Konten dari Pengguna

Islam dan Mental Health: Kenapa Gen Z Lebih Butuh Tasawuf Daripada Self-Healing?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arraafi Putra Hermawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

‎Gen Z disebut sebagai generasi paling cemas dalam sejarah. Di satu sisi, kita punya akses ke 1.000 konten self-healing di TikTok: "you are enough", "just breathe", "it's okay not to be okay". Di sisi lain, angka kecemasan dan burnout justru naik. Kenapa?

‎Karena self-healing modern hanya menyentuh permukaan. Ia mengajarkan kita untuk mencintai diri sendiri, tapi lupa mengajarkan untuk kembali kepada Sang Pemilik diri.

‎

‎Dalam perspektif Studi Islam, persoalan ini bukan baru. 1.000 tahun lalu, ulama tasawuf sudah membahas apa yang hari ini disebut mental health. Hanya saja, bahasanya berbeda: hati yang gelisah disebut _qalbun maridh_, dan ketenangan disebut _thuma'ninah_.

‎

Gambar 1. Potret kegelisahan Gen Z yang terjebak dalam siklus self-healing digital tanpa menemukan ketenangan hakiki. Sumber: Ilustrasi AI Generated (2026).

‎1. Gagalnya Self-Healing: Ketika Diri Dijadikan Tuhan Baru

‎Tren self-healing hari ini berpusat pada diri sendiri. Semua solusi berasal dari dalam diri: "cintai dirimu", "maafkan dirimu", "kamu kuat". Ini baik, tapi tidak lengkap.

‎

‎Dalam ilmu etika Islam, manusia terdiri dari tiga unsur: jasad, akal, dan ruh. Self-healing modern hanya merawat jasad (dengan istirahat) dan akal (dengan afirmasi positif), tapi seringkali melupakan ruh.

‎

‎Akibatnya, muncul kelelahan baru: lelah karena harus terus terlihat kuat. Lelah karena harus terus memaafkan. Karena semua beban diletakkan di pundak diri sendiri.

‎

‎Padahal, dalam QS. Ar-Ra'd ayat 28 Allah berfirman: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram". Ketenangan bukan ditemukan dengan berbicara kepada diri sendiri, tapi dengan berbicara kepada Allah.

‎

‎2. Tasawuf Sebagai Terapi Holistik: Lebih dari Sekadar Dzikir

‎Banyak yang mengira tasawuf itu hanya soal wirid dan menjauhi dunia. Padahal, tasawuf adalah psikologi Islam yang paling mendalam.

‎

‎Jika studi Islam membagi Islam menjadi Akidah, Syari'ah, dan Akhlak, maka tasawuf berada di puncak Akhlak. Ia mengajarkan manajemen hati.

‎

‎Ada tiga konsep tasawuf yang sangat relevan untuk mental health Gen Z:

‎Pertama, _Tazkiyatun Nafs_ atau penyucian jiwa. Berbeda dengan self-healing yang menyuruh kita menerima semua emosi tanpa filter, tazkiyatun nafs mengajarkan untuk mengenali penyakit hati: hasad karena melihat pencapaian teman di Instagram, ujub karena flexing ibadah, dan ghadab karena cancel culture.

‎

‎Kedua, _Muraqabah_ atau merasa diawasi Allah. Anxiety Gen Z seringkali muncul karena merasa diawasi manusia: takut dinilai, takut di-judge, takut FOMO. Muraqabah mengganti perasaan diawasi manusia dengan kesadaran diawasi Allah, yang justru menenangkan karena pengawasan Allah disertai kasih sayang.

‎

‎Ketiga, _Tawakal_ setelah ikhtiar. Hustle culture mengajarkan Gen Z untuk terus bekerja sampai titik darah penghabisan. Tasawuf mengajarkan sebaliknya: berikhtiar semaksimal mungkin, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Di sinilah letak ketenangan yang tidak ditemukan di self-healing.

‎

Gambar 2. Ketenangan melalui dzikir dan tasawuf sebagai pendekatan holistik Islam terhadap kesehatan mental Gen Z. Sumber: Ilustrasi AI Generated (2026).

‎3. Rekonstruksi Ibadah Sebagai Self-Care

‎Shalat yang selama ini kita anggap sebagai kewajiban syari'ah, dalam kacamata tasawuf adalah terapi. Gerakan shalat adalah mindfulness, bacaan shalat adalah afirmasi, dan sujud adalah pelepasan beban paling total.

‎Ini bukan berarti Gen Z harus menolak psikolog atau self-healing. Islam sangat rasional dan menghargai ilmu. Prinsip dalam studi Islam adalah _adam al-wujud la yadullu 'ala 'adam al-wujdan_ — tidak adanya dalil bukan berarti tidak ada. Artinya, psikologi modern tetap bisa dipakai.

‎

‎Namun, psikologi tanpa tauhid akan membuat kita kuat secara mental, tapi rapuh secara spiritual. Gen Z butuh keduanya.

‎

‎Dari Self-Healing Menuju God-Healing

‎Pada akhirnya, masalah Gen Z bukan kurangnya motivasi, tapi krisis makna. Kita tahu _how to be happy_, tapi lupa _why we should be happy_.

‎

‎Tasawuf menawarkan jawaban atas _why_ tersebut. Bahwa kebahagiaan bukan tujuan, tapi efek samping dari kedekatan dengan Allah. Ketika hati dekat dengan Penciptanya, maka ketenangan akan mengikuti, tanpa perlu diminta.

‎

‎Jika self-healing berkata "You are enough", maka tasawuf berkata "Allah is enough for you". Dan kalimat kedua jauh lebih menenangkan.

‎

‎Mungkin, yang Gen Z butuhkan bukan lagi playlist self-healing, tapi sejadah yang lebih lama digelar.

‎