Konten dari Pengguna

AI Makin Canggih, Apakah Digital Marketer Akan Tergantikan?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arsha Rizmeira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Freepik.com

Pernah terpikir berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan konten media sosial selama satu bulan? Mulai dari mencari ide, menentukan tema, menulis caption, sampai memilih gambar yang cocok. Belum lagi ketika hasil konten ternyata tidak sesuai harapan dan harus memikirkan strategi baru.

Sekarang, pekerjaan seperti itu bisa sedikit lebih mudah dengan bantuan Artificial Intelligence (AI). Kita bisa meminta AI memberikan ide konten, membantu menyusun tulisan, atau mencari inspirasi untuk promosi. Pekerjaan yang biasanya membutuhkan waktu cukup lama pun bisa dimulai dengan lebih cepat.

Perubahan ini membuat saya berpikir, kalau semakin banyak pekerjaan bisa dibantu AI, apakah nantinya perusahaan masih membutuhkan digital marketer sebanyak sekarang?

Menurut saya, AI memang mengubah cara kerja digital marketer, tetapi bukan berarti peran manusia langsung hilang. Justru, tantangannya sekarang adalah bagaimana seorang marketer bisa memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan kemampuan berpikir dan kreativitasnya sendiri.

AI Bisa Membantu, tetapi Tidak Selalu Memahami Kebutuhan Merek

Bayangkan sebuah bisnis fashion yang ingin mempromosikan koleksi terbarunya di Instagram. Pemilik bisnis bisa menggunakan AI untuk mencari ide konten, membuat beberapa pilihan caption, atau menyusun konsep video promosi. Dengan begitu, proses awal pembuatan konten menjadi lebih praktis.

Namun, apakah semua ide yang diberikan AI pasti cocok untuk bisnis tersebut? Belum tentu.

Sebuah merek punya karakter dan target konsumen yang berbeda. Ada merek yang ingin terlihat santai dan dekat dengan anak muda, sementara merek lain ingin menampilkan kesan elegan. AI mungkin bisa memberikan banyak pilihan, tetapi tetap diperlukan manusia untuk menilai apakah ide tersebut sesuai dengan identitas merek.

Hal serupa juga berlaku ketika membuat iklan. AI dapat membantu membaca data dan melihat pola respons audiens. Namun, marketer tetap perlu memahami alasan di balik angka tersebut, bukan sekadar memilih iklan yang mendapatkan banyak likes atau tayangan.

Konten yang ramai belum tentu menghasilkan penjualan. Karena itu, marketer perlu melihat tujuan kampanye, memahami perilaku konsumen, dan menentukan langkah berikutnya berdasarkan hasil yang diperoleh.

Konsumen Bukan Sekadar Angka di Layar

Dalam pemasaran digital, kita sering melihat angka seperti jumlah tayangan, komentar, click, dan pembelian. Angka-angka tersebut memang penting, tetapi ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu memahami alasan seseorang tertarik pada suatu produk.

Misalnya, sebuah toko pakaian mengunggah video produk yang mendapatkan banyak penonton, tetapi penjualannya justru biasa saja. Jika hanya melihat jumlah tayangan, konten tersebut mungkin dianggap berhasil. Padahal, perusahaan masih perlu mencari tahu mengapa banyak orang menonton, tetapi sedikit yang membeli.

Mungkin informasi harga kurang jelas, model produknya tidak sesuai dengan kebutuhan audiens, atau calon pembeli masih ragu dengan kualitas barangnya. Di sinilah marketer perlu melihat persoalan secara lebih menyeluruh.

AI dapat membantu mengolah informasi dan menemukan pola dari data yang tersedia. Namun, memahami konsumen tidak cukup hanya dengan membaca angka. Marketer juga perlu memperhatikan kebiasaan, kebutuhan, pengalaman, dan alasan konsumen mengambil keputusan.

Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah kepercayaan. Konsumen mungkin tertarik karena melihat iklan yang menarik, tetapi mereka juga mempertimbangkan ulasan, reputasi merek, dan pengalaman pembeli lain sebelum mengeluarkan uang.

Karena itu, menggunakan AI dalam pemasaran bukan hanya tentang bagaimana membuat pekerjaan lebih cepat. Teknologi tersebut juga perlu digunakan untuk membantu perusahaan memahami konsumen dengan lebih baik.

Kemampuan Manusia Justru Semakin Dibutuhkan

Saya melihat perkembangan AI sebagai kesempatan bagi digital marketer untuk meningkatkan kemampuan, bukan alasan untuk berhenti belajar. Ketika pekerjaan tertentu bisa diselesaikan lebih cepat, waktu yang tersedia dapat digunakan untuk memikirkan strategi, mengevaluasi kampanye, dan mencari cara agar merek memiliki ciri khas.

Namun, menggunakan AI juga membutuhkan ketelitian. Hasil yang diberikan tidak selalu benar, sehingga informasi perlu diperiksa sebelum dipublikasikan. Jika langsung menyalin hasilnya tanpa melakukan pengecekan, kesalahan informasi justru bisa merugikan perusahaan dan menurunkan kepercayaan konsumen.

Ada pula persoalan lain, seperti privasi data, hak cipta, dan konten yang terasa seragam karena dibuat dengan pola serupa. Perusahaan perlu memastikan bahwa penggunaan teknologi tetap memperhatikan tanggung jawab dan kebutuhan audiens.

Menurut saya, kemampuan menggunakan AI saja tidak cukup. Seorang digital marketer juga perlu mampu berpikir kritis, memahami data, berkomunikasi dengan baik, dan menentukan keputusan yang sesuai dengan tujuan bisnis.

Pada akhirnya, AI memang membuat pekerjaan pemasaran berubah. Ada pekerjaan yang menjadi lebih praktis, tetapi ada pula tanggung jawab yang tetap membutuhkan pertimbangan manusia. Teknologi dapat membantu menghasilkan ide, sedangkan manusia menentukan apakah ide tersebut layak digunakan dan sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Jadi, daripada terus bertanya apakah AI akan menggantikan digital marketer, mungkin kita perlu mulai bertanya pada diri sendiri: sudah sejauh mana kita belajar beradaptasi dengan perubahan ini?

Sebab, di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, yang penting bukan sekadar mampu menggunakan AI, tetapi juga tahu bagaimana memanfaatkannya dengan tepat.