Konten dari Pengguna

Dilema Gen-Z: Menjadi Generalis atau Spesialis?

Arrizal Tegar Al Azhar

Arrizal Tegar Al Azhar

Mahasiswa Teknik Mesin di salah satu universitas di Surabaya

·waktu baca 4 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arrizal Tegar Al Azhar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Freepik/pikisuperstar
zoom-in-whitePerbesar
Freepik/pikisuperstar

Generasi Z yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, tumbuh dalam era teknologi yang serba cepat dan beragam. Mereka adalah generasi yang penuh dengan kesempatan untuk mengembangkan potensi dan kemampuan yang luas. Namun, di balik itu, ada satu pertanyaan yang seringkali membuat Generasi Z harus berpikir berulang-ulang.

Apakah mereka harus menjadi seseorang yang menguasai banyak bidang atau terfokus pada satu bidang saja?

Gen-Z Menjawab Tantangan Zaman

Menghadapi perkembangan zaman yang semakin melaju kencang, Generasi Z telah dihadapkan pada satu kenyataan yang tidak dapat dihindari. Pilihan dalam hidup.

Di satu sisi, kebebasan informasi yang tak terbatas telah membuka banyak pilihan. Peluang karir yang luas, kesempatan yang lebih lebar, dan pandangan hidup yang beragam. Namun, seringkali banyak pilihan tersebut justru membuat tujuan hidup menjadi tidak terarah.

Di tambah lagi, dilema yang mereka rasakan ini datang berdampingan dengan tekanan untuk mencapai kesuksesan secepat mungkin. Tekanan dari keluarga, lingkungan sosial, bahkan tekanan dari diri sendiri ketika melihat keberhasilan orang lain. Hal ini membuat mereka tergoda untuk mencari cara bagaimana mencapai kesuksesan yang instan. Salah satu opsi yang muncul adalah fokus pada satu hal saja.

Banyak Skill Banyak Peluang?

Pilihan untuk menguasai banyak bidang adalah pilihan yang menarik bagi sebagian Gen Z. Mereka tumbuh dengan akses pengetahuan dan informasi yang sangat mudah dan mampu mempelajari banyak hal secara mandiri. Ini menghasilkan peluang untuk menguasai beragam keahlian dan pengetahuan yang dapat berguna dalam berbagai konteks.

Misalnya, salah satu keuntungan utama dari menguasai banyak bidang adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat dalam lingkungan yang terus berubah. Dalam hal ini, lingkungan tidak hanya terbatas di lingkup masyarakat saja, namun juga di lingkungan karir atau pekerjaan.

Ketika seseorang mempunya keahlian yang beragam di berbagai bidang, biasanya ia akan siap dalam menghadapi lika-liku karir yang tidak menentu. Seperti jika terkena PHK, mereka tidak merasa begitu khawatir karena mereka bisa terjun di bidang yang lain sekaligus dan beradaptasi dengan cepat. Keuntungan ini membuat Gen Z dapat dengan mudah berpindah dari satu industri ke industri lainnya.

One Skill for Forever

Di sisi lain, fokus pada satu bidang memiliki manfaat yang tak dapat diabaikan. Ini memungkinkan Gen Z untuk mendalami pengetahuan dan keterampilan tertentu, yang dapat menghasilkan keunggulan kompetitif.

Dengan menghabiskan waktu untuk menguasai satu bidang, mereka dapat menjadi ahli dalam industri tertentu dan memiliki peluang untuk mempunyai skill yang masuk dalam kategori profesional. Berbanding terbalik dengan mereka yang menguasai banyak bidang. Sangat jarang bagi mereka untuk bisa mencapai tahap profesional.

Selain itu, fokus pada satu bidang juga dapat memberikan arah yang lebih jelas dalam pencarian karir. Ini memungkinkan mereka untuk membangun reputasi dan jaringan yang kuat dalam bidang tertentu, yang dapat membantu mereka meraih kesuksesan jangka panjang.

Range

X/@AkalBuku

Ada sebuah buku yang membahas hal serupa, tentang pilihan menjadi seorang generalis (banyak bidang) atau spesialis (satu bidang), yaitu “Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World”. Buku yang ditulis oleh David Epstein ini mengajukan argumen yang kuat tentang pentingnya menjadi seorang generalis dalam dunia yang semakin terfokus pada spesialisasi.

Epstein tidak berdiri di salah satu pilihan tersebut. Dalam bukunya, ia memaparkan masing-masing kelebihan dan kekurangan dari keduanya dan memberikan contoh nyata yang pernah terjadi. Salah satunya Tiger Woods, seorang atlet golf yang sejak kecil telah memiliki pengkhususan bidang tersebut. Atau Roger Federer, yang sebelum menjadi atlet tenis, ia sudah mencoba berbagai olahraga lain seperti basket, sepak bola, dan bulu tangkis.

Menjadi Generalis atau Spesialis?

Dalam menyikapi dilema ini, pendekatan generalis bukanlah jawaban mutlak untuk semua orang dan dalam berbagai situasi. Sebab pilihan antara menjadi generalis atau spesialis sangat tergantung pada minat, bakat, dan tujuan masing-masing.

Selalu ada situasi di mana menjadi spesialis sangat penting, misalnya dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan yang sangat teknis seperti kedokteran atau teknik. Di sisi lain, ada bidang-bidang yang lebih membutuhkan pemikiran lintas disiplin, di mana menjadi seorang generalis dapat memberikan keunggulan.

Saat ini, dunia menghadapi berbagai tantangan kompleks yang membutuhkan pemikiran kreatif, kolaborasi lintas disiplin, dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang cepat. Oleh karena itu, menjadi seorang generalis dengan "Range" yang luas dapat membantu individu untuk lebih adaptif dan inovatif dalam menghadapi situasi-situasi seperti itu. Namun, ini bukan berarti bahwa spesialis tidak memiliki tempatnya; mereka tetap diperlukan untuk memecahkan masalah yang sangat teknis.

Sehingga, dalam menghadapi dilema antara menguasai banyak bidang atau fokus pada satu bidang, tidak ada jawaban yang benar atau salah. Setiap individu memiliki kebutuhan dan tujuan yang berbeda.

Beberapa Gen Z mungkin menemukan kebahagiaan dan kesuksesan dengan menggabungkan pengetahuan lintas bidang, sementara yang lain mungkin merasa lebih puas dengan mencapai kedalaman di satu bidang.

Sekarang teman-teman sudah tahu keuntungan dan kerugian dari masing-masing pilihan tersebut. Jadi, kalian memilih untuk menjadi generalis atau spesialis?

Take your time and know yourself.