Berbagi Suami: Nestapa dan Kebersamaan Antarpuan dalam Bayang-Bayang Poligami

Undergraduate Communication Student at Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Artheta Medina Kallan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Identitas Film
Judul: Berbagi Suami
Sutradara: Nia Dinata
Produser: Elza Hidayat, Claud Kunetz, Constantin Papadimitriou (Kalyana Shira Films & WallWorks)
Genre: Drama
Tahun Rilis: 2006
Durasi Film: 105 menit
Praktik poligami selalu menjadi topik yang memicu perdebatan hangat di Indonesia. Di satu sisi, poligami sering dibungkus dengan diskursus agama dan norma sosial, tetapi di sisi lain tak jarang hal ini meninggalkan kedukaan bagi kaum perempuan. Melalui film Berbagi Suami (2006), sutradara sekaligus penyusun naskah Nia Dinata mengambil langkah yang segar, krusial, dan berani. Ia tidak menghakimi atau meromantisasi poligami, melainkan menyorot dari sudut pandang batin para perempuan yang menjalaninya, lalu membiarkan penonton untuk menyaksikan betapa rumit dan berlapisnya realitas yang mereka hadapi ketika harus “berbagi” lelaki yang sama dalam hidupnya.
Dengan mengusung format antologi tiga cerita dari latar belakang sosial yang berbeda, film ini tidak sekadar memotret kontroversi. Berbagi Suami membedah realita ketimpangan relasi kuasa, nestapa emosional yang tersembunyi di balik tembok rumah tangga, serta kehangatan kebersamaan antarpuan atau sisterhood yang tumbuh subur sebagai bentuk pertahanan di tengah kehidupan yang patriarkal. Segmen pertama menceritakan kisah dr. Salma, seorang akademisi dan dokter yang meskipun mapan secara karier dan berpendidikan tinggi, harus menghadapi dilema antara posisinya sebagai perempuan modern dan mandiri dengan tuntutan nilai-nilai religius-tradisional guna menjadi istri yang patuh secara agama. Salma memilih untuk menahan rasa cemburu demi norma dan keutuhan keluarga. Segmen kedua beralih ke kisah Siti, gadis desa lugu yang dibawa ke Jakarta oleh pakliknya dengan iming-iming sekolah kecantikan, tetapi justru dijadikan istri ketiga. Dalam rumah sempit yang terasa sumuk itu, ia tidak hanya menemukan kehangatan dan empati, tetapi juga hubungan emosional serta romantis dengan istri kedua pakliknya, Mbak Dwi. Sosok Mbak Dwi yang memiliki pembawaan lugas dan berkarakter membuat Siti menemukan rasa aman yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya. Hubungan romantis antarpuan ini menjadi bentuk pelarian sekaligus perlawanan terhadap pernikahan heteronormatif yang menindas mereka, hingga akhirnya Siti dan Mbak Dwi melarikan diri bersama demi meraih kebebasan dan kasih sayang. Diiringi lagu “Pergi Tanpa Pesan” dari Sore, momen ini berhasil menangkap esensi keberanian sekaligus kerentanan yang menjadikannya salah satu adegan paling emosional dalam film ini. Sementara itu, segmen ketiga menyoroti Ming, pelayan restoran cantik berusia muda yang terlibat dalam pernikahan siri dengan pemilik restoran, Koh Abun. Diiming-imingi fasilitas apartemen dan mobil hasil manipulasi KTP bujangan palsu, Ming yang pragmatis memanfaatkan hal ini guna mengamankan kebutuhan ekonomi sekaligus mengejar cita-citanya menjadi seorang aktris. Namun, kisah Ming memperlihatkan kenyataan pahit bahwa pernikahan transaksional yang menjanjikan keamanan sementara dapat berujung pada ketidakstabilan dan keterasingan. Istri pertama Koh Abun, Cik Linda, memiliki strateginya sendiri untuk menjual aset apartemen dan memboyong Koh Abun sekeluarga pindah ke Amerika. Ia kemudian ditinggalkan begitu saja dengan segepok uang pesangon.
Kekuatan akting para pemain dalam film ini patut diacungi jempol karena dialognya terasa sangat natural seperti kehidupan sehari-hari, hingga berhasil membuat perasaan penonton campur aduk dan geregetan. Penonton dibuat gemas dengan ketabahan hati dan penderitaan dr. Salma, merasa iba pada kepolosan Siti, hingga tersentuh oleh kepasrahan Ming yang menghadapi kepahitan hidupnya di kota besar. Sisi sinematografi dan visual dalam film ini juga diolah dengan apik untuk mendukung suasana dari tiap cerita. Segmen pertama dr. Salma terasa mencekam dan mengejutkan di beberapa bagian, segmen kedua Siti berhasil mengekspresikan visual yang gerah dan sumuk sekali, tetapi juga terasa hangat karena benih-benih kebersamaan yang terjadi, sedangkan segmen ketiga Ming dikemas dengan gaya yang cukup nakal dan segar meski berakhir getir.
Menilai kelebihan dan kekurangan film ini menjadi hal yang sangat menarik. Kelebihan utamanya terletak pada keberaniannya menyajikan isu poligami dan eksplorasi kebersamaan antarpuan yang tidak biasa dan membongkar norma tradisional. Namun, titik yang cukup mengejutkan terletak pada transisi antar-segmennya. Perubahan nada dari cerita pertama yang mencekam kemudian masuk ke cerita kedua yang sumuk dan romantis, hingga ke cerita ketiga yang nakal, segar, dan ironis membuat ketiganya hampir terasa seperti tiga film yang berbeda. Meskipun hal ini dapat terasa terlalu melompat, hal inilah yang justru menjadi keunikan tersendiri. Melalui perpaduan ini, pesan moral film dapat terpancar dengan jelas: bahwa di tengah bayang-bayang patriarki dan kerumitan poligami, keamanan serta kebebasan perempuan tidak pernah lahir dari ketergantungan atau kepatuhan pada laki-laki, melainkan dari keberanian untuk saling menguatkan sesama perempuan dan mengambil kendali atas hidupnya sendiri. Meski tidak semua perjuangan berakhir dengan kebebasan penuh, hal ini tetap menjadi sumber kekuatan untuk saling menguatkan di tengah segala keterbatasan yang ada.
Secara keseluruhan, Berbagi Suami berhasil merajut realita pahitnya poligami dan nestapa para korbannya menjadi sebuah analisis tajam mengenai kebersamaan antarpuan dalam bayang-bayang poligami. Film ini membuktikan bahwa entah melalui perlawanan berani seperti yang dilakukan Siti dan Mbak Dwi, maupun kenyataan pahit yang dihadapi oleh dr. Salma dan Ming, perempuan selalu memiliki kehangatan dan caranya sendiri untuk berjuang di tengah ketimpangan relasi dan kaku-kerasnya norma.
