Islam dan Mental Health: Kenapa Gen Z Lebih Butuh Tasawuf Daripada Self-Healing?

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Program Studi Aqidah Dan Filsafat Islam
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Arraafi Putra Hermawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gen Z disebut sebagai generasi paling cemas dalam sejarah. Di satu sisi, kita punya akses ke 1.000 konten self-healing di TikTok: "you are enough", "just breathe", "it's okay not to be okay". Di sisi lain, angka kecemasan dan burnout justru naik. Kenapa?
Karena self-healing modern hanya menyentuh permukaan. Ia mengajarkan kita untuk mencintai diri sendiri, tapi lupa mengajarkan untuk kembali kepada Sang Pemilik diri.
Dalam perspektif Studi Islam, persoalan ini bukan baru. 1.000 tahun lalu, ulama tasawuf sudah membahas apa yang hari ini disebut mental health. Hanya saja, bahasanya berbeda: hati yang gelisah disebut _qalbun maridh_, dan ketenangan disebut _thuma'ninah_.
1. Gagalnya Self-Healing: Ketika Diri Dijadikan Tuhan Baru
Tren self-healing hari ini berpusat pada diri sendiri. Semua solusi berasal dari dalam diri: "cintai dirimu", "maafkan dirimu", "kamu kuat". Ini baik, tapi tidak lengkap.
Dalam ilmu etika Islam, manusia terdiri dari tiga unsur: jasad, akal, dan ruh. Self-healing modern hanya merawat jasad (dengan istirahat) dan akal (dengan afirmasi positif), tapi seringkali melupakan ruh.
Akibatnya, muncul kelelahan baru: lelah karena harus terus terlihat kuat. Lelah karena harus terus memaafkan. Karena semua beban diletakkan di pundak diri sendiri.
Padahal, dalam QS. Ar-Ra'd ayat 28 Allah berfirman: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram". Ketenangan bukan ditemukan dengan berbicara kepada diri sendiri, tapi dengan berbicara kepada Allah.
2. Tasawuf Sebagai Terapi Holistik: Lebih dari Sekadar Dzikir
Banyak yang mengira tasawuf itu hanya soal wirid dan menjauhi dunia. Padahal, tasawuf adalah psikologi Islam yang paling mendalam.
Jika studi Islam membagi Islam menjadi Akidah, Syari'ah, dan Akhlak, maka tasawuf berada di puncak Akhlak. Ia mengajarkan manajemen hati.
Ada tiga konsep tasawuf yang sangat relevan untuk mental health Gen Z:
Pertama, _Tazkiyatun Nafs_ atau penyucian jiwa. Berbeda dengan self-healing yang menyuruh kita menerima semua emosi tanpa filter, tazkiyatun nafs mengajarkan untuk mengenali penyakit hati: hasad karena melihat pencapaian teman di Instagram, ujub karena flexing ibadah, dan ghadab karena cancel culture.
Kedua, _Muraqabah_ atau merasa diawasi Allah. Anxiety Gen Z seringkali muncul karena merasa diawasi manusia: takut dinilai, takut di-judge, takut FOMO. Muraqabah mengganti perasaan diawasi manusia dengan kesadaran diawasi Allah, yang justru menenangkan karena pengawasan Allah disertai kasih sayang.
Ketiga, _Tawakal_ setelah ikhtiar. Hustle culture mengajarkan Gen Z untuk terus bekerja sampai titik darah penghabisan. Tasawuf mengajarkan sebaliknya: berikhtiar semaksimal mungkin, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Di sinilah letak ketenangan yang tidak ditemukan di self-healing.
3. Rekonstruksi Ibadah Sebagai Self-Care
Shalat yang selama ini kita anggap sebagai kewajiban syari'ah, dalam kacamata tasawuf adalah terapi. Gerakan shalat adalah mindfulness, bacaan shalat adalah afirmasi, dan sujud adalah pelepasan beban paling total.
Ini bukan berarti Gen Z harus menolak psikolog atau self-healing. Islam sangat rasional dan menghargai ilmu. Prinsip dalam studi Islam adalah _adam al-wujud la yadullu 'ala 'adam al-wujdan_ — tidak adanya dalil bukan berarti tidak ada. Artinya, psikologi modern tetap bisa dipakai.
Namun, psikologi tanpa tauhid akan membuat kita kuat secara mental, tapi rapuh secara spiritual. Gen Z butuh keduanya.
Dari Self-Healing Menuju God-Healing
Pada akhirnya, masalah Gen Z bukan kurangnya motivasi, tapi krisis makna. Kita tahu _how to be happy_, tapi lupa _why we should be happy_.
Tasawuf menawarkan jawaban atas _why_ tersebut. Bahwa kebahagiaan bukan tujuan, tapi efek samping dari kedekatan dengan Allah. Ketika hati dekat dengan Penciptanya, maka ketenangan akan mengikuti, tanpa perlu diminta.
Jika self-healing berkata "You are enough", maka tasawuf berkata "Allah is enough for you". Dan kalimat kedua jauh lebih menenangkan.
Mungkin, yang Gen Z butuhkan bukan lagi playlist self-healing, tapi sejadah yang lebih lama digelar.
