Konten dari Pengguna

Mengapa Penggunaan Aku-Kamu dan Lu-Gua Berbeda di Kalangan Anak Muda Indonesia?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tristan Kevala Arthana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi “Meme Aku-Kamu”. Sumber: Dokumen pribadi, 2026.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi “Meme Aku-Kamu”. Sumber: Dokumen pribadi, 2026.

“Oh iya, lupa lu orang Surabaya.”

Kalimat itu lah yang saya dengar ketika saya sedang berbicara dengan seorang teman dari Jakarta. Waktu itu saya menggunakan “aku-kamu” seperti biasa. Saya tidak merasa ada yang aneh karena memang dari dulu saya sudah terbiasa menggunakan sapaan tersebut ketika berbicara dengan teman, baik laki-laki maupun perempuan. Teman saya kemudian mengatakan bahwa ia baru ingat saya berasal dari Surabaya.

Saya yang tidak mengerti maksudnya langsung bertanya, “Emang kenapa?”

“Gapapa,” jawabnya. “Soalnya di Jakarta, aku-kamu tuh lebih ke orang PDKT, atau keluarga, atau yang memang sudah dekat. Intimate gitu.”

Saya sempat berpikir, hah, memangnya kenapa dengan aku-kamu? Bagi saya, “kamu udah makan?” ya hanya berarti menanyakan apakah seseorang sudah makan. Saya bisa mengatakan itu kepada teman tanpa ada maksud lain. Bahkan, menggunakan “aku-kamu” kepada teman perempuan juga terasa biasa saja. Ternyata, bagi teman saya, sapaan yang sama bisa membawa kesan yang berbeda.

Dari situ saya mulai menyadari bahwa kata ganti orang ternyata tidak selalu terdengar sama bagi semua orang. Saya mungkin mendengar “aku-kamu” sebagai cara bicara sehari-hari, sementara teman saya bisa menangkapnya sebagai sesuatu yang lebih personal. Kalau dipikir-pikir, perbedaan ini cukup menarik karena “aku-kamu” dan “lu-gua” sama-sama bisa digunakan dalam percakapan santai, tetapi kesan yang muncul bisa berbeda tergantung lingkungan tempat seseorang terbiasa menggunakannya.

Di Jakarta, misalnya, “lu-gua” sangat familiar dalam percakapan antarteman. “Lu udah makan?” atau “Gua nggak tahu” terdengar santai dan akrab. Sementara itu, “aku-kamu” dapat memiliki kesan yang berbeda tergantung hubungan dan konteksnya. Bagi saya yang tumbuh di Surabaya, justru “aku-kamu” adalah salah satu bentuk sapaan yang sangat biasa digunakan sehari-hari. Saya bisa mengatakan “kamu mau ke mana?” kepada teman tanpa memikirkan apakah terdengar terlalu dekat. Jadi ketika kebiasaan tersebut saya bawa ke lingkungan lain, saya tidak menyangka kalau orang lain akan menangkapnya dengan kesan yang berbeda.

Perbedaan ini juga terlihat dalam penelitian mengenai penggunaan kata ganti di Jakarta. Abtahian, Cohn, Djenar, dan Vogel (2021) menjelaskan bahwa penggunaan kata ganti orang pertama dalam bahasa Indonesia Jakarta memiliki variasi berdasarkan fungsi dan konteks sosial. Pilihan kata ganti berkaitan dengan situasi percakapan dan hubungan antara pembicara dengan lawan bicaranya. Artinya, sebuah kata ganti tidak berdiri sendiri. Cara seseorang menggunakannya ikut dipengaruhi oleh siapa yang berbicara, kepada siapa, dan dalam situasi seperti apa.

Penelitian Hanifah, Salsabila, dan Yani (2023) mengenai masyarakat tutur Jakarta Selatan juga menunjukkan adanya variasi penggunaan sapaan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penelitian tersebut, “lu-gua” banyak sekali ditemukan dalam hubungan pertemanan yang dekat, sedangkan “aku-kamu” dapat muncul dalam percakapan sehari-hari, keluarga, maupun hubungan yang romantis. Bagian tentang hubungan romantis ini membuat saya langsung teringat pada percakapan saya dengan teman tadi. Jika seseorang lebih sering mendengar “aku-kamu” dalam situasi yang menunjukkan kedekatan atau hubungan romantis, wajar jika sapaan tersebut kemudian terasa lebih personal dan dekat bagi mereka.

Namun, bukan berarti “aku-kamu” adalah bahasa yang romantis dan “lu-gua” adalah bahasa untuk pertemanan. Kalau sesederhana itu, mungkin saya tidak akan pernah mengalami kebingungan tadi. Dalam kenyataannya, kedua bentuk tersebut bisa digunakan dalam banyak situasi. Seseorang bisa menggunakan “aku-kamu” dengan keluarga, teman, pasangan, atau orang lain yang sudah dianggap dekat. Begitu juga dengan “lu-gua”, yang tidak selalu berarti seseorang sedang berbicara dengan teman dekat. Konteks dan tetap memainkan peran penting.

Menurut saya, yang menarik itu justru terletak pada kebiasaan kecil yang sering kita anggap biasa. Saya tidak pernah benar-benar memikirkan kenapa saya lebih sering mengatakan “kamu” kepada teman. Saya hanya terbiasa mendengarnya dan menggunakannya. Teman saya juga mungkin tidak pernah memikirkan kenapa “aku-kamu” terdengar lebih personal baginya. Keduanya terbentuk dari lingkungan bahasa yang berbeda.

Hal ini juga membuat saya berpikir bahwa perbedaan bahasa antardaerah tidak selalu terlihat dari kosakata yang benar-benar berbeda. Kadang-kadang, kita menggunakan kata yang sama, tetapi memberikan kesan yang berbeda. Kita sama-sama berbicara bahasa Indonesia, tetapi pengalaman kita dalam menggunakan bahasa tersebut tidak selalu sama. Bagi saya, “aku-kamu” mungkin terasa biasa saja. Bagi orang lain, sapaan yang sama bisa terdengar lebih dekat atau bahkan seperti sedang PDKT.

Pengalaman sederhana tersebut membuat saya lebih berhati-hati dalam memahami cara orang lain berbicara. Bukan berarti saya harus berhenti menggunakan “aku-kamu” ketika berbicara dengan te

man dari Jakarta. Saya hanya jadi lebih sadar bahwa kebiasaan bahasa saya belum tentu memiliki makna yang sama bagi orang lain.

Pada akhirnya, memahami perbedaan seperti ini penting dalam komunikasi sehari-hari. Bahasa bukan hanya soal apa yang kita katakan, tetapi juga bagaimana orang lain terbiasa memahami apa yang kita katakan. Bahkan dalam satu negara dan satu bahasa, satu sapaan sederhana seperti “aku-kamu” bisa membawa kesan yang berbeda. Dengan memahami kebiasaan bahasa dan konteks seseorang, kita jadi bisa lebih mudah memahami maksud mereka dan menghindari salah paham yang sebenarnya sederhana.

Daftar Pustaka

Abtahian, M. R., Cohn, A. C., Djenar, D. N., & Vogel, R. C. (2021). Jakarta Indonesian first-person singular pronouns: Form, function and variation. Asia-Pacific Language Variation, 7(2), 185–214.

Hanifah, N., Salsabila, A. H., & Yani, N. (2023). Variasi bahasa pada masyarakat tutur Kota Jakarta Selatan. Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan, 14(2), 120–126.