Punya Jabatan Bukan Berarti Bisa Bertindak Sesuka Hati

Mahasiswa Universitas Pamulang dan bekerja di bidang administrasi serta akuntansi. Menulis tentang bisnis, digital marketing, dunia kerja, dan pengembangan diri.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Arsha Rizmeira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah merasa sudah bekerja sebaik mungkin, tetapi yang dibahas atasan justru satu kesalahan kecil?
Atau pernah ditegur di depan rekan kerja, sementara ketika pekerjaan selesai dengan baik, tidak ada satu pun kata apresiasi?
Kalau pernah, mungkin masalahnya bukan hanya tentang pekerjaan yang salah. Bisa jadi, cara seorang atasan memperlakukan karyawannya juga menjadi bagian dari masalah di tempat kerja.
Memiliki jabatan memang memberikan seseorang kewenangan untuk mengatur dan mengevaluasi bawahannya. Namun, apakah jabatan yang lebih tinggi berarti seseorang boleh berbicara seenaknya, mempermalukan karyawan, atau memperlakukan orang secara berbeda?
Tentu tidak.
Menjadi atasan bukan hanya soal memiliki bawahan. Ada tanggung jawab untuk memimpin, mengarahkan, dan menciptakan lingkungan kerja yang membuat orang mampu memberikan kinerja terbaiknya.
Ketika Kesalahan Dijadikan Bahan Teguran di Depan Umum
Bayangkan seorang karyawan bernama Rina baru saja menyelesaikan laporan yang harus dikumpulkan kepada klien. Karena terburu-buru, ada satu angka yang salah.
Saat rapat tim, atasannya langsung mengatakan, “Laporan seperti ini saja masih salah. Kamu sebenarnya memeriksa sebelum mengirimnya atau tidak?”
Rina tentu perlu bertanggung jawab atas kesalahan tersebut. Namun, menegurnya di depan seluruh tim belum tentu menjadi cara terbaik untuk menyelesaikan masalah.
Kritik memang diperlukan, tetapi mempermalukan karyawan bukan cara yang tepat untuk memperbaiki kesalahan.
Atasan dapat memanggil Rina secara pribadi, menjelaskan kesalahannya, kemudian membahas bagaimana agar hal tersebut tidak terulang.
Dengan begitu, masalah tetap diselesaikan tanpa membuat karyawan merasa dijatuhkan di depan rekan kerja.
Atasan yang Lebih Cepat Menyalahkan daripada Mendengar
Contoh lain terjadi ketika seorang karyawan terlambat menyelesaikan tugas.
Atasan langsung mengatakan bahwa karyawan tersebut tidak disiplin dan tidak mampu mengatur waktu. Padahal, sebelumnya ada perubahan data dari divisi lain yang membuat pekerjaan harus dikerjakan ulang.
Masalah seperti ini cukup sering terjadi. Karyawan memang perlu bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, tetapi atasan juga perlu memahami penyebab sebelum memberikan penilaian.
Mendengarkan penjelasan bukan berarti membela karyawan.
Justru dengan mendengarkan, atasan bisa mengetahui apakah masalah berasal dari karyawan, komunikasi antardivisi, atau sistem kerja yang memang perlu diperbaiki.
Ketika Ada “Anak Emas” di Dalam Tim
Perlakuan berbeda juga menjadi salah satu masalah yang sering dirasakan karyawan.
Misalnya, Andi dan Budi sama-sama datang terlambat. Ketika Andi terlambat, atasan langsung menegur di grup kerja. Namun, ketika Budi terlambat, tidak ada teguran apa pun.
Masalahnya menjadi lebih besar ketika Budi memang dikenal dekat dengan atasannya.
Bagi atasan, mungkin hal tersebut terlihat sepele. Tetapi bagi karyawan lain, perlakuan seperti itu bisa menimbulkan kesan pilih kasih.
Jika terus terjadi, karyawan dapat merasa bahwa aturan tidak berlaku sama untuk semua orang.
