Aksi "SIGAP": BBK 8 UNAIR Edukasi Masyarakat Karangmalang Cegah Stunting

Mahasiswa S1 Keperawatan Universitas Airlangga
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Arsinta Pramita Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 8 Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar kegiatan penyuluhan kesehatan bertajuk “SIGAP” (Sinergi Gizi Anak dan Pencegahan Stunting) di Desa Karangmalang, Kasreman, Ngawi, pada Kamis (16/07/2026). Salah satu pemateri dalam kegiatan “SIGAP” Arsinta Pramita Putri, menjelaskan bahwa program ini diadakan berdasarkan hasil observasi lapangan dan hasil diskusi dengan Kepala Desa Karangmalang yang menunjukkan pentingnya peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan stunting. Program ini menyasar ibu hamil dan ibu dengan balita sebagai upaya meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan stunting sejak masa kehamilan hingga anak memasuki usia balita. Sebanyak 23 peserta menghadiri kegiatan “SIGAP” yang dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan Posyandu kedua di Desa Karangmalang. Melalui kegiatan ini, tim BBK 8 UNAIR berupaya memberikan edukasi yang mudah dipahami sekaligus memperkenalkan pemanfaatan bahan pangan lokal sebagai bahan Pemberian Makanan tambahan (PMT) bagi balita.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Desa Karangmalang yang menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa BBK 8 UNAIR atas penyelenggaraan edukasi kesehatan mengenai stunting bagi masyarakat. Beliau berharap materi yang disampaikan dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pencegahan stunting sejak dini serta mendorong pemanfaatan bahan pangan lokal yang dapat diolah menjadi PMT. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Bidan Desa Karangmalang yang menekankan bahwa pencegahan stunting dapat dimulai sejak masa kehamilan, pemberian ASI eksklusif, serta menerapkan pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang tepat.
Sebelum penyampaian materi, seluruh peserta diminta mengerjakan pre-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal mengenai stunting. Memasuki sesi inti, mahasiswa menyampaikan materi secara interaktif menggunakan bahasa sederhana agar mudah dipahami oleh seluruh peserta. Materi yang disampaikan meliputi pengertian dan faktor penyebab stunting, upaya pencegahan Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil, pentingnya ASI eksklusif selama enam bulan, pemberian MPASI sesuai usia, tanda-tanda stunting, serta contoh Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal. Pemateri juga menekankan bahwa pencegahan stunting harus dimulai sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) melalui pemenuhan gizi seimbang selama kehamilan, kepatuhan mengonsumsi tablet tambah darah, pemeriksaan kehamilan secara rutin, dan pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber protein serta zat gizi untuk mendukung tumbuh kembang anak.
Suasana penyuluhan berlangsung aktif pada sesi tanya jawab. Salah satu peserta mengajukan pertanyaan mengenai pada usia berapa umumnya remaja perempuan mengalami menarche atau menstruasi pertama kali. Pemateri menjelaskan bahwa secara umum menarche terjadi pada usia 10-15 tahun, dengan rata-rata sekitar 12-13 tahun, meskipun setiap anak dapat mengalami waktu yang berbeda. "Selama ini saya sering bingung dan sedih karena anak saya sulit sekali kalau disuruh makan sayur,” ungkap salah satu ibu balita. Menanggapi hal tersebut, pemateri memberikan beberapa alternatif, seperti mengolah sayuran menjadi sup, perkedel, atau mencampurkannya ke dalam menu MPASI agar lebih mudah diterima anak tanpa mengurangi kandungan gizinya.
Kegiatan SIGAP mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan pengetahuan masyarakat tentang gizi seimbang, pemanfaatan bahan pangan lokal, dan pemberian PMT untuk mencegah stunting. Selain itu, kegiatan ini juga berkontribusi pada SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui promosi kesehatan ibu dan anak, pencegahan KEK pada ibu hamil, serta peningkatan kesadaran akan pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai periode emas pencegahan stunting.
"Melalui SIGAP, kami berharap masyarakat semakin memahami bahwa pencegahan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan dan dapat dilakukan dengan memanfaatkan pangan lokal yang mudah dijangkau. Harapannya, ilmu yang diperoleh tidak hanya diterapkan di keluarga masing-masing, tetapi juga dapat disebarluaskan kepada masyarakat sekitar," ujar Hayuna Nisa selaku salah satu penanggung jawab kegiatan.
