Ngarsopuro Night Market: Ruang Hangat di Tengah Malam Solo

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Artika Diah Utami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kerajinan tangan, karya seni, pakaian batik khas Solo, produk UMKM lokal, serta jajanan tradisional berjejer rapi di sepanjang Jalan Diponegoro setiap akhir pekan. Lampu- lampu hias menggantung di atas jalan, berpadu dengan alunan musik dan tawa pengunjung yang menikmati malam di Night Market ngarsopuro. Setiap Jumat dan Sabtu malam, Kawasan ini menjadi ruang public yang hidup, tempat warga dan wisatawan melebur dalam suasana yang hangat dan penuh kehidupan kha Kota Solo.
Malam minggu itu udara Solo terasa lembut seiring langkah para pengunjung yang mulai memadati area. Sekitar pukul enam sore, suasana Kawasan Ngarsopuro perlahan berubah menjadi pusat keramaian. Puluhan tenant berjajar di kanan kiri jalan, menawarkan aneka kulinar dan produk kreatif buatan tangan. Aroma makanan tradisional menyeruak di udara, sementara suara music dari pengeras kecil milik para pengamen jalanan berpadu dengan tepuk tangan penonton yang sedang menyaksikan pertunjukan sulap sederhana di tengan jalan.
“Ini pertama kalinya saya datang ke sini, dan rasanya menyenangan,” ujar Alvina (20), mahasiswa asal Semarang yang sedang menempuh kuliah di Solo. “Saya suka karena suasananya Santai tapi ramai, banyak hal menarik yang bisa dilihat dan dinikmati tanpa terasa terburu-buru.”
Alvina datang bersama dua temannya untuk menghabiskan malam akhir pekan setelah lelah menjalani kegiatan kampus. Hari sebelumnya, ia baru saja menjalani kecelakaan ringan Ketika ditabrak motor saat hendak pulang dari kampus. Beberapa luka di kakinya nashi terasa perih, namunhal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk menikmati malam. “Tadinya saya mau istirahat di kos saja, tapi teman saya ngajak ke sini. Begitu sampai, suasananya bikin lupa rasa sakit,” ujarnya sambil tersenyum kecil. “Yang bikin saya betah. orang-orangnya ramah. Waktu saya beli minuman, pedagangnya malah sempat ngajak ngobrol tentang asal saya. Jadi terasa akrab meski baru pertama kali datang,” tambahnya.
Kawasan Ngarsopuro mulai dijadikan Night Market sejak tahun 2009 sebagai upaya Pemerintah Kota Surakarta membuka ruang ekonomi kreatif bagi masyarakat sekaligus menghadirkan hiburan malam yang ramah bagi keluarga. Kegiatan ini berlangsung rutin setiap
Jumat dan Sabtu malam, mulai pukul 18.00 hingga 22.00 WIB. Berdasarkan data dari Dinas Koperasi dan UMKM Surakarta, terdapat sekitar 40 hingga 50 tenant yang berpartisipasi setiap minggunya. Mereka menjajakan berbagai produk seperti kerajinan tangan, aksesoris, makanan ringan, hingga minuman tradisional. Rata-rata Kawasan ini dikunjungi oleh 1.000 - 1.500 orang setiap malam, baik warga lokal maupun wisatawan luar kota.
Di tengah keramaian itu, tampak seorang ibu berusia lanjut berjalan pelan sambil membawa kantng belanja. Ia adalah Bu Wati (58) warga asli Banjarsari yang sudah menjadi pengunjung setia Ngarsopuro sejak beberapa tahun lalu. “Saya hampir tiap minggu ke sini,” ujarnya sambil ketawa kecil. “Bukan buat belanja banyak, tapi buat jalan-jalan dan lihat suasana. Kadang ketemu teman lama, kadang cuma duduk sambil makan jagung bakar.” Menurutnya Ngarsopuro bukan hanya tempat jual beli, melainkan tempat warga Solo bersosialisasi dan menikmati malam. “Anak muda nongkrong, orang tua jalan santai. Semuanya campur jadi satu, tapi tetap aman dan nyaman,” tambahnya dengan senyum ramah.
Suasana malam semakin meriah ketika seorang pesulap local mulai menarik perhatian pengunjung dengan trik sederhana menggunakan kartu dan bola karet. Anak-anak berkerumun di depan, bertepuk tangan setiap kali trik berhasil dilakukan. Musik akustik dari ujung jalan menambah kehangatan malam itu, membuat suasana terasa akrab dan menyenangkan. Di beberapa titik, pengunjung tampak duduk di kursi-kursi sederhana yang disediakan, menikmati makanan sambil berbincag santai . Ngarsopuro benar-benar menjadi tempat di mana hiburan, budaya, dan interaksi sosial berpadu dengan alami.
Alvina yang duduk bersama teman-temannya tampak menikmati setiap momen. “Buat saya, temoat ini cocok banget buat melepas stres. Ada hiburan, makanan, dan suasananya aman. Rasanya kayak ngerasa diterima meski bukan orang asli Solo,” katanya. Ia berharap tempat semacam ini bisa terus dijaga dan dikembangkan agar menjadi ruang terbuka yang bisa dinikmati siapa pun.
Menjelang pukul sepuluh malam, Sebagian tenant mulai merapikan dagangannya. Namun, suasana belum sepenuhnya surut. Beberapa pengunjung masih duduk di pinggir jalan menikmati music terakhir sebelum malam benar-benar usai. Bu Wati yang Bersiap pulang sempat menoleh kea rah lampu-lampu yang masih menyala. “Pokokmya enak aja ke sini, suasananya bikin tenang. Rasanya sayang kalau malam minggu di rumah terus,” ujarnya sebelum melangkah pergi.
Bagi banyak orang seperti Alvina dan Bu Wati, Night Market Ngarsopuro bukan hanya tempat hiburan, tetapi juga simbol kebersamaan warga Solo yang tetap menjaga kehangatan di tengah hiruk pikuk kota. Di bawah cahaya lampu dan lantunan musik malam, pasar ini menjadi ruang sederhana yang penuh cerita, di mana tawa dan keramahan menjadi warna utama setiap akhir pekan di jantung Kota Solo.
