Mama Lina dan Bapak Whelhelmus, Pahlawanku di Rote Ndao

Tertarik pada isu kebencanaan, travelling dan lari
Tulisan dari Arsyad Iriansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Panggil saja mereka Bapak Whelhelmus Keti dan Mama Lina. Mereka adalah orang tua angkat saya selama setahun, karena merekalah kehidupan saya selama setahun bisa berjalan dengan baik. Saya dan mereka bukan diikat dalam tali darah -bukan anak kandung. Hanya saja, merekalah orang yang pertama kali saya temui, dengan kelapangan hatinya menampung di gubuk mereka.
Saya menyebut mereka adalah pahlawan, kenapa demikian:
1. Mereka yang selalu hadir memberi senyum disetiap saat
Kamar saya bersampingan dengan kamar mereka. Setiap saya bangun pagi, pulang sekolah, atau hendak tidur. Mereka yang selalu memberi senyum lebar, walaupun jarang sekali saya membantu mereka untuk urusan memasak atau berkebun.
"kaka, su makan? "tanya mama
"kaka, cepat solat dulu sana"
Atau beraneka ragam ucapan yang dilontarkan kepada saya.
2. Toleransi itu dilakukan dan dirasakan
Saya beragama islam dan sepanjang hidup, saya menghabiskan pendidikan di lingkungan pesantren. Mama dan bapak adalah kristen taat, tak pernah lupa untuk gereja dan mengikuti kegiatan gereja.
Walaupun kami berbeda, merekalah yang mengajarkan saya betapa toleransi itu menguatkan dan bukan menghancurkan.
Saya selalu terhormat ketika acara di desa. Mama adalah orang nomor satu yang selalu meminta masyarakat desa untuk membuatkan saya makanan yang halal. Tak jarang, mama yang akan turun tangan membuatkan telur ceplok kesukaanku.
3. Kesederhanaan dan kejujuran adalah modal utama.
Mama dan bapak hanya petani iris tuak. Hasil mengiris tuak tak begitu banyak, rata-rata 3 sampai 8 pohon hanya akan menghasilkan 1 dirijen botol yang dihargai 50 ribu.
Hasil menanam padi pun juga tidak bisa diandalkan. Cuaca Rote yang gersang dan irigasi yang belum memadai membuat bapak dan mama mengakalinya dengan menyisihkan setiap panen ke dalam lumbung padi di rumah untuk digunakan selama setahun.
Seperti, cerita saat mama meminta ijin untuk meminjam uang, karena hasil iris tuak tak begitu menjanjikan.
Kami akan bersyukur saat bisa makan gizi-ucapan orang Rote untuk makan enak. Makan gizi ini sekedar nasi, sayur daun kelor dan 1 telor dadar yang dipotong menjadi 4 bagian.
"bahwa pahlawan, tak hanya mereka yang bisa melakukan hal besar. Pahlawan adalah mereka yang selalu memberi kasih untuk sesama "
