Selangkah Pendakian, Seribu Kebisingan: Siapakah Sosok Itu?

Salah satu mahasiswa Farmasi UII yang gemar melakukan penjelajahan alam, kegemaranya dalam mencari tempat yang belum banyak di kunjungi dan berbagi pengalaman dalam kisah misteri, semoga kisah pribadi ini dapat bermanfaat
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari ARSYAD DZAKIEASSARIY FARMASI UII tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ini adalah sebuah cerita dalam pengalaman saya di dunia pendakian yang telah mencoba melewati beberapa gunung dengan ketentuan dan aturan yang berbeda-beda. Lalu, apakah mistis dalam pendakian itu benar adanya?
Berawal dari sebuah mitos yang selalu dikaitkan dengan mistis, tempat yang memiliki kesunyian dan kegelapan selalu disangkutkan dengan dunia mistis. Lalu, apakah dalam pendakian yang perjalanannya melewati tempat yang sunyi dan gelap perlu diyakini juga akan adanya kemistisannya?
Ini adalah perjalanan pendakian saya berawal dari mendaki Gunung Prau, gunung yang mempunyai ketinggian 2.590 mdpl dan berada di Jawa Tengah. Pendakian yang saya mulai di basecamp Igirmranak pada siang hari dengan waktu tempuh 4–5 jam. Singkat cerita, pada malam hari saya pun mulai merasakan kegelisahan dalam diri saya yang membuat kurang nyamannya dalam tidur saya. Sontak saya bertanya pada diri saya, “Inikah mistis yang dimaksud?” Ini bukan sebuah mistis, ini adalah sebuah hal yang wajar menurut saya. Dengan pendakian awal saya tanpa persiapan olahraga dan waktu tempuh perjalanan panjang dengan membawa tas yang cukup besar, sepertinya akan membuat tubuh saya merasa sakit dan membuat tidur tidak terlelap.
Dalam pengalaman pertama saya, pendakian ini tidak membuat saya merasakan mistis yang ada. Hal ini pun membuat saya melanjutkan ke pendakian selanjutnya, hingga pada akhirnya pendakian ke-6, yaitu pada Gunung Sumbing, saya menemukan fakta baru. Gunung yang mempunyai banyak cerita mistis dan larangan dalam pendakiannya membuat saya tertarik untuk mencobanya.
Pendakian yang saya mulai dari basecamp Gajah Mungkur dengan perjalanan yang saya mulai pada malam hari pada pukul 01.30 ini cukup membuat diri saya sedikit merasakan kekhawatiran.
Pada pendakian ini, saya dengan tiga teman saya mendapatkan pesan dari warga lokal di sana tentang aturan dan larangannya, dimulai dari dilarang buang ludah sembarangan, menggunakan pakaian berwarna kuning, keluhan kelelahan atau kedinginan, serta berkata kasar. Hal ini cukup menimbulkan kekhawatiran saya dengan perjalanan pendakian saya yang akan dipenuhi kesunyian dan kegelapan.
Perasaan Khawatir, Apakah Ini Mistis?
Pendakian saya mulai bersama tiga teman saya, diawali dengan berdoa pada Tuhan sebagai wujud pondasi kita sebagai makhluk-Nya. Pada saat pendakian, saya dengan tiga teman saya cukup menikmati perjalanan dan berusaha tetap tenang serta tidak terlalu mengkhawatirkan akan larangan tersebut. Tapi perlu diingat, kita tetap menaati akan aturan yang telah diberikan dari warga sekitar terhadap kita. Ketika memasuki pintu masuk Gajah Mungkur, perasaan saya mulai tidak beraturan. Saya merasakan sebuah hal yang mulai menakuti diri saya. Dalam hati kecil saya berkata, “Benarkah ini gangguan dari sosok mistis yang ada? Atau hanya imajinasi saya yang berlebihan?”
Pada perjalanan ini saya sempat melakukan kesalahan, yaitu meludah sembarangan. Hal ini sontak membuat saya makin khawatir, tetapi saya tetap berusaha berpikir positif dan fokus dalam perjalanan saya. Subuh pun tiba, akhirnya saya sampai pada area camp. Matahari mulai muncul menandakan pagi tiba. Hal ini membuat kekhawatiran saya menghilang dan percaya diri saya meningkat dengan keindahan matahari terbit dari ketinggian tersebut, dengan pesona Gunung Sindoro di depannya membuat mata ini tak lepas untuk menatapnya. Tentu dengan badan yang gemetar karena suhu dingin yang menyentuh 0°C. Perjalanan pun saya lanjutkan hingga puncak tertinggi di ketinggian 3.371 mdpl pada siang hari. Setelah istirahat sejenak, kami pun segera turun kembali ke basecamp sebelum gelap kembali datang.
Inikah Mistis yang Dimaksud?
Dalam diri saya pun bertanya, “Lalu, di manakah letak mistisnya?” Sejauh pengalaman saya dalam beberapa pendakian, saya baru merasakan perasaan gelisah dan takut pada pendakian saya di Gunung Sumbing. Lantas, hal itu pun menuai pengalaman yang membuat saya mengerti. Mistis dalam gunung bagi saya memang ada, selayaknya Tuhan yang menciptakan makhluk tidak hanya manusia saja. Tapi bukan berarti kita perlu takut. Adanya larangan warga lokal yang di luar dari logika kita tetap patut kita hormati. Selayaknya tamu, kita harus mengikuti apa yang sudah menjadi tradisi dari tuan rumah. Sosok yang menjadi gaib dalam dunia pendakian mungkin itu adalah sosok imajinasi ketakutan dari kita yang berlebihan. Bagi saya, selama kita menghormati mereka, kita pun akan mendapatkan hal yang serupa dari mereka.
