Konten dari Pengguna

Bukan Cuma Soal Gaji, Ini Alasan Karyawan Memilih Meninggalkan Perusahaan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arsha Rizmeira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pexels.com

Ketika seorang karyawan memutuskan untuk mengundurkan diri, alasan yang paling sering muncul biasanya adalah gaji. Padahal, keputusan untuk meninggalkan perusahaan tidak selalu sesederhana itu.

Gaji memang menjadi salah satu pertimbangan penting dalam bekerja. Namun, lingkungan kerja, hubungan dengan atasan, kesempatan berkembang, beban kerja, hingga penghargaan terhadap karyawan juga dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk bertahan atau pergi.

Tidak sedikit karyawan yang memilih bertahan meskipun mendapatkan tawaran dengan gaji lebih tinggi dari perusahaan lain. Sebaliknya, ada juga karyawan yang meninggalkan perusahaan meskipun mendapatkan gaji yang cukup baik.

Lalu, apa yang membuat mereka memilih pergi?

1. Lingkungan Kerja yang Tidak Nyaman

Karyawan menghabiskan banyak waktu di tempat kerja. Karena itu, lingkungan kerja memiliki pengaruh besar terhadap kenyamanan dan produktivitas.

Lingkungan yang penuh konflik, komunikasi yang buruk, saling menyalahkan, atau adanya perlakuan yang tidak adil dapat membuat karyawan merasa tertekan.

Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, karyawan bisa mulai mempertimbangkan perusahaan lain yang menawarkan lingkungan kerja yang lebih sehat.

Gaji yang tinggi tidak selalu cukup untuk membuat seseorang bertahan di lingkungan yang membuatnya tidak nyaman.

2. Hubungan dengan Atasan

Atasan memiliki peran penting dalam pengalaman kerja seorang karyawan.

Karyawan tentu membutuhkan arahan dan evaluasi. Namun, cara atasan menyampaikan kritik juga dapat memengaruhi hubungan kerja.

Teguran yang disampaikan secara terbuka dengan tujuan memperbaiki pekerjaan tentu berbeda dengan teguran yang membuat karyawan merasa dipermalukan.

Karyawan juga ingin merasa bahwa kontribusinya dihargai. Ketika kesalahan terus dibicarakan, tetapi pekerjaan yang berhasil jarang mendapatkan apresiasi, rasa tidak dihargai dapat muncul.

Dalam kondisi tertentu, seseorang bukan meninggalkan pekerjaannya, tetapi meninggalkan cara dia diperlakukan di tempat kerja.

3. Tidak Ada Kesempatan Berkembang

Bekerja bukan hanya tentang mendapatkan penghasilan setiap bulan. Banyak karyawan juga ingin meningkatkan kemampuan dan memiliki perkembangan karier.

Ketika seorang karyawan merasa pekerjaannya tidak memberikan kesempatan untuk belajar, mengikuti pelatihan, mendapatkan tanggung jawab baru, atau naik ke jenjang yang lebih tinggi, motivasi kerja dapat menurun.

Terlebih bagi karyawan yang memiliki target karier tertentu. Mereka mungkin mulai mencari perusahaan yang memberikan ruang lebih besar untuk berkembang.

Kesempatan untuk berkembang menjadi salah satu alasan penting bagi karyawan dalam menentukan masa depan kariernya.

4. Beban Kerja Tidak Seimbang

Beban kerja yang tinggi tidak selalu menjadi masalah. Banyak karyawan dapat menerima pekerjaan yang menantang selama pembagian tugas dan penghargaan yang diberikan terasa adil.

Masalah muncul ketika beban kerja terus bertambah tanpa dukungan yang memadai.

Misalnya, jumlah pekerjaan meningkat, tetapi jumlah tenaga kerja tetap sama. Karyawan akhirnya harus mengerjakan pekerjaan di luar tanggung jawabnya secara terus-menerus.

Jika kondisi tersebut berlangsung lama, kelelahan dapat memengaruhi motivasi dan produktivitas kerja.

5. Kurangnya Apresiasi

Setiap orang ingin merasa bahwa pekerjaannya memiliki nilai.

Apresiasi tidak selalu harus berupa kenaikan gaji atau bonus. Ucapan terima kasih, pengakuan atas hasil kerja, kesempatan mengikuti pelatihan, atau kepercayaan untuk menangani pekerjaan penting juga dapat menjadi bentuk penghargaan.

Sebaliknya, ketika karyawan merasa pekerjaannya dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan tidak pernah mendapatkan pengakuan, mereka dapat mulai mempertanyakan alasan untuk tetap bertahan.

6. Janji Perusahaan Tidak Sesuai Kenyataan

Saat proses rekrutmen, perusahaan biasanya menjelaskan posisi, tanggung jawab, fasilitas, dan berbagai keuntungan yang akan diperoleh karyawan.

Masalah dapat muncul ketika kondisi setelah bekerja jauh berbeda dari informasi yang disampaikan saat awal bergabung.

Misalnya, tanggung jawab pekerjaan ternyata jauh lebih besar dari yang dijelaskan, sistem kerja berbeda dari kesepakatan, atau kesempatan pengembangan yang sebelumnya dijanjikan tidak pernah terealisasi.

Ketidaksesuaian tersebut dapat menurunkan kepercayaan karyawan terhadap perusahaan.

Karyawan Pergi, Perusahaan Perlu Berkaca

Karyawan yang mengundurkan diri memang tidak selalu berarti perusahaan gagal. Setiap orang memiliki kebutuhan, tujuan, dan rencana karier yang berbeda.

Namun, tingginya karyawan yang keluar secara berulang patut menjadi bahan evaluasi bagi perusahaan.

Perusahaan perlu melihat lebih jauh alasan di balik keputusan tersebut. Apakah masalahnya terletak pada kompensasi? Apakah beban kerja terlalu tinggi? Apakah komunikasi antara atasan dan bawahan berjalan dengan baik? Atau apakah karyawan merasa tidak memiliki masa depan di perusahaan?

Mempertahankan karyawan bukan hanya tentang memberikan gaji yang kompetitif. Perusahaan juga perlu membangun lingkungan kerja yang sehat, memberikan kesempatan berkembang, menghargai kontribusi, serta menciptakan komunikasi yang terbuka.

Pada akhirnya, karyawan tidak hanya mencari tempat untuk bekerja, tetapi juga tempat untuk berkembang dan merasa dihargai.

Karena itu, ketika seorang karyawan memilih pergi, perusahaan tidak selalu perlu bertanya, “Berapa besar gaji yang ditawarkan perusahaan lain?”

Terkadang, pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa yang membuat dia tidak ingin bertahan di sini?”