kumparan
30 April 2019 12:33

Mudik Adalah Bentuk Bakti Era Kini

Merantau. Kata ini dulu seakan sebuah mimpi buruk mengingat saya yang seorang anak Mama. Ungkapan ini juga merupakan sifat nyata saya yang tak mau jauh-jauh dari wanita tersayang yang melahirkan saya ke dunia. Berada di dekat Mama menjadi candu setelah 3 tahun kami berpisah karena beda kota, saat saya harus menempuh kuliah di ibukota provinsi Jawa Timur, Surabaya. Memang masih sering bertemu, namun rasa rindu tetaplah menggebu.
Saya dan Mama
Selepas kuliah dan lulus, saya kembali ke tanah kelahiran, Pasuruan. Sebuah kota kecil dimana tak banyak lulusan cumclaude yang mau menggantungkan hidup dengan mencari pekerjaan di daerah ini. Gajinya kecil, begitu komentar teman-teman saya. Yaa memang Upah Minimun Regional (UMR) di sini sangat jauh dibanding di ibukota. Namun apalah arti besarnya gaji bila tidak ada kedamaian yang menyelimuti hati? Kedamaian yang dirasa saat berkumpul dengan yang tersayang: keluarga.
ADVERTISEMENT
Saya punya prinsip, selagi belum menikah maka bahagiakanlah orang tua. Apalagi saya yang seorang anak perempuan, bila nanti menikah maka menjadi hak milik suami. Dalam artian segala tindakan harus sepengetahuan dan seizin suami, meski itu untuk pulang dan menginap di rumah orang tua. Maka bersyukurlah bila kalian, teman-teman yang membaca tulisan ini, bila memiliki suami baik yang selalu mengizinkan kalian bersua dengan orang tua. Meski lewat kecanggihan teknologi, seperti fitur video call, orang tua yang bisa melihat wajah anaknya dan tahu dalam keadaan baik-baik saja akan sangat lega. Inilah yang membuat seorang anak perempuan yang telah menikah turut bahagia meski jauh dari orang tuanya.
Selagi belum menikah, gaji saya pakai untuk menyenangkan beliau berdua. Jalan-jalan ke tempat yang menyenangkan, makan di tempat makan dan memilih menu unik sebagai pengalaman yang tak terlupakan serta menuruti apa saja yang beliau ucapkan agar tidak ada sesal ketika harus berpisah usai menikah nanti. Menikmati waktu bersama orang tua menjadi momen yang sangat berharga. Meski gaji kecil, yang penting bahagia. Namun itu dulu, sebelum saya menyadari bahwa pernikahan juga butuh banyak biaya dan bisa saja merepotkan orang tua.
ADVERTISEMENT
Fenomena ini saya sadari saat salah seorang teman akan menikah dan mengeluh kekurangan dana. Saya tercengang ketika tahu rincian biaya apa saja yang dikeluarkannya untuk hari sakralnya tersebut. Saya tidak bisa membantu banyak. Malah saya yang kepikiran bagaimana dengan hari bahagia saya nanti ya di masa depan.
Iseng, saya bertanya pada Mama bagaimana bila saya menikah nanti. Jawaban tak terduga saya dapatkan, dengan semangat Mama mengungkapkan impiannya. Sebagai satu-satunya anak perempuan, Mama ingin nantinya pernikahan saya menjadi yang paling spektakuler di kampung. Tidak perlu menyewa orkes atau organ tunggal, yang penting tatanan resepsi pernikahan yang memikat. Desain warna harus serba pink, dengan karpet merah yang penuh menutup lantai. Makanan juga harus prasmanan, menyenangkan tamu undangan.
ADVERTISEMENT
Saya langsung pusing membayangkan berapa perkiraan biaya yang harus dianggarkan. Dan terbelalak ketika menghitungnya dengan Mama.
“Gak papa, Mama punya tabungan kok. Yang penting nanti pernikahanmu bagus,” kata wanita setengah baya ini.
Pernikahan. Membayangkan menikah dengan siapa saja belum terbayangkan saat itu. Kekasih tak ada, baru putus dan tidak berani bilang pada Mama. Takutnya Mama khawatir karena usia saya sudah di atas 25 tahun. Kata orang usia segitu bila putus cinta maka akan susah cari jodoh. Duh mitos apa itu? Jangan sampai Mama tahu atau akan sedih hatinya.
Akhirnya, dengan terpaksa saya berniat mencari kerja di tempat lain. Kalau bisa di luar provinsi agar bisa fokus bekerja dan mengumpulkan dana pernikahan sebanyak-banyaknya hingga tak merepotkan Mama. Syukurlah dengan segera saya diterima di sebuah klinik di Sleman, Yogyakarta. Berat meminta restu Mama karena harus meninggalkannya, apalagi kami sama sekali belum pernah ke provinsi sebelah. Tapi tahu niat tulus ini, Mama pun merelakan anak gadisnya hidup sendiri.
ADVERTISEMENT
Tak terasa sudah hampir setahun saya menikmati hidup dan bekerja keras di Kota Pelajar. Jauh dari Mama, tak lagi merasakan dekapan hangatnya. Rindu. Saat itu sekitar tahun 2014-an dan fitur video call belum secanggih dan semudah sekarang. Telepon genggam saya dan Mama pun yang kameranya masih VGA, jadi hanya bisa berkirim gambar melepas rindu.
Rasa rindu memuncak kala bulan Ramadhan. Berpuasa seorang diri di rantau rasanya sungguh pedih. Tidak ada jamuan sahur dan buka, tidak ada terawih dengan suasana hangat bersama keluarga. Cium tangan Mama usai sholat pun tak bisa. Inilah yang membuat saya makin giat bekerja demi menghapus rasa rindu yang menderu.
