Konten dari Pengguna

Artificial Intelligence dan Krisis Air: Kemajuan yang Membawa Kekurangan

axel umage

axel umage

Pelajar yang suka science dan informatika

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari axel umage tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Shutterstock

Di dalam setiap negara, pemerintah selalu menekankan pembangunan pusat data Artificial Intelligence. Memang dalam zaman sekarang pengembangan teknologi itu penting, namun perlu diperhatikan sisi lainnya dalam pembangunan pusat data AI maupun juga menggunakan AI. Pusat-pusat tersebut menggunakan air yang cukup banyak, terutama pusat-pusat yang besar, jika pemerintah dan perusahaan tetap mengembangkan pusat-pusat tersebut maka sumber daya air akan terancam habis dipakai oleh sebuah program, bukan seorang manusia yang lebih membutuhkan air tersebut.

Pertama-tama kita perlu tahu apa itu pusat data AI, menurut definisi yang dilakukan oleh Alice. G & Alexandra, pusat data AI adalah fasilitas yang menampung infrastruktur IT spesifik yang diperlukan untuk melatih sebuah model AI, pusat tersebut sangatlah kompleks dengan arsitektur komputasi, jaringan, dan penyimpanan yang canggih. Meskipun pusat tersebut memiliki beberapa kesamaan dengan pusat data tradisional kedua pusat tersebut juga memiliki hal membuatnya berbeda, perbedaan antara kedua jenis pusat data ini terletak pada tuntutan luar biasa dari beban kerja AI berintensitas tinggi. Berbeda dengan pusat data AI, pusat data umum berisi infrastruktur yang akan cepat kewalahan oleh beban kerja AI. Infrastruktur berteknologi AI dirancang khusus untuk tugas cloud, Artificial Intelligence, dan machine learning. Misalnya dalam prosesor, pusat data konvensional lebih cenderung dirancang untuk dan berisi unit pemrosesan pusat (central processing unit, CPU). Sementara itu, pusat data berteknologi AI memerlukan unit pemrosesan grafis (graphics processing unit, GPU) berkinerja tinggi. Namun dengan kecanggihan dan tenaga kerja yang besar pasti juga memiliki kekurangannya juga, konsekuensi tersebut adalah penggunaan besar terhadap sumber daya alam yang ada pada bumi, terutama dalam penggunaan air.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Universitas Airlangga (2026) dan University Of California Riverside (dalam Italianfacts), sumber daya air sudah digunakan oleh pusat data AI dengan cara mendinginkan pusat tersebut supaya tidak kepanasan dan mencegah terjadinya overheating. Namun dengan cara tersebut pusat tersebut akan menggunakan 2.700 miliar liter setiap bulannya dan diperkirakan untuk meningkat lagi hingga 4.700 miliar liter per bulan pada tahun 2030 jika perkembangan pusat data AI terus berlanjut. Salah satu contoh dapat dilihat oleh laporan yang dilakukan oleh PBB (dalam CNN Indonesia, 2026), pada laporan tersebut PBB menyatakan bahwa pendinginan tersebut akan setara dengan kebutuhan air domestik dasar tahunan seluruh 1,3 miliar penduduk Sub-Sahara Afrika dan jika dihitung setiap negara tingkat tersebut mencapai 37 miliar liter. Tingkat tersebut sudah setara dengan konsumsi air kemasan sedunia.

Namun hal tersebut tidak terkait dengan operasi perhitungan besar saja, interaksi sederhana terhadap pengguna dan AI juga menimbulkan biaya dan pemakaian air yang cukup besar, menurut penelitian satu pertanyaan tinggal dapat mengonsumsi air yang setara dengan satu sendok teh air. Dan jika sesi pertanyaan tersebut mencapai 20+ pertanyaan, maka akan mengonsumsi air yang setara dengan satu botol setengah liter. Contohnya dapat dilihat pada negara Italia, perkembangan pusat AI sangat banyak sehingga menurut Osservatorio Data Center del Politecnico di Milano ( dalam Italianfacts) pusat-pusat tersebut sudah menggunakan 609 megawatt daya yang mengakibatkan penggunaan air tahunan yang berjumlah sekitar 2 miliar liter per tahun. Oleh karena itu situasi tersebut sangat berbahaya bagi kehidupan manusia maupun makhluk hidup lainnya, jadi perlu dirancang solusi yang bisa menangani masalah tersebut.

Salah satu solusi yang sudah diterapkan oleh beberapa perusahaan yaitu melakukan pendinginan loop tertutup dan melakukan pendaur ulang, AI sendiri membantu mengoptimalkan manajemen air supaya tidak terpakai banyak. Namun karena pengembangan pusat AI tersebut masih diprioritaskan, upaya-upaya tersebut sama sekali tidak membantu menurut penelitian yang dilakukan oleh peneliti Universitas Airlangga (2026) konsumsi air tersebut akan tetap meningkat pada tahun 2030. Dari sini dapat disimpulkan bahwa langkah yang lebih tegas dan terencana supaya tercapai sebuah keseimbangan antara kemajuan teknologi dan pelestarian lingkungan.

Pemerintah sekarang lebih mementingkan pembangunan pusat data AI. Meskipun kemajuan teknologi itu penting, tetap harus diperhatikan karena hal tersebut memakai sumber daya manusia yang banyak sehingga mencemari dan mengurangi sumber daya air yang tersedia, sebaiknya pemerintah membatasi pembangunan pusat data AI dan perusahaan juga sebaiknya membuat sesuatu yang bisa membuat air yang digunakan dapat digunakan lagi, contohnya adalah dengan memasukkan aspek-aspek seperti pemurnian air ke dalam pengolahan air limbah.