Rasa adil menjadi penting karena karyawan tidak hanya memperhatikan apa yang dikatakan atasan, tetapi juga bagaimana atasan memperlakukan setiap anggota tim.
Instruksi Berubah, Karyawan yang Disalahkan
Bayangkan seorang atasan meminta Dika membuat presentasi dengan gaya formal.
Dika mengerjakannya sesuai arahan dan menghabiskan waktu sampai malam untuk menyelesaikannya. Keesokan harinya, atasan mengatakan bahwa presentasi tersebut terlalu kaku dan meminta dibuat lebih santai.
Dika akhirnya harus mengulang sebagian besar pekerjaannya.
Situasi seperti ini bisa menjadi masalah jika terjadi berulang kali. Bukan karena karyawan tidak mau bekerja, tetapi karena **arahan yang tidak jelas dapat membuat pekerjaan menjadi tidak efisien.**
Sebelum menyalahkan karyawan karena hasilnya tidak sesuai harapan, atasan juga perlu melihat apakah instruksi yang diberikan sudah cukup jelas.
Tegas Itu Perlu, Tetapi Kasar Bukan Keharusan
Atasan memang tidak harus menjadi orang yang selalu menyenangkan.
Ada kalanya ia harus mengatakan tidak. Ada kalanya ia harus memberikan teguran. Bahkan, ada kalanya keputusan yang diambil mungkin tidak disukai karyawan.
Namun, tegas tidak sama dengan kasar.
Seorang atasan dapat memberikan batasan tanpa merendahkan. Dapat memberikan kritik tanpa mempermalukan. Dapat memberikan konsekuensi tanpa menggunakan kata-kata yang menyakitkan.
Cara menyampaikan sesuatu sering kali sama pentingnya dengan isi yang disampaikan.
Ketika Karyawan Akhirnya Memilih Diam
Ada juga situasi ketika seorang karyawan sebenarnya memiliki ide untuk memperbaiki proses kerja, tetapi memilih tidak menyampaikannya.
Bukan karena idenya tidak bagus.
Ia hanya pernah menyampaikan pendapat sebelumnya, tetapi justru mendapat respons seperti, “Kamu masih baru, jangan sok tahu.”
Setelah itu, ia memilih diam.
Mungkin satu orang yang diam tidak terlihat sebagai masalah besar. Namun, jika banyak karyawan melakukan hal yang sama, perusahaan bisa kehilangan banyak ide dan masukan yang sebenarnya berguna.
Karyawan yang diam belum tentu setuju. Bisa jadi mereka hanya sudah lelah untuk berbicara.
Atasan Juga Perlu Bercermin
Evaluasi biasanya diberikan kepada karyawan.
Target belum tercapai, karyawan dievaluasi.
Pekerjaan salah, karyawan diperbaiki.
Kedisiplinan menurun, karyawan ditegur.
Namun, pernahkah seorang atasan bertanya kepada dirinya sendiri:
Apakah saya sudah memberikan instruksi dengan jelas?
Apakah saya sudah memperlakukan anggota tim secara adil?
Apakah cara saya memberikan kritik membuat karyawan berkembang atau justru takut?
Pertanyaan seperti ini penting karena kepemimpinan juga perlu dievaluasi.
Jabatan Bukan Lisensi untuk Bertindak Sesuka Hati
Pada akhirnya, seorang atasan memang memiliki kewenangan yang lebih besar. Tetapi kewenangan tersebut seharusnya digunakan untuk memimpin, bukan untuk menunjukkan siapa yang lebih berkuasa.
Karyawan memang memiliki kewajiban untuk bekerja dengan baik, disiplin, dan bertanggung jawab. Namun, atasan juga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan profesional.
Jabatan memberikan kekuasaan untuk memimpin, tetapi perilaku menentukan apakah seseorang benar-benar layak disebut pemimpin.
Karena itu, sebelum meminta karyawan memperbaiki diri, mungkin ada baiknya seorang atasan bertanya terlebih dahulu:
“Apakah cara saya memimpin sudah membuat orang lain menjadi lebih baik?”
