Konten dari Pengguna

Gatsu Surakarta: Ketika Jalanan Menjadi Galeri Hidup Kota

Artika Dian Faizah

Artika Dian Faizah

Saya Artika Dian Faizah, mahasiswi Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan penulisan media. Aktif mengikuti perkembangan berita dan senang membagikan perspektif melalui tulisan.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Artika Dian Faizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana malam di koridor Jalan Gatot Subroto (Gatsu), Solo, pada Jumat (5/12/2025). (Dok. Artika Dian Faizah)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana malam di koridor Jalan Gatot Subroto (Gatsu), Solo, pada Jumat (5/12/2025). (Dok. Artika Dian Faizah)

Aroma lembap dan dinginnya angin malam di Gatsu Surakarta terasa nyaman. Hujan baru saja reda ketika malam itu, Jumat, 5 Desember 2025, saya dan teman saya menjejakkan kaki menelusuri sepanjang Jalan Gatot Subroto, Surakarta. Sekitar pukul delapan malam, waktu yang biasanya jalanan sudah cukup ramai oleh pedagang dan pengunjung, tetapi suasana malam itu masih terasa sedikit lengang. Namun, cahaya lampu di sepanjang jalan serta spot-spot artistik yang ada tetap menghadirkan suasana yang sempurna untuk tujuan kami malam itu yaitu, berburu spot foto untuk fotografi jalanan.

Menelusuri Koridor Gatsu Surakarta

Jalan Gatot Subroto, atau yang akrab disebut dengan Gatsu, bukan hanya sekadar jalanan kota biasa. Setiap Jumat dan Sabtu malam, kawasan ini menjelma menjadi ruang publik terbuka, tempat bagi penduduk setempat dan orang dari luar Kota Solo untuk berkumpul dan berinteraksi. Terlebih bagi pecinta street photography, Gatsu adalah tempat yang penuh cerita dan penuh dengan spot menarik untuk diabadikan. Kami memulai malam dengan melakukan survei, menyusuri jalan hingga ke ujung. Mengamati setiap sudut, melihat lapak-lapak yang baru mulai menyiapkan dagangannya. Dari sisi lain, terdengar alunan musik dari jauh. Bangunan-bangunan tua dengan mural yang menghiasi dinding turut memperkaya tampilan malam itu. Pedagang kaki lima dan pengunjung yang datang silih berganti perlahan memenuhi suasana malam Kota Solo di sepanjang Jalan Gatot Subroto. Semakin malam, suasana Gatsu semakin hidup. Live music yang mengisi malam mengundang orang-orang berkumpul di pinggir jalan. Ada yang berdiri, ada pula yang duduk sambil menikmati alunan musik. Banyak pengunjung datang, baik bersama keluarga, teman, pasangan, atau bahkan sendiri untuk sekadar menikmati suasana malam. Musik yang mengalun, riuh pengunjung, dan kamera saya yang mulai menangkap momen demi momen secara spontan, menyimpan suasana yang orisinal dengan segala keberagamannya. “Aku ke sini bareng teman. Hampir tiap minggu ke sini soalnya emang selalu ramai dan cocok buat nongkrong,” ujar Della (21), seorang pengunjung asal Solo. “Di sini sih ada macam-macam, ada musik, jajanan, orang jualan pernak-pernik juga ada. Tinggal jalan aja, kadang nggak sadar kalau udah muter-muter lama,” lanjutnya. Di sepanjang jalan, lapak-lapak berjejeran menjual berbagai jenis barang, mulai dari kerajinan tangan, lukisan, pernak-pernik seni, barang antik, hingga action figure. Ada juga photobox dengan konsep unik yang dibuka untuk tempat pengunjung mengabadikan momen kebersamaan mereka di sana. Rasanya, setiap kali datang ke Gatsu, selalu ada hal baru yang bisa ditemukan.

Momen Erick Estrada di Gatsu Surakarta

Salah satu hal tak terduga yang terjadi malam itu adalah ketika saya kebetulan bertemu dengan seorang teman. Peristiwa ini adalah hal yang lumrah terjadi di tengah keramaian Gatsu. Kami saling bertukar sapa, lalu dia meminta bantuan untuk memotret. "Ada artis," katanya. Saat itu saya baru menyadari bahwa Erick Estrada datang bersama keluarganya di sana. Ia terlihat akrab tanpa ada jarak, melayani permintaan foto pengunjung, bahkan ikut meramaikan suasana malam itu. Itu adalah pemandangan yang menarik dan jarang ditemui, ketika seorang tokoh publik hadir tanpa batas di tengah keramaian kota.

Aktor Erick Estrada saat berinteraksi dengan pengunjung di kawasan Gatsu, Solo, Jumat (5/12/2025). (Dok. Artika Dian Faizah)

Tidak jauh dari lokasi itu, kami terus melangkah dan mendengar suara musik rock yang menggema dari sisi lain Gatsu. Seorang kelompok komunitas rock sedang memainkan musik sambil menggalang dana untuk korban bencana di Sumatra. Penampilan mereka yang unik, nyentrik, dan penuh energi menarik perhatian banyak orang. Beberapa dari mereka sudah tidak lagi muda, tapi semangat mereka terhadap musik tetap terasa. Mereka bernyanyi, menyalurkan hobi, dan juga menyampaikan niat yang baik untuk saling membantu. Suasana yang hangat pun tercipta di malam itu. Di tengah keramaian tersebut, ada momen-momen lain yang juga berkesan. Seperti yang saya temui di malam itu, di mana terdapat seorang pengamen biola tunanetra memainkan musik dengan indah. Meskipun memiliki keterbatasan, ia justru menunjukkan bakat yang luar biasa. Di sudut lain, terlihat badut boneka di pinggir jalan, seorang pemulung yang lewat, petugas kebersihan yang tetap menjalankan tugasnya, serta anak-anak muda yang menikmati malam di tepi jalan. Gatsu menjadi potret Kota Solo dalam skala kecil. Di sana, orang-orang datang dengan berbagai tujuan, baik untuk bersantai, mencari nafkah, menyalurkan hobi, atau sekadar menikmati waktu. Semua bertemu dalam satu ruang yang sama tanpa batas. Bagi saya, Gatsu Surakarta adalah sebuah galeri hidup. Tempat di mana setiap langkah membawa cerita, setiap sudut menyimpan momen, dan setiap kunjungan memberi pengalaman yang berbeda. Gatsu tetap hidup sebagai denyut malam Kota Solo yang hangat dan penuh warna. Tempat ini menjadi destinasi wajib bagi teman-teman yang berkunjung ke Kota Solo.