Gen Z Sudah Berani Posting, Kapan Berani Bicara?

Mahasiswa Universitas Pamulang dan bekerja di bidang administrasi serta akuntansi. Menulis tentang bisnis, digital marketing, dunia kerja, dan pengembangan diri.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Arsha Rizmeira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Punya banyak hal untuk dikatakan, tetapi memilih diam ketika tiba waktunya berbicara?
Mungkin kita pernah mengalaminya.
Di grup chat, kita bisa panjang lebar menjelaskan pendapat. Di media sosial, kita berani memberikan komentar. Bahkan, kita bisa membuat video dan mengunggahnya ke publik.
Namun, ketika dosen meminta presentasi, atasan meminta pendapat, atau seseorang tiba-tiba bertanya di depan banyak orang, kita mendadak kehilangan kata-kata.
Lucu memang.
Kita hidup di generasi yang paling mudah berbicara, tetapi belum tentu paling berani menyampaikan diri.
Di sinilah public speaking menjadi penting bagi Gen Z.
Bukan karena semua orang harus menjadi pembicara di atas panggung. Bukan juga karena semua orang harus menjadi orang yang paling percaya diri di ruangan.
Public speaking dibutuhkan karena hampir setiap kesempatan dalam hidup membutuhkan kemampuan untuk menyampaikan sesuatu.
Gen Z Sudah Terbiasa Bicara, tetapi Mengapa Masih Gugup?
Gen Z sangat dekat dengan komunikasi digital.
Mereka terbiasa membuat konten, mengunggah cerita, menulis komentar, membuat video pendek, dan membagikan pendapat melalui media sosial.
Namun, komunikasi digital tidak selalu melatih seseorang untuk menghadapi situasi secara langsung.
Saat mengetik pesan, kita bisa menghapusnya.
Saat membuat video, kita bisa melakukan take ulang.
Saat membuat unggahan, kita bisa mengedit kata-kata sebelum orang lain melihatnya.
Berbicara secara langsung tidak memberikan kemudahan yang sama.
Ketika berada di depan orang lain, kita harus berbicara saat itu juga. Tidak ada tombol edit. Tidak ada delete. Tidak ada kesempatan untuk mengulang dari awal.
Itulah sebabnya seseorang yang terlihat aktif di media sosial belum tentu nyaman ketika harus berbicara secara langsung.
Berani tampil di depan kamera dan berani berbicara di depan orang lain adalah dua kemampuan yang berbeda.
Masalahnya Bukan Selalu Tidak Bisa, tetapi Takut Salah
Banyak anak muda sebenarnya tahu apa yang ingin disampaikan.
Masalahnya muncul ketika mereka mulai memikirkan kemungkinan salah.
Bagaimana kalau jawabanku salah?
Bagaimana kalau aku terlihat gugup?
Bagaimana kalau orang lain menertawakanku?
Bagaimana kalau ternyata pendapatku tidak dianggap penting?
Pertanyaan seperti itu bisa membuat seseorang memilih diam.
Padahal, tidak ada orang yang selalu benar ketika berbicara.
Orang yang sering melakukan presentasi pun bisa lupa kata-kata. Pembicara berpengalaman pun bisa merasa gugup. Bahkan orang yang terlihat sangat percaya diri mungkin pernah mengalami kegagalan ketika pertama kali belajar berbicara di depan umum.
Yang membedakan adalah kemauan untuk terus mencoba.
Public speaking bukan tentang menghilangkan rasa gugup. Public speaking adalah tentang tetap mampu berbicara meskipun merasa gugup.
Satu Kemampuan yang Bisa Membawa Banyak Kesempatan
Coba bayangkan seorang mahasiswa yang memiliki ide bagus dalam diskusi, tetapi tidak pernah menyampaikannya.
Atau seseorang yang memiliki kemampuan kerja yang baik, tetapi kesulitan menjelaskan hasil pekerjaannya.
Atau pencari kerja yang sebenarnya memenuhi kualifikasi, tetapi tidak mampu menjelaskan kelebihannya ketika wawancara.
Kemampuan yang dimiliki akhirnya tidak terlihat.
Di sinilah kemampuan komunikasi menjadi penting.
Kita tidak hanya dinilai dari apa yang kita ketahui. Dalam banyak situasi, orang lain juga perlu memahami apa yang kita pikirkan dan apa yang mampu kita lakukan.
Mahasiswa membutuhkan public speaking ketika melakukan presentasi.
Anggota organisasi membutuhkannya ketika menyampaikan pendapat.
Pencari kerja membutuhkannya ketika mengikuti wawancara.
Karyawan membutuhkannya ketika melakukan presentasi atau menyampaikan laporan.
Pengusaha membutuhkannya ketika menjelaskan produk kepada calon pelanggan.
Satu kemampuan dapat digunakan dalam banyak situasi.
Media Sosial Bisa Menjadi Tempat Latihan
Menariknya, Gen Z sebenarnya memiliki keuntungan yang tidak dimiliki banyak generasi sebelumnya.
Mereka memiliki akses yang sangat mudah untuk berlatih berbicara.
Tidak perlu langsung mencari panggung besar.
Kamera ponsel sudah cukup.
Coba pilih satu topik yang disukai. Kemudian berbicara selama satu menit di depan kamera.
Tidak perlu langsung diunggah.
Tonton kembali videonya.
Apakah berbicara terlalu cepat?
Apakah suara terdengar jelas?
Apakah terlalu sering mengatakan “eee”?
Apakah ekspresi terlihat tegang?
Apakah terlalu sering melihat ke bawah?
Dari latihan sederhana tersebut, kita bisa mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki.
Besok, coba lagi.
Kemudian tambah menjadi dua menit.
Lalu tiga menit.
Tidak perlu menunggu percaya diri untuk mulai latihan. Kepercayaan diri justru dapat tumbuh karena terbiasa berlatih.
Public Speaking Juga Berkaitan dengan Personal Branding
Di era digital, cara seseorang berkomunikasi dapat menjadi bagian dari bagaimana orang lain mengenalnya.
Seseorang mungkin dikenal sebagai orang yang pintar menjelaskan sesuatu.
Orang lain mungkin dikenal karena cara bicaranya yang santai.
Ada juga yang dikenal karena mampu membuat topik yang rumit menjadi mudah dipahami.
Hal tersebut menjadi bagian dari personal branding.
Media sosial memang memberikan ruang untuk membangun citra diri. Namun, personal branding bukan hanya tentang foto yang bagus, jumlah pengikut, atau konten yang terlihat menarik.
Cara kita berbicara juga menjadi bagian dari cara orang lain mengenal kita.
Karena itu, kemampuan public speaking dapat menjadi salah satu modal untuk membangun personal branding yang lebih kuat dan autentik.
Tidak Harus Menjadi Orang yang Banyak Bicara
Ini bagian yang sering disalahpahami.
Public speaking tidak berarti harus berubah menjadi orang yang cerewet.
Orang pendiam juga bisa menjadi pembicara yang baik.
Seseorang tidak harus selalu menjadi pusat perhatian.
Yang penting adalah mampu menyampaikan pesan dengan jelas ketika memang dibutuhkan.
Bahkan, pembicara yang baik bukan selalu orang yang paling banyak berbicara.
Mereka justru tahu kapan harus berbicara, apa yang perlu disampaikan, dan bagaimana membuat orang lain memahami pesan tersebut.
Jadi, kalau selama ini merasa introvert atau tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian, bukan berarti public speaking bukan untuk kita.
Public speaking bukan tentang mengubah kepribadian. Public speaking adalah tentang mengembangkan kemampuan komunikasi.
Jangan Menunggu Sampai Siap
Kesalahan yang sering dilakukan adalah menunggu percaya diri terlebih dahulu.
Menunggu tidak gugup.
Menunggu suara tidak bergetar.
Menunggu merasa sudah pintar.
Masalahnya, kondisi tersebut mungkin tidak akan pernah datang jika kita tidak mulai mencoba.
Rasa percaya diri tidak selalu muncul sebelum melakukan sesuatu.
Sering kali, rasa percaya diri justru muncul setelah kita berulang kali melakukannya.
Karena itu, mulai dari hal kecil.
Berani bertanya di kelas.
Berani menyampaikan pendapat dalam diskusi.
Berani menjadi moderator.
Berani melakukan presentasi.
Berani berbicara dalam rapat.
Berani memperkenalkan diri.
Semakin sering dilakukan, semakin familiar pula situasinya.
AI Bisa Membantu, tetapi Suara Kita Tetap Milik Kita
Teknologi juga dapat membantu Gen Z mempersiapkan diri.
AI bisa digunakan untuk mencari ide, menyusun materi, membuat simulasi pertanyaan, atau membantu mempersiapkan presentasi.
Namun, teknologi hanya membantu proses persiapan.
Ketika waktunya berbicara, tetap kita yang harus menyampaikan pesan tersebut.
AI bisa membantu membuat materi yang bagus.
Tetapi AI tidak bisa menggantikan pengalaman ketika kita harus berdiri di depan orang lain dan menyampaikan gagasan dengan suara sendiri.
Karena itu, gunakan teknologi untuk membantu persiapan, tetapi tetap latih kemampuan berbicara secara langsung.
Berani Bicara Berarti Berani Menunjukkan Diri
Pada akhirnya, public speaking bukan tentang siapa yang paling pintar berbicara.
Bukan juga tentang siapa yang paling percaya diri.
Public speaking adalah tentang keberanian untuk menyampaikan apa yang kita pikirkan dengan cara yang dapat dipahami orang lain.
Gen Z sudah memiliki banyak ruang untuk berbicara.
Ada media sosial.
Ada kampus.
Ada organisasi.
Ada komunitas.
Ada dunia kerja.
Tinggal bagaimana kesempatan tersebut digunakan untuk berkembang.
Jangan biarkan ide bagus berhenti di kepala hanya karena takut salah.
Jangan biarkan kemampuan tidak terlihat hanya karena takut dinilai.
Dan jangan menunggu menjadi sempurna untuk mulai berbicara.
Karena terkadang, yang membuat seseorang tertinggal bukan karena ia tidak punya kemampuan. Ia hanya belum berani menunjukkannya.
Jadi, mulai sekarang, ketika ada kesempatan untuk berbicara, cobalah mengambilnya.
Mungkin awalnya gugup.
Mungkin suara masih bergetar.
Mungkin kata-kata masih berantakan.
Tidak masalah.
Yang penting, mulai bicara.
