Konten dari Pengguna

Fenomena Flexing Ibadah: Ketika Umrah Jadi Konten, Apakah Pahala Ikut Nge-Like?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arraafi Putra Hermawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Scroll Instagram saat musim umrah, timeline kita penuh dengan foto di depan Ka'bah dengan caption "Alhamdulillah, finally called". Di TikTok, live shalat tahajud dengan filter aesthetic. Di YouTube, vlog "24 Jam Ibadah di Masjid Nabawi". Niatnya syiar, tapi netizen menyebutnya flexing ibadah.

‎Fenomena ini nyata dan Gen Z adalah aktor utamanya. Pertanyaan kritisnya dalam studi Islam: di mana batas antara dakwah dan riya di era digital?

‎

Gambar 1. Fenomena dokumentasi ibadah umrah melalui media sosial di depan Ka'bah, potret kontras antara kekhusyukan ibadah dan budaya digital Gen Z. Sumber: Ilustrasi AI Generated (2026).

‎

‎Dalam mata kuliah Studi Islam, ibadah tidak hanya dipahami sebagai syari'ah atau aturan formal, tetapi juga sebagai akhlak dan tasawuf. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin membagi ibadah menjadi tiga tingkatan niat: ibadah karena takut neraka, karena mengharap surga, dan karena cinta kepada Allah. Flexing ibadah mengguncang tingkatan ketiga ini.

‎Jika tujuan utama ibadah adalah cinta dan kedekatan kepada Allah, maka ketika ibadah diunggah untuk mendapatkan cinta dan validasi dari manusia berupa likes dan comments, orientasinya bergeser.

‎1. Antara Syiar dan Riya: Tipisnya Batas Niat

‎Islam tidak melarang menampakkan ibadah. Dalam Al-Qur'an QS. Al-Baqarah: 271 disebutkan, jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu baik. Bahkan syiar memang butuh ditampakkan. Masalahnya bukan pada nampaknya, tapi pada niatnya.

‎Dalam kajian akhlak Islam, riya adalah melakukan ibadah bukan karena Allah, melainkan karena ingin dilihat manusia. Ulama membedakan riya yang merusak pahala dan ujub yang merusak hati. Di era digital, riya bertransformasi menjadi "digital riya" — ibadah yang direkam, diedit, diberi musik viral, lalu di-upload.

‎Gen Z sering berdalih, "niatku dakwah, biar orang lain termotivasi". Niat itu mulia. Namun kaidah etika Islam mengajarkan, sesuatu yang mubah bisa menjadi haram jika niatnya keliru. Jika setelah upload kita terus mengecek berapa yang like, berapa yang komen "masyaAllah", maka kita perlu bertanya jujur: yang kita cari ridha Allah atau ridha algoritma?

‎2. Tasawuf Sebagai Solusi: Konsep Ikhlas di Era Validasi

‎Di sinilah tasawuf menjadi relevan. Jika fiqh menjawab sah atau tidaknya ibadah, tasawuf menjawab diterima atau tidaknya ibadah di sisi Allah.

‎Tasawuf mengajarkan konsep ikhlas bertingkat. Ikhlas awam adalah beribadah karena Allah. Ikhlas khawas adalah beribadah seolah-olah hanya ada Allah yang melihat, bukan followers. Dalam konteks flexing ibadah, tasawuf mengajarkan prinsip _al-khumul_ — senang menyembunyikan amal — sebagai lawan dari budaya flexing yang senang menampakkan amal.

‎

Gambar 2. Dilema ikhlas dan riya di era media sosial: ketika ibadah bersinggungan dengan algoritma likes dan validasi digital. Sumber: Ilustrasi AI Generated (2026).

‎3. Rekonstruksi Adab Bermedia Sosial dalam Islam

‎Studi Islam kontemporer menuntut adanya fikih baru: Fikih Media Sosial. Ada tiga adab yang bisa direkonstruksi Gen Z:

‎Pertama, prinsip _tabayyun_ sebelum upload. Tanyakan pada diri sendiri: apakah konten ini akan membuat orang lain lebih dekat kepada Allah, atau lebih dekat kepada saya?

‎Kedua, prinsip _maslahat_ Dalam studi Islam, hukum tidak hanya soal halal-haram, tapi soal maslahat dan mudarat. Jika upload ibadah umrah menimbulkan hasad, iri, dan perdebatan di kolom komentar, mudaratnya lebih besar dari maslahat syiarnya.

‎Ketiga, prinsip _muhasabah digital_. Sebelum tidur, Gen Z perlu muhasabah bukan hanya soal ibadah yang terlewat, tapi soal konten ibadah yang sudah di-upload hari itu. Apakah hari ini aku beribadah untuk Allah atau untuk konten?

‎Pada akhirnya, Allah tidak membutuhkan konten kita. Ka'bah tidak butuh di-tag lokasinya agar Allah tahu kita sudah di sana. Malaikat Raqib dan Atid mencatat tanpa perlu kita pencet tombol live.

‎Flexing ibadah adalah tantangan nyata Gen Z. Jawabannya bukan dengan anti-media sosial dan kembali ke gua, tapi dengan merekonstruksi niat. Jadikan media sosial sebagai masjid, bukan sebagai panggung.

‎Jika niatnya sudah benar, maka 1.2K likes itu bonus. Jika niatnya keliru, maka 1.2K likes itu justru yang akan memberatkan di hari perhitungan.

‎Referensi: Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin; Hammis Syafaq, Pengantar Studi Islam (2014).