“Semangat! Sebentar lagi dana nikah terkumpul!” kata saya pada diri sendiri, mengingat kontrak kerja setahun yang tinggal beberapa bulan lagi.
ADVERTISEMENT
Kesibukan inilah yang membuat saya lupa memesan tiket kereta api, transportasi favorit, untuk pulang ke kampung halaman saat Idul Fitri. Padahal atasan sudah memberi cuti seminggu saat lebaran, menutup klinik agar pegawainya bisa mudik. Saya benar-benar alpa bahwa memperoleh tiket di hari istimewa tak semudah di hari biasanya. Akhirnya 2 minggu sebelum hari H, saya pesan tiket kereta langsung ke stasiun Tugu. Habis, kereta apapun ke Jawa Timur susah penuh kursi penumpangnya. Pindah ke stasiun Lempuyangan, nasib serupa saya dapatkan. Apes.
Kalau naik pesawat, saya belum berani. Selain harga tiket yang fantastis, saya juga trauma ketinggian. Senekad apapun, kalau sendirian masa punya keberanian? Apalagi saya punya janji untuk naik pesawat yang pertama kalinya bersama Mama.
ADVERTISEMENT
Akhirnya masa cuti kerja tiba. Saya nekad ke terminal untuk naik bus jurusan Surabaya, nanti baru oper ke Pasuruan. Yang penting sampai Jawa Timur dulu lah. Ternyata... Penumpang membludak! Di tahun 2014 kala itu, saya menunggu hingga 6 jam untuk dapat antrean naik bus. Hingga jam ke-7, saya letih dan menyerah. Saya kembali dan membanting tubuh ke atas kasur di perantauan, mengabarkan Mama bahwa saya tak bisa pulang karena kehabisan tiket. Mama tersedu, saya ikut meneteskan air mata tersedu-sedu.
Masih teringat bagaimana pesan Mama kala itu. Berkumpul bersama keluarga di hari Lebaran adalah momen sakral. Bukan hanya sebagai peringatan kemenangan usai sebulan melawan hawa napsu, namun membahagiakan orang tua karena bisa bersua dengannya ialah hal yang utama. Mama senang bila anak-anaknya bisa berkumpul dan menikmati masakan khasnya di hari yang fitri. Apalagi bisa memakai seragam yang sama, seragam keluarga yang dijahit tangan olehnya. Mama senang bila bisa merayakan hari kemenangan bersama buah hatinya yang tersayang, serasa bersama-sama terlahir kembali dan memulai hidup yang lebih baik lagi. Dan bahagia Mama adalah kebahagiaan saya, putrinya.
ADVERTISEMENT
Sedih. Saya tidak ingin menjadi anak durhaka yang melukai hati ibunya. Akhirnya saya mendapat tiket bus setelah oper dari Jogja ke Solo, lalu dari Solo ke Ponorogo. Dari Ponorogo ke Surabaya, baru oper lagi ke Pasuruan. Mudik kala itu sungguh berat. Tidak bisa langsung naik bus karena selalu penuh dan akhirnya saya pakai jasa calon. Mahal, menguras dompet, belum lagi letih di perjalanan, tapi tak apa demi bakti pada Mama tercinta.
Setelah saya menikah, saya usahakan sehari sebelum lebaran sudah berkumpul dengan Mama. Apalagi rumah mertua juga dekat, hanya beda kelurahan. Saya mencari cara bagaimana mudik tak lagi bikin kacau karena ribet cari tiket. Syukurlah kini akhirnya kenal dengan Tiket.com.
Suasana lebaran tahun lalu, berkunjung ke rumah mertua saat mudik ke rumah Mama dan pakai seragam lebaran
Yaaa... Syukurlah kecanggihan teknologi di masa kini tak lagi membuat galau. Saya bisa pesan tiket kapan saja dan ke mana saja dengan mudah. Apalagi dengan #tiketWonderfulIndonesia saya tak lagi cemas kehabisan kursi penumpang dan bahkan bisa memilih kursi yang diidamkan. Tinggal buka tiket.com, pilih tiket kereta api, pilih tanggal keberangkatan (dan juga tanggal pulang kalau ingin tiket pulang-pergi), lalu jumlah penumpang. Hasilnya langsung tampak jelas seketika. Tak butuh waktu lama dan bikin harap-harap cemas.
ADVERTISEMENT
Karena saya sudah berkeluarga, ini saya pesan untuk tiket pulang kampung saat lebaran bagi saya, suami dan anak saya yang masih usia 1,5 tahun.
Pesan tiket kereta api mepet lebaran, bukan halangan untuk bisa mudik
Hanya 7 jam untuk mudik lintas provinsi
Tiket Kereta Api bisa dipesan H-90 loh. Siapa cepat bakal dapat tempat dan kereta impian terbaik. Ini saya buat perbandingan harga tiket non lebaran, selisihnya sedikit rupanya.
Pesan mendadak untuk hari inpun bisaaa
Bagaimana nanti cara pakainya juga tertulis jelas, tak bingung dan bikin tanya-tanya ke petugas di stasiun nantinya.
Ada refund ini yang bikin kita anti rugi
Yang ingin berbakti pada orang tua, jangan lupa mudik, ya. Kehadiranmu adalah kebahagiaan orang tuamu. Inilah tindak bakti termudah yang bisa dilakukan. Apalagi jarak bukan lagi halangan, waktu pun kini bisa diatur. Tiket perjalanan juga lebih mudah didapat melakui tiket.com. Perjalanan yang mendadak tetap bisa dilakukan karena tiket perjalanan selalu tersedia. Banyak alternatif transportasi yang juga bisa dipilih di https://www.tiket.com/.
ADVERTISEMENT
Ah senangnyaaa jadi anak berbakti kesayangan Mama.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan