inilah jantung literasi abad ke-21. Kabar baiknya, data nasional juga memberikan sinyal perbaikan. Data yang dirujuk Kemendikdasmen menunjukkan proporsi murid yang mencapai kompetensi minimum literasi meningkat dari 59,49 persen pada 2022 menjadi 70,03 persen pada 2024. Namun, capaian nasional harus dibaca bersama persoalan kesenjangan antardaerah, antarsekolah, kondisi sosial ekonomi, ketersediaan buku, kualitas pembelajaran, dan akses terhadap teknologi. Rapor Pendidikan Indonesia sendiri dirancang agar data capaian dan kesenjangan tersebut dapat digunakan bukan hanya pemerintah dan sekolah, tetapi juga orang tua serta masyarakat untuk melakukan perbaikan bersama. Karena itu, sekolah sebaiknya tidak mengejar skor literasi dengan memperbanyak latihan soal semata. Yang harus dibangun adalah ekosistem bernalar.
Perpustakaan perlu menjadi ruang hidup, bukan gudang buku. Tugas membaca harus dekat dengan pengalaman siswa. Anak pesisir dapat membaca persoalan abrasi, kehidupan nelayan, mangrove, sampah laut, tradisi lokal, dan perubahan lingkungan di sekitarnya. Anak di wilayah pertanian dapat membaca persoalan pangan, air, tanah, dan perubahan iklim. Anak di perkotaan dapat mengkaji transportasi, polusi, ruang publik, atau perilaku masyarakat digital. Ketika bacaan bertemu pengalaman, membaca mempunyai alasan.
Masyarakat: Dari Menyediakan Buku menuju Menciptakan Ruang Literasi
Literasi juga tidak boleh berhenti di pagar sekolah. Ada perkembangan menarik dalam literasi masyarakat Indonesia. Perpustakaan Nasional melaporkan bahwa Tingkat Kegemaran Membaca meningkat dari 55,74 pada 2020 menjadi 72,44 pada 2024, sedangkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat meningkat dari 61,55 menjadi 73,52 pada periode yang sama. Hingga 2024, Indonesia memiliki sekitar 219.415 unit perpustakaan. Ini merupakan modal sosial yang besar. Namun, jumlah perpustakaan tidak otomatis menghasilkan masyarakat literat. Rak yang penuh buku tetapi sepi pembaca belum menjadi ekosistem literasi. Karena itu, perpustakaan desa, taman bacaan, kampus, pemerintah daerah, media, komunitas, dunia usaha, dan organisasi masyarakat perlu mengubah pendekatan. Program literasi tidak cukup berupa lomba membaca setahun sekali atau seremoni pemberian buku.
Perpustakaan dapat menjadi tempat anak berdiskusi, warga belajar memeriksa informasi kesehatan, petani mencari informasi pertanian, nelayan mengakses informasi cuaca, UMKM belajar pemasaran digital, remaja membuat podcast, dan orang tua mengikuti kelas pendampingan literasi keluarga. Dengan cara itulah literasi kembali kepada hakikatnya: kemampuan menggunakan informasi untuk memperbaiki kehidupan.
Jangan Sampai AI Membuat Anak Berhenti Berpikir
PISA 2025 datang pada momentum yang sangat menentukan karena generasi sekarang tumbuh bersama AI generatif. Kita dapat meminta mesin merangkum buku dalam hitungan detik. AI dapat membuat esai, menerjemahkan teks, menjelaskan konsep, bahkan membantu mencari gagasan. Teknologi ini mempunyai potensi pendidikan yang luar biasa. Namun, justru karena mesin semakin mampu menghasilkan jawaban, pendidikan manusia harus semakin kuat mengajarkan cara mempertanyakan jawaban.
Sebelum menggunakan AI, siswa sebaiknya diminta membaca dan merumuskan pemahamannya sendiri. Setelah memperoleh jawaban AI, mereka perlu membandingkannya dengan sumber lain. Mereka harus mencari bagian yang keliru, memeriksa sumber, memperbaiki argumen, kemudian menjelaskan mengapa revisi tersebut diperlukan. Dengan pola demikian, AI berubah dari “mesin pemberi jawaban” menjadi mitra untuk melatih berpikir kritis.
