Apakah TBC Bisa Sembuh? Ini Penjelasannya

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tuberkulosis atau TBC merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, meski bisa juga menyebar ke organ lain seperti tulang, ginjal, bahkan otak.
Di Indonesia, TBC masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius. Lalu, apakah TBC bisa sembuh total? Simak jawaban lengkap dan informasi lain seputar TBC dalam artikel ini.
Apakah TBC Bisa Sembuh?
Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, TBC termasuk golongan penyakit yang bisa disembuhkan sepenuhnya asalkan pasien menjalani pengobatan secara rutin dan sesuai anjuran dokter.
Pengobatan TBC umumnya menggunakan antibiotik dalam jangka waktu panjang, yaitu 6 hingga 12 bulan, tergantung pada tingkat keparahan dan jenis TBC-nya.
Menurut Kementerian Kesehatan RI, tingkat keberhasilan pengobatan TBC di Indonesia juga tergolong tinggi jika pengobatan dilakukan secara lengkap dan konsisten.
Baca Juga: Apakah Mata Minus Bisa Sembuh? Ini Penjelasannya
Cara TBC Menyerang Tubuh
CDC menerangkan bahwa bakteri penyebab TBC bekerja menyerang manusia dengan cara menyebar melalui udara saat penderita batuk, bersin, atau berbicara.
Ketika seseorang menghirup udara yang mengandung bakteri tersebut, infeksi dapat terjadi, terutama jika daya tahan tubuh lemah. Infeksi TBC sendiri terbagi menjadi dua jenis:
TBC Laten: Bakteri sudah masuk ke tubuh, tetapi belum menimbulkan gejala. Orang dengan TBC laten tak menularkan penyakit.
TBC Aktif: Bakteri berkembang biak dan menyebabkan gejala seperti batuk berdahak lebih dari dua minggu, demam, keringat malam, dan penurunan berat badan drastis. TBC aktif dapat menular ke orang lain.
Jenis Pengobatan TBC
Merujuk informasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pengobatan TBC terbagi menjadi dua fase, di antaranya:
1. Fase Intensif (2 Bulan Pertama)
Pasien harus minum kombinasi antibiotik setiap hari, seperti isoniazid, rifampisin, pyrazinamid, dan ethambutol. Tujuannya untuk membunuh sebanyak mungkin bakteri aktif.
2. Fase Lanjutan (4–10 Bulan Berikutnya)
Fokus pada pembersihan sisa bakteri dan mencegah kekambuhan. Jika pasien lalai minum obat, bakteri bisa menjadi kebal dan menyebabkan TBC resistan obat (MDR-TB) yang jauh lebih sulit diobati.
Namun, penting untuk diingat bahwa kedua jenis pengobatan di atas akan berhasil jika didukung dengan beberapa faktor berikut:
Kepatuhan pasien dalam minum obat sesuai jadwal.
Kondisi imun tubuh, terutama jika pasien memiliki HIV/AIDS.
Akses terhadap layanan kesehatan, termasuk pendampingan dari petugas kesehatan.
Gizi yang cukup, karena nutrisi membantu tubuh melawan infeksi.
Tidak menghentikan pengobatan di tengah jalan, meski gejala sudah membaik.
(NDA)