Literasi pada era AI bukan lagi hanya reading literacy. Kita membutuhkan literasi informasi, literasi digital, literasi media, literasi data, dan literasi AI yang bertumpu pada kemampuan dasar yang sama: membaca dengan teliti, mempertanyakan dengan sehat, memeriksa bukti, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Gerakan Literasi yang Lebih Humanis
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika kita membicarakan skor PISA: di balik setiap angka terdapat seorang anak. Anak yang mungkin tidak mempunyai buku di rumah. Anak yang harus membantu orang tuanya bekerja. Anak yang tinggal jauh dari perpustakaan. Anak yang sebenarnya senang membaca komik tetapi dianggap tidak suka membaca karena jarang menyentuh buku pelajaran. Anak yang takut menjawab karena berkali-kali merasa salah. Anak yang terbiasa membaca melalui telepon genggam karena itulah satu-satunya sumber informasi yang mudah ia akses. Karena itu, gerakan literasi harus humanis. Jangan mempermalukan anak yang kemampuan membacanya tertinggal. Jangan menjadikan literasi sebagai perlombaan siapa yang paling banyak membaca buku. Jangan pula menganggap semua anak mempunyai akses, pengalaman, dan dukungan keluarga yang sama.
Guru perlu mengetahui titik awal setiap anak, memberikan bacaan yang menantang tetapi masih dapat dijangkau, menghubungkan teks dengan pengalaman mereka, serta menyediakan ruang untuk bertanya dan berbeda pendapat. Literasi bertumbuh ketika anak merasa aman untuk berpikir.
Setelah PISA 2025, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Indonesia sesungguhnya tidak membutuhkan satu gerakan literasi baru setiap tahun. Yang lebih diperlukan adalah konsistensi untuk menghubungkan tiga ekosistem yang selama ini sering berjalan sendiri-sendiri: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Di rumah, bangun percakapan dan kebiasaan membaca bersama. Di sekolah, ajarkan membaca mendalam, bukan sekadar menyelesaikan soal. Di masyarakat, dekatkan buku, informasi, perpustakaan, dan ruang belajar kepada kehidupan warga.
Di ruang digital, ajarkan anak memeriksa sebelum mempercayai dan berpikir sebelum membagikan. Dalam penggunaan AI, ajarkan prinsip sederhana: gunakan teknologi untuk memperluas pikiran, bukan menggantikan pikiran.
Pemerintah dan pemerintah daerah, pada saat yang sama, perlu memastikan bahwa kebijakan literasi berbasis pada data, memperkuat kompetensi guru, memperluas ketersediaan bacaan bermutu, memperbaiki perpustakaan sekolah dan masyarakat, serta memberikan perhatian lebih besar kepada sekolah dan keluarga yang paling membutuhkan dukungan. Kemendikdasmen sendiri menempatkan penguatan kompetensi guru, pembelajaran mendalam dan literasi-numerasi, penyelarasan asesmen, serta penguatan peran keluarga sebagai bagian dari tindak lanjut PISA 2025.
PISA 2025 memberikan kita secercah optimisme. Skor membaca Indonesia bergerak dari 359 menjadi 365 dan akses pendidikan semakin luas. Tetapi angka yang jauh lebih penting untuk direnungkan adalah bahwa baru sekitar 27 persen siswa Indonesia mencapai setidaknya Level 2 membaca menurut PISA 2025. Maka pertanyaan setelah PISA bukanlah, “Peringkat kita sekarang berapa?” Pertanyaan yang lebih bermakna adalah: “Apakah setelah pulang sekolah seorang anak semakin mampu memahami dunia melalui apa yang ia baca?” Jika seorang anak mampu membaca sebuah berita, memeriksa sumbernya, mempertanyakan klaimnya, menghubungkannya dengan pengalaman, mendiskusikannya dengan keluarga, lalu menggunakan informasi tersebut untuk mengambil keputusan yang lebih baik, di situlah literasi sesungguhnya sedang tumbuh.
Indonesia tidak akan menjadi bangsa literat hanya karena skor PISA naik beberapa poin. Indonesia akan menjadi bangsa literat ketika rumah menyediakan percakapan, sekolah menumbuhkan penalaran, masyarakat menyediakan ruang belajar, dan teknologi memperluas—bukan memperpendek—cara manusia berpikir. PISA hanyalah cermin. Yang menentukan masa depan literasi Indonesia adalah apa yang kita lakukan setelah bercermin.
Referensi
OECD. (2026). PISA 2025 Results (Volume I): Future-Ready Students. OECD Publishing. DOI: 10.1787/73451bc5-en. PISA 2025 Results (Volume I) | OECD
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2026). PISA 2025: Nilai Literasi dan Sains Naik, Akses Pendidikan Melonjak 90 Persen.
Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan. (2025). Rapor Pendidikan Indonesia 2025: Capaian dan Agenda Perbaikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. 1767151837_file.pdf
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2025). Perpusnas Genjot Peningkatan Budaya Baca dan Literasi melalui Program Inklusi dan Digitalisasi.
Susanto, P. 2026. PISA 2025 dan Tantangan Meningkatkan Mutu Pendidikan Indonesia. PISA 2025 dan Tantangan Meningkatkan Mutu Pendidikan Indonesia Halaman 2 - Kompasiana.com
